Pada awalnya, Filsafat lewat wilayah Metaphysic menjelaskan secara serampangan bagaimana alam semesta ini bekerja. Itu jauh sebelum science dengan metode observasinya muncul dan diperkenalkan oleh salah satu tokoh utamanya, sebut saja Isaac Newton.

Sebelum Isaac Newton muncul, kita tidak akan pernah mengenal spectrum warna dalam cahaya, karena yang kita saksikan hanya ada satu warna yaitu putih, ternyata tidak sepenuhnya benar.

Lewat eksperimen sederhana dengan menggunakan prisma, Newton menjelaskan lewat bukti bahwa spectrum warna dalam cahaya ada beragam. Inilah awal dari munculnya science modern dalam peradaban manusia. Tanpa itu kita mungkin masih hidup dalam wilayah supernatural atau metaphysical realm.




Belum lagi yang paling ngawur diantara semua itu adalah agama. Bahkan agama sampai saat ini masih menjadi juara bertahan dalam menciptakan masyarakat delusional di hampir seluruh penjuru planet bumi.

Isi kesadaran mereka sejauh ini hanyalah hal-hal yang bersifat illusi. Bahkan hidup di dunia sekalipun masih belum cukup sampai harus menciptakan konsep ada kehidupan lain setelah kematian yang sudah dijanjikan oleh Tuhan mereka. Padahal, faktanya yang disebut hidup adalah ketika kesadaran anda masih bersama anda saat ini. Selama detak jantung anda masih berirama, maka selama itu pula anda layak disebut hidup.

Jadi, memang menjadi manusia tidak gampang di tengah paradox yang mengepung realitas kita. Tapi, ngga perlu resah dan gelisah. Selama pikiran anda bekerja pada wilayah rasional, maka selama itu pula anda bisa membedakan mana warna hitam dan mana warna putih.

Di sinilah science mengajak kita untuk memelihara struktur berpikir rasional. Di luar itu anggap saja tidak eksis sampai bukti datang menghampiri anda.

#Itusaja!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.