Percaya dengan mulut politisi? Itu sama saja seperti menangkap angin. Dan, angin juga bermacam-macam ragamnya. Ada angin sepoi-sepoi, angin lesus, angin topan, angin Bahorok, termasuk kentut. iya, kan? Lalu, dengan manuver Prabowo mencari dan menggalang donasi, apakah serius? Pertanyaannya adalah, apakah seorang Prabowo sudah betul-betul “kere” untuk mendanai Pilpres?

Itulah politisi. Memahamin politisi bukan apa yang disampaikan, namun musti memahami apa tujuannya. Ya, apa, ya?







Prabowo yang hingga detik ini belum juga dipinang secara nyata dan sungguh sungguh oleh PKS atau PAN, tentu beliau melewati hari-hari dengan gundah gulana. Gelisah bagaikan perjaka menanti jawaban seorang wanita idaman. Nah, di sinilah situasi Prabowo seperti itu. “Klesikan ora iso turu,” bahasa Jawane gitu.

Maka, untuk mensiasati situasi bahwa akan ada respon dari para pendukungnya, sekaligus test the water, team yang ada di belakangnya merumuskan dengan seksama agar melakukan pidato “kenegaraan” dengan membuka rekening donasi.

Tentu ini butuh proses menjelang pendaftaran Pilpres Agustus mendatang.Atau bisa jadi ini adalah trik bahwa sebenernya duit itu sudah ada, tinggal mengumumkan agar PKS dan PAN segera “Nyengkuyung” pasrah bongkokan untuk mendaulat Prabowo agar menjadi Capres yang sah.

Jika ada yang menduga Prabowo sudah kehabisan modal, tentu dugaan itu salah besar. Sebesar anu ketika bertelanjang dada. Kenapa? Lha, wong kudanya saja konon seharga 2 M, itupun bukan sebutirr, belum asset yang lain. Apalagi sebagai anak Menteri Keuangan selama masa Orde Baru, apakah percaya ujug-ujug beliau berwajah memelas minta sumbangan? Eehh, donasi?

Secara jujur kacang ijo saya gak percaya. Sumpah!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.