Jadi, begini ceritanya. Saya dan Abu Kumkum nonton bola di sebuah tempat ngopi. Kami taruhan Rp 100 ribu. Kumkum pegang Uruguai, saya memegang Perancis. Kata Kumkum nanti yang bayar makan yang menang taruhan. Saya setuju saja. Anggap saja makannya bayar masing-masing. Toh, bayarnya pakai uang taruhan juga.

Sebelum pertandingan, Bambang Kusnadi datang bergabung. Kumkum menegaskan ke Bambang. “Mbang, setuju ya, nanti bayar makan pakai uang taruhan. Yang menang yang bayar.”




Bambang sama seperti saya berfikirnya. Anggap saja bayar masing-masing. Rupanya dengan Bambang Kusnadi, Abu Kumkum juga taruhan. Kali ini dia memegang Perancis. Bambang mendukung Uruguai.

Skor 2-0 untuk Perancis. Bambang Kusnadi mengeluarkan uang Rp 100 ribu ke Abu Kumkum. Dia memang kalah. Lalu Kumkum menyerahkan uang itu ke saya karena saya menang melawan Kumkum.

Kami memanggil pelayan, meminta bon makan. Jumlahnya Rp 280.000. Saya ingat perjanjian bahwa yang pegang uang taruhan kemenangan yang harus bayar makan. Jadi sayalah yang harus membayar.

Uang dari Abu Kumkum Rp100 ribu. Itu juga uang Bambang. Lalu saya harus menambah Rp180 ribu lagi untuk membayar makanan.

Saya mulai berfikir. Bambang Kusnadi kalah. Abu Kumkum juga kalah. Saya adalah pemenang. Tapi, kenapa saya harus keluarkan duit lebih banyak?

Kayaknya ada yang salah deh. Masa pemenang malah keluarin duit lebih banyak, sih? Yang paling untung tentu Abu Kumkum. Dia sama sekali gak keluarkan uang. Bisa makan gratis.

“Saya sedang menerapkan strategi Anies, mas. Gak modal apa-apa, tetapi menang banyak,” ujar Abu Kumkum,santai. “Mas Eko ini posisinya kayak warga Jakarta. Perasaannya aja menang. Tapi sesungguhnya kalah,” ujarnya lagi.

Gila. Teman gue ini ternyata jenius benget. Kampret!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.