Kemarin siang, tak sengaja saya berjumpa dengan seorang teman yang sudah lama tidak pernah berjumpa. Anggap saja namanya Bunga (padahal jenggotnya kayak rumput stadion, lho, cah). Setelah bertanya kabar dan basa basi yang lainya, akhirnya obrolan mengarah ke masalah politik. Temanku pun berorasi.

“Bagaimanapun juga, hukumnya wajib mendirikan negara syariat di negara ini mas,”

Saya: “Ah, kalau idiologis bangsa ini sudah baik, kenapa mesti coba-coba yang lain?”

Temanku: “Baik? Sekarang hidup susah bahan pokok mahal pertamax naik kok.”

Saya: “Lho, semua terkendali dan wajar kok, mas. idiologi ini yang mempersatukan rakyat Indonesia.”




Temanku: “Kalau gak mau syariat diterapkan di negara ini, berarti sampean itu munafik.”

Saya: “Lhadalah, mas. Sampean lupa dengan namaku, ya? Namaku kan MUNALI mas, kalau MUNAPIK itu kan nama suaminya yu Waginem tetangga saya.”

Temanku: “Ngomong sama cebong itu percuma, bodoh tolol idiot. Sudah, dibilangin hidup di jaman sekarang itu serba susah.”

Saya: “Ah, yang susah kan hati dan fikiran mas saja, toh?”

Temanku: “Ah, terserah. Diingatkan bahwa hidup sekarang ini susah kok ngeyel sampean?”

Tiba-tiba, teman saya menerima sebuah panggilan telepon dari smart phonenya. Dia pun berbicara lirih di pojokan warung. Selesei menelpon, saya bertanya kepada dirinya.

“Telepon dari Istrinya ya, mas?”.

Temanku menjawab: “Iya, calon istri yang ke dua. Modal ngajak ke mall, beliin baju lipstik bedak dan perhiasan doang, kok.”

Saya pun kaget mendengar jawaban teman saya ini, dalam hati pun berkata: “Duamput. Koar-koar hidup semakin susah? Eh ternyata doyan “jemblem” juga.”

Vangke..




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.