Kolom Joni H. Tarigan: KEKUATAN TELADAN – JOKOWIDODO dan PRABOWO

9
332

Hidup di zaman sekarang rasanya informasi itu sangat mudah. Jika dibandingkan dengan aliran air, mungkin arus informasi tu seperti deguran air terjun Sipiso-piso. Begitu derasnya air itu, demikian informasi saat ini begitu deras. Di sekitar Sipiso-piso selain hutan, terlihat tembok alam, batu cadas yang tinggi dan kokoh. Pantas saja, air terjun itu terus menderu, karena ditopang batu cadas. Saya membayangkan, seandainya di sekitar air terjun ini hanyalah tanah liat, maka hari ini kita tidak akan menikmati desiran dan deburan air terjun Sipiso-piso.

Saya ingin mengatakan, arus informasi yang deras ini harus juga kita imbangi dengan  kekuatan untuk mengolahnya sehingga menjadi kenikmatan hidup yang mulia untuk saling memuliakan bumi beserta isinya.




Salah satu aliran deras informasi yang saya amati adalah melalui Facebook. Perancang media ini selalu memperbaharui, sehingga bukan pemilik Facebook yang menyajikan berita, akan tetapi setiap penggunalah yang menjadi sumber informasi. Ah jadi ingat kata kawan, “jika aplikasi itu gratis, maka sebenarnya andalah yang dibeli”.

Beberapa hari lalu, saya membaca komentar Curhat teman di FB. Teman itu menceritakan, saat mencari bakal kain untuk dijadikan pakaian, ia menjumpai beberapa tipe penjual bakal kain. Yang pertama adalah sosok tua yang dengan tulus melayani. Pak tua pedagang itu menceritakan seluk beluk semua produk yang ia punya, dan tentu saja semua itu berkaitan dengan harga.

Teman saya ini sangat menghargai ketulusan pak tua yang menjual dengan jujur. Kemudian teman saya ini juga menceritakan pedagang yang lain, yang begitu menggebu-gebu mengatakan keunggulan bakal yang ia miliki. Untuk menunjukkan produk yang ia miliki lebih unggul, ia pun menambah bumbu bahwa produk orang lain yang jelek-jelek.

Dari dua penjual ini, anda bisa tebak ke pedagang yang mana teman saya beli bakal kain?




“Seandainya ia tidak menjelek-jelekkan orang lain, mungkin saya akan beli bakal kain dari dia,” tulis teman saya.

Ia akhirnya membeli dari Pak Tua yang jujur memberikan penjelasan produk dagangannya. Silahkan periksa jawaban spontan anda dan selamat merenungkan jawaban itu.

Saya sudah lama ingin membuat tulisan ini, yakni tentang seberapa banyak kemungkinan orang lain setuju dengan pemikiran yang kita miliki, jika kita melakukannya dengan menuduh, mencaci maki, mencerca, menjelek-jelekkan orang lain. Curhatan teman saya ini menjadi contoh yang sangat nyata dan saya kira ada baiknya saya paparkan.

Seringkali kita memiliki pemahaman atau pilihan, dan kita ingin orang lain pada posisi yang sama. Kepada orang yang tidak pada posisi yang sama, kita berusaha meyakinkan orang lain. Pada tahap meyakinkan orang lain inilah ada dua cara meyakinkan orang lain. Satu dengan menunjukkan kondisi-kondisi sebenarnya secara jujur, tanpa menuduh keburukan orang lain. Satu lagi berusaha menunjukkan kejelekan orang lain, agar setuju denga pemikirannya.

Dari curhatan teman saya ini, kita tentu tau bahwa pilihan orang akan jatuh kepada orang yang berperilaku jujur dan menghargai orang lain.

Saya pun mencoba menarik perilaku meyakinkan orang lain ini ke ranah PILKADA yang baru saja usai, dan mungkin menjadi permenungan bagi semua orang yang menginginkan pilihannya yang menang. Saya sendiri tentu punya pilihan dan berusaha meyakinkan orang lain agar melihat sisi kebaikan yang mampu saya lihat.

Di Sumatera Uatara, saya pribadai mendukung Djarot-Sihar. Sebelum pemilihan saya membuat tulisan dengan judul “Strategi Pembangunan Ekonomi SUMUT”. Dalam tulisan itu, saya mengapresiasi rencana program pembangunan ekonomi SUMUT yang diusung oleh DJOSS, yang akan membuat setiap wilayah berkembang pada potensi masing-masing.

