Kolom Asaaro Lahagu: JK DUKUNG JOKOWI DENGAN EKOR KALAJENGKING

1
434

Jusuf Kalla (JK) sedang menari. Tariannya berekor sengat. Ya, sengat kalajengking berbahaya. Ia menari dengan bertemu SBY. Lalu pura-pura tak bicara apa-apa. Kemarin 3 Juli 2018, ia bertemu Airlangga Hartarto. Lalu ia mengatakan, tak bicara apa-apa.

Tarian bersengat JK dibumbui oleh ucapannya mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.




Bahkan jika Puan menjadi Capres, ia dukung. Siapa saja yang mau menjadi Capres, ia dukung. Bahkan ucapan JK itu masih ditambah bumbu micin, bahwa dia tidak lagi terjun ke dunia politik. Artinya apa?

JK tetap mendukung siapa saja menjadi Capres 2019, termasuk Jokowi. Lalu ia sendiri ingin fokus menimbang cucu-cucunya. Sangat terang, bukan? Tetapi itu bukan JK sebenarnya. 55 tahun JK kenyang dengan dunia politik. Tindak-tanduk politik tingkat tinggi JK ini harus dilihat dalam kacamata politik. Dalam dunia politik, ada prinsip yang dianut. Pagi tahu, sore tempe. Sesederhana itu. Artinya apa yang diucapkan pagi bisa berubah di sore harinya.

Mengapa JK mau bertemu dengan SBY bulan Juni 2018 lalu? Jelas ada udang di balik kerupuk. Beberapa hari setelah pertemuan itu, muncul opsi duet JK-AHY. Saya menduga dengan keras bahwa ada kesepakatan ngambang tak tertulis antara SBY-AHY-JK.

Catur Karo di masa kolonial. Pecatur kiri adalah Pa Kantur Purba Berstagi) yang pernah bermin remise dengan Prof. Dr. Max Euwe Belanda) yang nantinya menjadi Juara Dunia catur sebelum Boris Spasky. Max Euwe juga kemudian menjadi Presiden FIDE.

Isinya pertemuan ngambang itu berbunyi: Jika SBY-AHY dapat menarik Golkar ke koalisi kerakyatan atau partai lain, maka JK mau maju jadi Capres. Namun, jika SBY gagal menggoda Golkar, maka AHY siap-siap gigit jari. Jadi, opsi JK-AHY sangat tergantung pada kelihaian SBY meramu koalisi kerakyatan.

JK tentu tidak kehilangan apa-apa. Jika opsi JK-AHY gagal, ia mendukung Jokowi. Inilah ekor kalajengking JK. Ia siap mendukung Jokowi, namun di sisi lain, ia siap menyengat Jokowi dengan menjadi lawannya, jika maunya tak dituruti Jokowi.

Pertemuannya dengan Airlangga Hartarto adalah manufer bersengat JK. Saya menduga keras ada pesan bersengat JK kepada Airlangga dalam pertemuan itu. Pesannya berbunyi: Kita tekan Jokowi agar memilih anda sebagai kader Golkar untuk Cawapresnya Jokowi. Jika tidak, siap-siap alihkan dukungan Golkar kepada SBY.

JK dengan jam terbang politik tinggi, tentu paham betul posisi Jokowi, SBY, Prabowo, Amin Rais dan dirinya sendiri. Saat JK meneropong SBY, sang mantan presiden ini sedang dalam posisi sulit. Jika SBY bergabung dengan koalisi Jokowi tanpa iming-iming AHY sebaga Cawapres, itu merendahkan matabatnya sebagai mantan Presiden.




Jika SBY bergabung dengan Prabowo, ini malah semakin sulit. Prabowo, Amin Rais telah keburu berkonsultasi dengan Rizieq di Arab dan membentuk koalisi keumatan. Bergabung dengan Prabowo di bawah kendali dan ketiak Rizieq yang pernah dipenjara di eranya, sangat memalukan. Itulah sebabnya SBY langsung menolak dan berinisiatif membentuk koalisi kerakyatan sebagai saingan koalisi keumatan.

