Ucapan ngawur Prabowo bahwa ia akan mengganti Presiden 2019 jika ia menang di Jabar, tak menjadi kenyataan. Prabowo kalah menyakitkan di sana. Pasangan Sudrajat-Syaikhu yang diusung Prabowo, hanya mampu mendatangkan kejutan, namun tidak cukup untuk menang.

Dari hasil beberapa quick count, tak ada satupun yang memenangkan pasangan Asyik. Pasangan Asyik kalah 3% dari pasangan Ridwan Kamil di urutan teratas. Ini menggambarkan bahwa Prabowo yang menginginkan Jabar menjadi basis kekuatannya, masih jauh panggang dari api.




Taktik kejutan yang dirancang jauh-jauh hari oleh Prabowo, ternyata hanya mampu menjungkir-balikan prediksi survei. Target rahasia spektakuler Prabowo untuk menang di Jabar lebih 50%, tak menjadi kenyataan. Jika Prabowo menang lebih 50% di Jabar, maka gaung ganti Presiden akan dikampanyekan langsung oleh Prabowo. Nyatanya, pasangan Asyik hanya mampu meraup 30% suara. Padahal, Parbowo sudah jauh-jauh hari merancang strategi menang di Jabar. Ia sudah mengeluarkan taktik skala penuh bersama Ahmad Heryawan yang sudah 10 tahun berurat-berakar di Jabar.

Target menang 58% di Jabar seperti di Jakarta, tak terulang. Strategi senyap H-10 menjelang pencoblosan, yang telah dirancang hebat oleh Ahmad Heryawan memang mengejutkan publik. Strategi kirim pesan nyasar SMS spam telah disusun sempurna, nyaris tanpa cela secara terstruktur masif. Taktik SMS spam dan menggiring pemilih memang menghasilkan kejutan. Survei yang menempatkan Sudrajat-Syaiku di posisi buncit tiba-tiba muncul mengejutkan nyaris mengungguli Ridwan Kamil. Namun, taktik PKS-nya Ahmad Heryawan itu menjadi blunder.

Guru yang dipecat oleh Yayasannya karena lebih memilih Ridwan Kamil, mendatangkan cibiran bagi PKS-Gerinda. Pemecatan guru yang berbeda pilihan adalah cara-cara meraup kekuasaan tak bermoral. PKS tentu saja dicibir habis karena meniru cara-cara Soeharto yang menggiring para pegawai negeri dan institusi swasta memilih Golkar di masanya.

Tentu saja bagi PKS-Gerinda khususnya Prabowo Jabar begitu strategis. Jabar adalah episentrum pelejit semangat Prabowo melawan Jokowi. Dengan pemilih lebih 30 juta, maka Jabar menjadi barometer dukungan kepada Prabowo.

Itulah sebabnya ketika Prabowo kalah menurut quick count berbagai lembaga survei, Prabowo tak terima. Quick count dukun, ala Gerinda yang memenangkan pasangan Asyik, lebih dipercaya. Survei berbagai lembaga yang salah tentang elektabilitas Sudrajat-Syaikhu yang keliru sebelumnya menjadi dasar argumennya.

Kendatipun Gerinda tidak mengakui kekalahan di Jabar, namun realita Pilkada telah berbicara banyak. Aura Prabowo yang diharapkan berkibar pasca Pilkada tidak terjadi. Gerinda tetap diposisi buncit di bawah PDIP dalam persentase kemenangan Pilkada. Satu-satunya yang melegakan Prabowo adalah kemenangan gotong royongnya bersama partai lain di Sumatera Utara dan suara signifikan 30% di Jabar dan 43 persen di Jateng. Hasil kejutan di Jabar dan di Jateng menjadi modal berharga untuk berlaga di Pilpres 2019.

Berkaca pada Pilkada 2018 ini, baik Jokowi, Prabowo, Rizieq, PDIP, Golkar, Gerinda, PKS dan Demokrat maupun partai lain, tak ada partai yang menang telak. Pun tak ada partai yang kalah telak. Masing-masing ada kemajuan dan ada kemunduran.

Suara PDIP misalnya yang kalah di Sumut tidak mengecewakan amat. Suara Djarot yang di atas 40 persen cukup menjadi modal pada Pemilu legislatif 2019 mendatang. Pada Pileg 2014 PDIP sukses meraih sekitar 20% suara. Jika berkaca di Sumut dan di Jatim minus Jabar, maka ada peningkatan pemilih bagi PDIP.

Sementara Gerinda-PKS walaupun kalah di Jabar dan di Jateng, namun suara mereka cukup signifikan. Demikian juga Demokrat. Walaupun kalah di Jabar, namun menang meyakinkan di Jatim. Itu buktinya bahwa tidak ada yang menang meyakinkan di Pilkada 2018 ini.

Kekalahan di beberapa daerah bagi PDIP juga tidak menggambarkan potensi kekalahan Jokowi. Pada Pemilu 2014 lalu, Jokowilah yang memenangkan PDIP dan bukan PDIP yang memenangkan Jokowi. Ketika sosok yang tampil di Pilkada bukan Jokowi yang tampil, maka calon yang diusung PDIP keok. Hal yang menggembirakan bagi PDIP adalah suara yang kalah itu adalah suara murni. Bukan seperti suara PAN dan Hanura yang menang 80% di Pilkada, tetapi itu suara gotong royong bersama partai lain. Sebagai contoh di Sumut misalnya suara 43% yang mengalir kepada Djarot, murni untuk PDIP berbagi dengan PPP.

Di Pilpres 2019 mendatang, Jokowi akan head to head dengan Prabowo atau kandidat lain. Hal yang mengembirakan bagi Jokowi adalah gerakan politik identitas seperti di DKI tidak terjadi di Jabar dan Jateng. Copy paste Pilkada DKI yang didengungkan Rizieq dari Arab ternyata tidak berlaku di Jabar dan di Jateng. Calon-calon yang didukung oleh Rizieq banyak yang keok.

Bagi Jakowi, ada harapan dukungan lebih bagus ketimbang 2014 di Jabar lewat Ridwan Kamil. Demikian di Jatim lewat Khofifah. Tentu saja di Jateng ada dukungan penuh dari Ganjar. Di DKI, biarpun gubernurnya adalah dari usungan Gerinda-PKS, nama Jokowi masih tetap melekat di hati masyarakt ibu kota.

Bagi oposisi, hasil Pilkada 2018 ini jelas tidak menggembirakan. Bahkan berkat Pilkada ini, ada kecenderungan di internal partai Gerinda, PKS, PAN, Demokrat mengalami perpecahan. Nafsu berat Amin Rais yang maju sebagai Capres bisa menyulitkan Prabowo. Kekalahan Prabowo di Jabar ditambah ucapan ngawurnya tentang Ganti Presiden 2019, jelas akan menambah tarik-ulur dukungan kepadanya. Suara-suara sumbang di kalangan oposisi agar Prabowo tidak maju pada Pilpres 2019 mendatang dipastikan akan semakin kencang.

Dukungan PKS dan PAN kepada Prabowo pasca Pilkada dipastikan akan mengendur. Bukan tidak mungkin akibat saling senggol, Prabowo akan gagal menjadi Capres 2019. Jika demikian, maka ucapan ngawurnya Ganti Presiden 2019 akan terbukti gagal.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.