Kemunculan buaya di beberapa sungai yang ada di Jakarta kemarin, sangat menggegerkan masyarakat sekitar. Bagaimana tidak heboh, lha, wong selama puluhan tahun penampakan buaya di sungai-sungai yang ada di Jakarta tidak pernah ada.

Eh, lhadalah, ujug-ujug makbedunduk bin tiba-tiba saja para buaya itu bermunculan satu per satu.




Ada fenomena apakah ini? Apakah ini pertanda bahwa laki laki di Jakarta sudah menjadi “buaya” semua? Ataukah ini merupakan suatu warning bagi si Upil Ipil yang suka mengobral janji tetapi nihil menepati, khas laki laki “buaya darat”? Ah, semua kemungkinan memang selalu ada?

Karena suatu fenomena alam tidak akan terjadi begitu saja. Selalu ada pesan yang ingin disampaikan bagi manusianya. Mungkin hal yang paling logis untuk menanggapi kemunculan buaya-buaya tersebut adalah kerusakan ekosistem alam.

Bagaimana tidak rusak ekosistemnya? Lha, wong semenjak ditinggal Ahok, banyak sungai di Jakarta sudah tidak terawat dengan baik. Mulai dari sampah sampai limbah ikut mengalir ke dalam sungainya.

Pasukan kebersihan yang dulu sangat aktif menjaga kebersihan lingkungan sungai kini dialihkan perannya untuk menjaga kebersihan nama baik pimpinanya. Akhirnya, sungai-sungai jadi terlantar dan hal ini pun berdampak kepada biota yang ada di dalam sungai. Menurut para buaya, daripada mati keracunan terkena limbah para manusia, mendingan muncul di permukaan untuk melakukan aksi unjuk rasa.

Untung si buaya gak bawa teman-temanya yang berjumlah “7 juta” itu. Kalau sampai laskyar buaya itu ikut demo, maka bakal kocar-kacirlah aparat yang berwenang. Iya kalau laskyar “7 juta” manusia yang demo di Monas kemarin bisa diatasi dengan memberi pop mie dan nasi bungkus. Lha, kalau laskyar “7 juta” buaya, opo yo mau dikasih nasbung plus duit cemban untuk disuruh pulang?

Maka hormatilah Alam, maka Alam pun akan menjaga dan menghormatimu. Seolah olah Alam pun berkata: “Ada mbah dukun, sedang ngobatin pasienya.” Yeeaahh. (Alam adiknya si Veti Vera).

Salam Jemblem




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.