Usaha membentuk koalisi kerakyatan juga tingkat kesulitannya amat tinggi. Demokrat harus merangkul dua partai lain agar memenuhi syarat pencalonan Presiden: 20 persen suara di DPR atau 25 persen suara di Pemilu legislatif 2014 lalu.

PAN ingin juga Capres atau Cawapres. PKS juga demikian. Gerindra apalagi. Semua ingin menjadi Capres atau Cawapres. Suara Demokrat-PAN tidak cukup. Demokrat-PKS juga tidak cukup. Minimal Demokrat-PAN-PKS atau Gerindra-Demokrat. Tetapi, berkoalisi dengan Prabowo? Itu tadi. Ia sudah dikendalikan Rizieq. Gerindra-PAN-PKS (koalisi keummatan). Belum lagi adanya manufer Amin Rais dengan koalisi ummatnya. Mumet.

Maka, hanya ada tiga langkah strategis yang bisa dilakukan SBY. Pertama, lewat orang lain, ia menggugat ketentuan pencalonan presiden yang 20 persen itu di Mahkamah Konstitusi. Ia meminta syarat pencalonan presiden nol persen. Dengan demikian, SBY-Demokrat bisa mengajukan calonnya sendiri dengan bebas.

Langkah ke dua adalah memunculkan opsi duet JK-AHY dengan nostalagia masa lalu 2004-2009 saat SBY-JK berduet. Harapannya adalah JK lupa luka perihnya saat dia ditinggalkan SBY untuk menjadi Cawapresnya dan lebih memilih Budiono. Langkah ke tiga, kembali mengemis ke Jokowi. Diharapkan langkah genit SBY yang menduetkan JK-AHY, bisa menarik perhatian Jokowi dan akhirnya memilih AHY sebagai Cawapresnya. Jika ini terealisasi, maka sempurnalah pancingan, godaan dan kegenitan SBY. Artinya duet JK-SBY hanyalah akal-akalan SBY untuk menarik perhatian Jokowi.

Posisi SBY dengan tiga langkah itu dibaca benar oleh JK. Maka JK pun ingin nimbrung menari. Ya, menari dengan tarian sengat kalajengking. Tarian JK bertemu SBY-AHY dan Airlangga Hartarto adalah untuk memaksa Jokowi dengan sangat halus agar memilih Airlangga sebagai Cawapresnya. Jika tidak, maka ada titik-titik.

JK tentu sangat mengharapkan Airlangga sebagai Cawapres. Saat mengganti Novanto yang terbelit kasus e-KTP, JK termasuk yang bersuara lantang mendukung Airlangga sebagai Ketua Umum Golkar. Airlangga adalah Wakil Bendahara Umum era JK memimpin Golkar.




Tujuan JK mendukung Airlangga sebagai Cawapres Jokowi sangat jelas. JK ingin menyelamatkan Golkar yang elektabilitasnya cenderung menurun dan menjamin Golkar sebagai bagian dari pemerintahan menuju Pilpres 2024 mendatang. Tentu tujuan lain adalah untuk menjaga keberlangsungan bisnis-bisnis keluarga JK tetap aman.

Atas alasan di atas, maka JK menari cantik di hadapan Jokowi dengan ekor kalajengking. Sengatan JK sudah terbukti sukses di DKI. Ia menelingkung Jokowi dengan mengajukan Annies sebagai gubernur DKI. Itu kisah sukes tarian sengat JK di hadapan Jokowi.

Hal yang sama akan diulangi kembali oleh JK demi kepentingannya. Ia memang mendukung Jokowi. Namun ada syaratnya. Jokowi harus memilih Airlangga sebagai Cawapresnya. Jika tidak, JK akan menggoda Golkar lewat Airlangga agar mencabut dukungan kepada Jokowi. Nah itu tarian cantik JK dengan ekor kalejengking bersengat. Begitulah kura-kura.




1 COMMENT

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.