Kolom Lyana Lukito: SEKOLAH KNOWING VS SEKOLAH BEING

Cerita Seorang Teman

0
768

Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat pimpinan baru dari perusahaan induknya. Ia akan menggantikan pimpinan lama yang sudah waktunya kembali ke negaranya. Sebagai partner, saya ditugaskan untuk mendampinginya selama ia di Indonesia.

Saya memperkenalkan kepadanya relasi, dan melihat objek wisata kota Jakarta dan Bandung.




Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross. Berbeda dengan saya dan orang-orang Jakarta lainnya, dengan mudah menyeberang di mana saja sesukanya. Teman saya ini tetap tidak terpengaruh oleh situasi. Dia terus mencari zebra cross ataupun jembatan penyeberangan, setiap kali akan menyeberang. Padahal, di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan sarana seperti itu.

Yang lebih memalukan, meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang. Teman saya geleng-geleng kepala mengetahui perilaku masyarakat kita. Akhirnya saya coba menanyakan pandangannya mengenai fenomena menyeberang jalan.




Saya bertanya, mengapa orang-orang di negara ini menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana untukl menyeberang jalan. Sementara kenapa dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan sarana tersebut.

Pelan-pelan dia menjawab pertanyaan saya: “It’s all happns because of the education system.” Saya kaget juga mendengar jawabannya. Apa hubungannya menyeberang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan?

Dia melanjutkan penjelasannya: “Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan. Yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk ‘KNOWING’ atau sekedar tahu saja. Sedangkan yang ke dua, sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi mahluk BEING.”

Apa maksudnya?

Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat siswa mau melakukan apa yang dketahui sebagai bagian dari kehidupannya. Anak-anak tumbuh hanya menjadi makhluk knowing, hanya sekedar mengetahui bahwa:

– Zebra cross adalah tempat menyeberang,
– Tempat sampah adalah untuk menaruh sampah.

Tapi “mereka tetap akan menyeberang dan membuang sampah secara sembarangan”. Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya stress, tertekan dan akhirnya mogok sekolah. Segala macam diajarkan dan banyak diujikan, tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian. Ujiannya pun hanya sekedar tahu, knowing.

“Di negara kami, sistem pendidikan benar-benar diarahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya tahu apa yang benar, tetapi juga mau melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya,” kata teman itu menjelaskan.

Selanjutnya, dia menuturkan di negara mereka anak-anak hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok: Basic Science, Basic Art, dan Social. Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus serta dibandingkan dengan kejadian nyata di seputar kehidupan mereka. Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU menerapkan ilmu yang diketahui dalam keseharian hidupnya.




Anak-anak ini juga tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu. Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk ‘BEING’, yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar. Betapa sekolah begitu memegang peran yang sanga penting bagi pembentukan perilaku dan mental anak-anak bangsa. Tidak hanya sekadar berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah kepada para anak bangsa.

Karakter, perilaku, dan kejujuran adalah landasan untuk membangun anak didik yang lebih beradab dalam berperilaku. Bukan sekedar angka-angka akademik  seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah ataupun Indeks Prestasi (IPK).

Kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian, karena setiap anak terlahir pintar dan dan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak perlu terlalu risau jika seorang anak belum bisa Calistung (baca tulis hitung) saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD sekalipun.

Tapi, mestinya harus peduli jika seorang anak tidak jujur dan beretika buruk. Pendidikan itu bukan persiapan untuk hidup, karena pendidikan adalah kehidupan, sepanjang hidup.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.