Menjelang Hari H hajatan pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia atmosfir politik nasional diwarnai adegan lucu, tidak kalah seru dengan stand up comedi. Di penghujung masa kampanye, di Medan, mantan panglima (Gatot N) menyerukan agar warga Sumatera Utara memilih calon gubernur putra daerah.

“Jangan memilih calon yang didatangkan dari luar,” serunya.

Seorang mantan jenderal penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) demi syahwat politik tiba-tiba melupakan nilai-nilai nasionalisme. Bertandang ke Sumatera Utara berkampanye dengan tajuk putra daerah, memilukan dan justru merendahkan arti berkebangsaan.

Di Pulau Jawa mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sibuk membuat pers release mengungkapkan perasaan pribadinya bahwa pelaksanaan Pilkada kali ini ditenggarai akan diwarnai kecurangan, sehingga beliau meminta pemerintah, Polri dan BIN bersikap netral. SBY terkenang akan pengalaman kekalahan putranya Agus H Yudhoyono dalam kontestasi Pilgub DKI. Menurut SBY, kekalahan itu disebabkan oleh adanya kecurangan. Jadi, untuk kali ini, beliau sangat berharap agar calon kepala daerah yang diusung Partai Demokrat jangan dicurangi lagi.

Di samping kedua adegan di atas, hiruk pikuk jagat politik nasional kemudian diwarnai oleh test the water Prabowo Subianto meminta masyarakat ber-donasi menyumbang dana pencalonan dirinya jadi Presiden. Masyarakat diminta mengurungkan niat makan mie instan atau merokok, agar bisa uang itu didonasikan. Langkah Prabowo Subianto membuka kesempatan bagi masyarakat dengan alasan cost politics itu mahal dan perlu dana banyak. Langkah ini diluncurkan seiring beliau masih sibuk mengkritisi pembangunan kereta di Palembang.

Inilah potret kontestasi para penantang yang akan menawarnai atmosfir politik nasional menjelang Pemilihan Presiden 2019 yang akan datang.

Ketiganya mempertontonkan adegan politik yang cenderung hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Demi menyalurkan libido politiknya masih larut dalam sikap dan tindakan tidak menelurkan edukasi politik bagi publik.

Susilo Bambang Yudhoyono sebagai mantan presiden tahu persis bagaimana sistem pemerintahan. Beliau pernah 10 sebagai nakhoda pemerintahan. Kritikannya atas dugaan atau kekuatiran dirinya sendiri atas ketidaknetralan penyelenggara Pilkada dan pemerintah bukan kah tak ubahnya bagaikan kekuatiran terhadap bayang-bayang apa yang pernah terjadi dalam era kepemimpinannya?




Menyalahkan pemerintah dan penyelenggara Pilkada seperti ini seakan membenarkan bahwa siapapun yang memerintah akan melakukan hal buruk, tidak netral dan melakukan kecurangan. Mantan pimpinan pemerintah mengkambinghitamkan pemerintah yang sedang berkuasa justru lelucon bagi masyarakat. Bukankah dalam setiap kontestasi Pemilu, pemilihan apa pun itu namanya, pilihan masyarakat lah yang akan lebih menentukan.

Daripada hanya gaduh saling menyalahkan diantara sesama elit politik lebih baik seandainya mereka ini menawarkan apa yang baik hendak mereka lakukan buat masyarakat.

Para elit politik jangan hanya sibuk mencari-cari kesalahan dan membesar-besarkan kesalahan diantara mereka sendiri, yang justru akan membuka borok mereka sendiri. Sibuk saling menyerang diantara elit politik akhirnya tidak ada yang bisa ditawarkan kepada masyarakat apa itu program kerja yang akan bermanfaat bagi masyarakat.

Lucunya nih, apa yang dilakukan SBY justru dianggap masyarakat sebagai upaya dirinya sendiri mengulang sejarah sukses masa lalunya yang mampu memposisikan dirinya sebagai orang teraniaya. Ingat atas ucapan almarhum Taufik Kiemas yang menyebut SBY seperti anak taman kanak-kanak.

