Karakter mental orang Indonesia sangat berbeda dengan karakter mental orang Jepang.




Orang Indonesia tidak bisa diajak “to the point”, sementara orang Jepang langsung “to the point” ketika menjelaskan sesuatu. Mungkin ini juga yang membuat mereka bisa menghargai waktu, sementara orang Indonesia waktu bukanlah sesuatu yang fundamental dalam kesadarannya.

Bagi saya ini adalah problem serius, karena secara natural kita bergerak di atas ruang dan waktu yang dinamis dan terus berubah.

Jika kita tidak pandai berselancar di atas ruang dan waktu, maka kita akan terjebak dalam dinamika hidup yang terus sama dan berulang-ulang. Perhatikan saja bagaimana dinamika kebangsaan Indonesia masih berutat di seputar agama, dan kebenciannya pada PKI yang sudah menjadi “Hantu Gentayangan”. Sementara, di lain pihak, soal-soal kemanusiaan dan keadilan masih terjebak dalam kotak pandora kesadaran manusia Indonesia.

Jadi tidak perlu heran ketika Keadilan dan rasa Kemanusiaan selalu terluka oleh praktek-praktek tutup “borok” akibat tidak punya mental “to the point”.

Inilah yang selalu menghabiskan energi nasional. Masalah utama dibiarkan terus mengambang, sementara masalah remeh temeh menjadi perbincangan publik dengan gayanya yang selalu bersemangat.

#Itusaja!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.