Trauma Tragedi ’98 bagi etnis Tionghoa mungkin sedikit terobati setelah Ahok memimpin Jakarta dan dicintai oleh hampir semua etnis dan agama. Namun, terpenjaranya beliau lantaran hal yang tak mesti terjadi adalah suatu upaya merobek kembali luka lama.

Harusnya, bangsa ini berpikir ke arah itu, namun “hutang sejarah tragedi berdarah” tersebut dengan mudah terabaikan.




Bangsa ini memang penakut, demikian kata mendiang almarhum Gus Dur. Semua serba “nanggung”. Dari mulai Reformasi sampai Revolusi Mental berjalan secara nanggung, bercorak kompromi.

Aku tidak melihat Ahok sebagai pribadi, tapi aku melihat Ahok sebagai sebuah semangat idiologis yang cocok dengan keIndonesiaan. Ahok secara pribadi yang pernah mengemban jabatan sebagai Gubernur DKI tidaklah sempurna. Banyak dari kebijakannya yang keliru dan perlu dikoreksi. Belum lagi pencitraan-pencitraan yang dilakukannya.

Namun, tidak bijak bila kita mengungkap kelemahan-kelemahannya saat ini. Beliau sedang berduka bersama saudara-saudara kita masih mengalami trauma kerusuhan ’98.

Aku berharap pada Indonesia untuk melahirkan Ahok-Ahok baru demi Indonesia, semoga.

#Salam “Berpikir Gila” β˜•πŸš¬







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.