“Mas, bagaimana analisa anda soal perang dagang yang terjadi antara Amerika dengan China? Amerika malahan sudah mewarning Indonesia,” itu pertanyaan menjelang pertandingan antara Brasil vs Belgia.

“Jokowi sudah sejak awal mengantisipasi,” jawabku singkat.




Semua ya terkejutlah. Lha, wong jawabanku langsung kuarahkan ke Jokowi. Semua mata seakan gak percaya. “Sehebat itukah Jokowi sehingga perang dagang pun sudah diantisipasinya?” Begitu barangkali di pikiran mereka.

“Jokowi itu sudah berpengalaman di bidang usaha. Dalam usaha apapun. Bahkan sekecil apapun. Di manapun juga seringkali ada praktek-praktek nakal. Ada monopoli dari pemegang modal besar. Entah itu dalam hal barang jadi atau bahan baku. Jika kalian mau mikir, kenapa Jokowi menggenjot pembangunan infrastruktur dan pembangunan waduk? Bahkan waduk-waduk yang mangkrak sejak jaman Hindia Belanda, waduk Jati Gedhe dan waduk lainnya oleh Jokowi dieksekusi, dibangun dan diselesaikan.”

“Hubungannya?”

Jokowi itu seorang visioner. Beliau sadar bahwa akan terjadi situasi yang seperti ini. Bangsa ini tidak boleh terjadi ketergantungan pangan dengan negara lain. Dan Indonesia sebagai negara agraris, yang selalu mendapat cahaya matahari, kenapa tidak dimaksimalkan untuk kemandirian pangan? Maka beliau berani mengambil sikap dan mengeksekusi semua waduk yang mangkrak harus dibangun. Tentu saja untuk memaksimalkan pertanian di negeri ini. Dan yang sudah terbukti adalah, perlahan-lahan Indonesia sudah mengekspor beberapa hasil pertanian.

“Tapi, kenapa banyak orang yang membencinya, ya, Mas?”

Itulah dia. Namun, apakah seorang Jokowi berpikir soal tahta yang selalu terancam dan diancam? Tidak sama sekali. Beliau tetap fokus. Fokus membenahi Indonesia yang sudah brengsek ini. Beliau mengajak orang-orang seperti Ibu Susi, Ibu Sri Mulyani, Pak Basuki Hadi Mulyono, Pak Luhut, Pak Jonan, Pak Tito dan yang lain-lain. Terakhir Pak Buwas untuk mengamankan Bulog. Orang-orang yang berkompeten dan mencintai Indonesia, orang-orang yang berani dan bekerja keras agar Indonesia tidak di bawah ketiak negara-negara lain termasuk Amerika ataupun China.

Semua mengangguk-angguk .

Sekali lagi saya sampaikan, Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah namun tetap menjadi negara terbelakang, tentu saja ini semua karena salah urus oleh rezim sebelumnya. Mafia dan maling yang berkedok agamis susah disentuh. Jokowi menyadari itu. Beliau mati-matian menyelamatkan sumber daya alam, mulai laut, Freeport. KPK bersinergi dengan beliau melakukan OTT terhadap banyak kepala daerah. Itu adalah sebuah kebijakan yang beresiko tinggi. Bahkan boleh jadi para begundal akan melakukan apa saja untuk mengalahkan Jokowi.

Semua makin tenggelam dengan pikirannya masing-masing.

Sekali lagi, barangkali, jika Jokowi tidak terpilih, Jokowi akan kembali menekuni sebagai pengusaha. Namun, apakah kita rela Indonesia diserahkan kembali pada orang-orang yang hanya mikirkan perut dan kelompoknya?

SAAT INI KITA SEMUA MASIH BUTUH SEORANG JOKOWI. NGERTI?!

 







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.