“Cukup di Jakardah saja, di daerah lain jangan,” kata seorang teman, yang juga seorang penikmat dan pemerhati dunia perjembleman se Indonesia.

 

Sebenarnya masuk akal juga omongan teman saya ini, tetapi bila melihat orangnya, sih, sepertinya saya mau masuk angin. Ya, cukup jakardah. Politisasi mayat dengan mengeksploitasi agama sebagai senjata untuk meraih kekuasaan, cukup di Pilkada Jakardah saja.

Hasil dari pilkada tersebut, kita tau sendiri seperti apa?

Got buntu, sungai menjadi tercemari, pemimpin sibuk melakukan aksi “kentir” daripada sibuk melayani rakyatnya. Belum lagi jalanan umum yang dipakai sebagai pasar, dan kursi taman yang dipakai sebagai tempat berjualan. Satu kata hasil dari Pilkada SARA terburuk sepanjang sejarah di Jakardah ini, yakni SEMRAWUT.

Marbot yang dulunya sering diumrohkan, kini dananya hilang untuk membeli “lobster” anggota partainya. KJP KJS plus plus, DP 0 sampai kini hilang entah ke mana. Pemimpinya sibuk ke Turki ke Amerika dan negara-negara lainya. Katanya sih untuk studi banding. Woalah, Surabaya saja ada wan, ngapain jauh-jauh ke Eropa?

Sebenarnya sih jadi bertinyi-tinyi dengan pemimpin Jakardah saat ini. “Itu gabener sebuah provinsi atau menteri luar negeri?”

Ahsudalah sak karep-karepmu. Semua ini sudah menjadi ketetapan dariNya. Dan hikmahnya adalah biar kita bisa mengetahui bahwa “Ini lho kualitas pimpinan hasil dari politisasi mayat dan politisasi SARA?” Untungnya strategi ini dipakai pas saat Pilkada Jakardah. Jadi, sekarang, Pak Jokowi bisa mengantisipasi akan hal ini.

Coba bayangin, bila strategi ini tau-tau dimunculkan saat Pilpres 2019 esok lusa. Apa gak kocar-kacir tuh kecebong beserta berudunya?

Kenapa strategi politisasi SARA ini dimunculkan para bandit negara saat di Pilkada? Kan lebih efektif bila dimunculkan saat Pilpres esok lusa? Tentu jawabannya kembali lagi, karena Tuhan masih sangat sayang pada bangsa dan negara kita.

Pilih track record calon pimpinan pilihan kita. Hindari politisasi SARA dan jangan terbuai dengan janji sorga. Karena yang menjanjikan sorga saat di Pilkada, nyatanya juga belum pernah nyampai dan selfie-selfie di sana. Kalau yang nyampai di neraka sih ada? Tuh tanyakan si koper boi Habiburokhman, seorang model ternama majalah, “Flora dan Fauna”.

Salam Jemblem



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.