Suhu atmosfir politik jelang Pilpres 2019 makin hangat. Terbersit kabar Jusuf Kalla hendak disunting jadi Calon Presiden besutan Partai Demokrat berpasangan dengan Agus H Yudhoyono. Walau ini masih dalam tataran niat dan upaya, manuver seperti ini meneguhkan kembali kebenaran adagium berbunyi: “Tidak ada musuh abadi dalam politik, kepentingan lah di atas segala-galanya.”

Masih segar dalam ingatan, ketika pertama maju menjadi Calon Presiden, SBY berpasangan dengan Jusuf Kalla.




Setelah berhasil memenangkan pertarungan pasangan ini kurang harmonis dalam derap langkah bersama selama menjalani jabatan. Periode ke dua Pilpres SBY pecah kongsi dengan Jusuf Kalla. Itulah dinamika perjuangan politik kedua tokoh ini. Menjadi pertanyaan menarik sekarang mungkinkah Jusuf Kalla berkenan menerima tawaran untuk berpasangan dengan anak kandung SBY di Pilpres 2019? Jawabnya hanya Bapak Jusuf Kalla yang tahu.

Jadi atau tidak pasangan ini merupakan sebuah perenungan menarik diperbincangkan dari rencana ini adalah sepak terjang SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat mendesain langkah politiknya. Keinginan SBY mengusung Jusuf Kalla sebagai calon Presiden bukan semata-mata meminjam tenaga kekuatan Jusuf Kalla untuk mendudukkan putranya sebagai wakil presiden, tetapi secara bersamaan berupaya meruntuhkan barisan pendukung Presiden Joko Widodo.

Itulah yang dinamakan politik sekali dayung sampan dua pulau terlalui. Ini bukan sekedar strategi tapi taktik pedang bermata dua.

Selain sebagai upaya memecah belah koalisi yang telah dibangun Jokowi, taktik ini juga mengusik dan menguji konsistensi Partai Golkar di barisan Jokowi, seiring mengirim sinyal kepada Amien Rais dan Prabowo Subianto bahwa rencana koalisi mereka yang belum juga final kini dihadapkan dengan penantang potensial.

Belum usai letih bolak balik gonta ganti nama koalisi yang belum lahir menunjukkan wujudnya, Amien Rais dan Prabowo Subianto kini semakin pusing tujuh keliling membidani bentuk koalisi apa lagi yang hendak dilahirkan, sementara waktu sudah semakin mepet.

Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal ini bagaikan sutradara ulung berupaya dengan segala cara mewujudkan impiannya menghantarkan putra mahkota menuju singgasana kekuasaan. Strategi dan taktik SBY mengusung putranya Agus H Yudhoyono menuju Istana Negara tak ubahnya bagaikan menebus hutang kekalahan pertarungan merebut kursi Gubernur Jakarta kemarin.

Asik tak asik mari kita cermati dan tunggu adegan cerita bersambung selanjutnya tentang pasangan calon Presiden besutan Susilo Bambang Yudhoyono dengan perahu Partai Demokrat.

Sebagaimana saat pertama sekali maju menjadi calon Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono diberbagai event kampanye sering melantunkan syair lagu “Jangan ada dusta diantara kita”. Kiranya sepak terjang beliau kali ini juga semoga jauh dari aroma dusta dalam dukung mendukung membidani koalisi besutannya.

Bapak Jusuf Kalla merupakan salah seorang tokoh politik nasional yang diperhitungkan dan sudah dua kali menjabat wakil presiden sebagaimana SBY juga sudah dua kali jadi Presiden. Masihkah Jusuf Kalla akan rela terperangkap ke dalam jurus meminjam tenaga orang lain memukul musuh yang hendak dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono? Bapak Jusuf Kalla kita yakini saja lebih kaya kemampuan memperhitungkan untung rugi langkah yang hendak dipilihnya.

Seekor keledai pun tidak mau masuk jurang yang sama untuk ke dua kalinya, apalagi Bapak Jusuf Kalla.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.