Kolom Arif A. Aji : ISLAM DAN KULTUR ARAB

1
282

Tidak ada yang bisa mengingkari, ada hubungan emosional antara Islam dan Arab, sebagai tempat lahirnya. Dan semua institusi di dalamnya sudah bisa dipastikan adalah kultur dari bangsa Arab. Tapi, ketika Islam diinvansi ke bangsa lain, yang di luar Bangsa Arab, bukan sebagai kulturalnya, melainkan ditawarkan sebagai ideologinya.

Karena, pada dasarnya, Islam adalah ideologi yang lebih untuk membangkitkan nilai kemanusiaan.




Sama seperti agama-agama Samawi lainnya, yaitu sebuah ideologi modern yang mengedepankan olah pemikiran dan terlepas dari jerat kebodohan atas nama doktrinasi keyakinan tanpa tahu kebenarannya. Sangat naif dan bodoh jika ada Islam yang melupakan berpikir dan hanya modal keyakinan oleh material dari Arab. Itu bukan Islam sebagai ideologi dasar kemanusiaan, tapi upaya perubahan kultur asli menjadi kultur Arab. Bisa dipastikan ini tidak akan mungkin terwujudkan, karena berbedanya segala aspek di dalamnya.

Apa yang bisa dikatakan, ketika ada kerusakan selama ini yang kebetulan mereka orang Islam, bahkan Islam sebagai alasan?

Saya bisa pastikan mereka tidak pernah memahami arti Islam ideologi. Mereka sudah tak lagi berpikir, hanya melakukan apapun saja, demi pengabdian bodoh pada materi. Kerusuhan, kerusakan, dan kehancuran yang mereka ciptakan bukanlah Islam. Tapi kultur dari Arab yang tertulis dalam material Islamnya.




Saat keyakinan tentang Islam oleh materialnya menghentikan olah berpikir, maka yang ada hanyalah keyakinan tentang maha benar kultur Arab dan melupakan jati dirinya. Bisa dipastikan, ini akan meninggalkan nilai kemanusiaannya yang mana Islam dan semua ideologi atau agama yang berperan melestarikan bahkan menyempurnakannya.

Jika ada yang bertanya tentang bom, atau propaganda yang mengusik independensi undang-undang dan konstitusi negara, apakah itu Islam? Jawabnya, bukan. Itu semua makar, penghianatan, pemberontakan para manusia yang memaksakan kultur lain untuk merubah jati diri bangsa ini. Para manusia yang membawa keyakinan dan menutup dimensi kemanusiaannya, berlabel agama.

Tentang Tuhan? Mana tahu mereka, berpikirpun tidak. Karena mereka sebatas agama keyakinan, bukan pengetahuan. Makanya berjubah keemasan segala kebodohan.

FOTO HEADER: Vicky Shu.



1 COMMENT

  1. Tulisan bagus, dan bermanfaat.
    Ada kekuatan (power) dalam culture, juga ada kekuatan dalam agama. Agama pada mulanya adalah pengembangan kultur baru yang ada dalam satu masyarakat atau negeri tertentu. Kalau kedua kekuatan ini dipertentangkan (kekuatan kultur dan kekuatan agama) karena perluasan agama ke daerah lain yang berlainan kulturnya, muncul ‘cognitive dissonance’ dalam kepala penganutnya. Ini terjadi kalau agama import dipertentangkan dengan culture lokal atau kultur satu negeri.

    Di Indonesia ada agama import yang disesuaikan dengan culture setempat. Ini bikin keharmonisan. Agama kristen Karo pada mulanya bertendensi melawan kultur Karo pada era penjajahan, tetapi sekarang sudah berangsur disesuaikan dan muncul keharmonisan, tidak menimbulkan ‘cognitive dissonance’ dalam kepala orang-orang Karo penganutnya.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.