Dengan lagu kesayangannya “Jangan ada dusta diantara kita” kemudian SBY mampu memutar arah angin memperoleh simpati publik terhadap dirinya, dari rasa iba dan prihatin masyarakat kemudian mendukung dan memilihnya jadi Presiden. Drama yang sama, dimana anaknya Agus dan para calon kepala daerah yang diusung partai Demokrat sekarang di publikasikan seakan menjadi korban penganiayaan, dicurangi dan dikadali. Publisitas ini dilakukan untuk memperoleh rasa simpati publik?

Ah, usang, lagi pula SBY kan mantan orang penting negara ini, masih memiliki kekuatan finansial dan masih memiliki jaringan kekuatan, masa sih masyarakat masih mau menganggap SBY dan barisannya korban teraniaya. Lucu lah… !!! SBY tidak mungkin teraniaya, apalagi dikadali, dia masih memiliki modal kuat. Justru yang menarik dibicarakan strategi Prabowo yang ingin meraup donasi publik. Apa ia Prabowo lagi kekurangan dana untuk memutar mesin politiknya?

Ah Pak Prabowo barangkali lagi bercanda kalau hanya karena pundi-pundinya menipis kemudian membuka kotak amal atau donasi. Jangan berpikir setipis “sangge-sangge”. Hal ini dilakukan Prabowo hanya sekedar Test The Water, untuk mengetahui sebesar apa ombak masyarakat benar-benar memberi dukungan baginya.

Pengakuan dukungan masyarakat sangat dibutuhkan Prabowo saat ini karena dukungan partai politik yang selama ini bersamanya sudah bagaikan angin sorga, dekat di mata jauh di hati. PKS yang selama ini secara kasat mata nampak mendukung habis Prabowo sudah mulai zig zag menentukan sikap. Amien Rais memang masih setia menemani Prabowo sowan ke pengasingan Rizieq, tapi jangan lupa Prabowo itu tau persis siapa dan bagaimana karakter Amien Rais. Sejarah perjalanan politik kedua punggawa tua ini menunjukkan Amien Rais itu lebih licin dari belut bermanuver dalam kebijakan politik.

Lalu apa pula yang perlu dirisaukan dengan langkah Gatot N dalam kunjungannya ke Sumatera Utara mendukung salah satu Paslon Gubernur Sumut dan bela-belain bilang ke masyarakat jangan memilih gubernur yang bukan putra daerah?

Meminjam judul sinetron yang sedang hits di televisi swasta, Gatot N adalah “ORANG KE TIGA” dalam skenario kontestasi Pilpres 2019 dalam langkah Prabowo dan SBY. Tadinya dalam prediksi Jokowi akan berhadap-hadapan dengan Prabowo atau siapa pun yang akan diusung oleh SBY. Namun, kemunculan Gatot dan pengakuannya yang menyatakan siap maju bertarung Pilpres sangat merepotkan dan menambah pekerjaaan rumah bagi Prabowo Subianto. Ini mesti diperhitungkan oleh SBY. Jika memungkinkan, justru akan menjadi besutan Partai Demokrat.

Semua itu sah-sah saja jika terjadi, namun betapa naif dan merisaukan, jika sekelas Gatot N masih ikut terjebak politik identitas, berbau unsur SARA. Ucapan Gatot di Medan yang mengatakan sendiri jangan memilih calon gubernur berasal dari luar Sumatera Utara justru menjatuhkan kelas Gatot sendiri. Gatot telah terjerumus ke dalam kubangan issue tak bermutu yang selama ini dipasarkan kubu pasangan Edy dan Ijek.

Calon presiden potensial seperti Gatot N tidak selayaknya berbicara tentang putra asli daerah atau tidak !!! Ini kekonyolan besar bagi seorang calon presiden yang jika terpilih justru diharapkan mampu menjaga nilai-nilai nasionalisme. Sangat disayangkan para elit politik ini sedang masuk ke dalam episode melodrama dan cenderung tak ubahnya bagaikan stand up comedi.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.