Karo dan Dairi, misalnya, fokus untuk pertanian,  sedangkan Pariwisata dikembangkan di Nias dan Toba. Seperti Pablo Picasso yang menyatakan “Setiap anak adalah seniman”, maka DJOSS memiliki pemikiran “setiap wilayah punya potensi eknomi yang berbeda”.  Saya tidak mencoba memperjelas keburukan pasangan EDY. Selain saya tidak tahu kejelekannya, menunjukkan kelemahan orang lain tidak akan membuat kita dan pilihan kita menjadi lebih bermartabat.

Di Jawa Barat, pilihan saya jatuh kepada Ridwan Kamil. Mengenai pilihan ini, jangankan orang lain, dengan istri saya sendiri saya berbeda pandangan. Untuk meyakinkan orang lain, tentang kebaikan yang saya lihat pada Ridwan Kamil, saya membuat tulisan Insinyur Jawa Barat. Saya mengulas bagaimana tiga kepemimpinan insinyur dalam tahapan transisi kritis Indonesia. Ketiga insinyur itu adalah Soekarno, Habibie, dan Jokowidodo. Penilaian pribada saya, bahwa karakter insinyur itu membantu seorang pemimpin mengambil keputusan yang tepat dalam kondisi sulit. Tepat kadangkala sangat bertentangan dengan keinginan rakyat yang menginginkan solusi yang komopleks dapat teratasi secepat menyeduh mie instan.




Keyakinan yang mereka miliki, sebagai seorang insinyur, bersumber pada perhitungan dan pengalaman. Kadang pengalaman tidak bisa dihitung, tapi harus diperhitungkan. Sesuatu yang belum terjadi harus dihitung, supaya tidak menjadi pengalaman yang buruk. Memperitmbankan kondisi yang sudah terjadi, serta memperhitungkan kondisi yang akan terjadi, perilaku ini melekat pada insinyur. Melihat latar belakang Ridwan Kamil adalah arsitektur, yang juga adalah insinyur, maka saya berusaha meyakinkan orang lain tentang sisi baik RK lewat tulisan Insinyur Jawa Barat. Lagi, saya tidak membahas keburukan orang lain, karena keburukan saya mungkin jauh lebih banyak.

Dari pengalaman ini, saya ingin mengajak siapapun yang ingin mengajak orang lain untuk mengikuti pilihannya, ia harus menginspirasi orang lain. Ia harus menjadi teladan bagi orang lain. Jika ada orang yang mendukung Jokowi, maka ia juga harus meneladani Jokowi yang tetap menebar kebaikan sekalipun ia dicaci maki. Mencaci kembali yang menyudutkan Jokowi tidak akan membuat orang itu beralih mendukung Jokowi. Anda mungkin merasa puas, dapat membalas serangan itu dengan caci maki yang sama, tetapi tujuan anda agar orang lain ikut mendukung Jokowi tidaklah tercapai. Jika tujuan anda saja yang terlampiaskan, sedangkan yang mencaci Jokowi tetap saja mencaci, alangkah “EGOIS-nya anda.




Di pihak lain juga sama, katakanlah pendukung Prabowo, mencaci pesaing Prabowo tidak akan mengubah pandangan orang lain terhadap Prabowo. Jika keburukan ditabur untuk menunjukkan kebaikan beliau, sama saja anda mungkin puas mampu mencaci pesaing Prabowo, tetapi tetap saja orang tidak berubah. Justru semakin yakin bahwa Prabowo itu memiliki karakter sama dengan anda. Jika demikain, anda merasa puas melampiaskan cacian, sedangkan Prabowo dicap tidak baik, alangkah “EGOIS”-nya anda.

Apa yang kita yakini belum tentu buruk. Akan tetapi sebaik apapun itu, jika anda mencaci orang lain untuk membuktikannya, maka andalah sumber keburukan itu. Untuk meyakinkan perasaan manusia kita harus berlomba dalam kebaikan.  Kita harus meneladani kebaikan itu, agar kemudian kita menjadi teladan. Perasaan tulus manusia akan selalu mencari kebaikan yang tulus, serta ketulusan itu tergambar dalam sosok yang menjadi teladan, bukan teledor.







9 COMMENTS

    • Wow pertanyaannya semakin mendalam dan semakin berat JHT. Berat karena memang disitulah kuncinya perpecahan dan semua perang yang sudah terjadi didunia termasuk perang dunia 1 dan 2. Sekiranya 50% saja penduduk dunia sudah memahami persoalan kunci ini (brainwashing dan mind control) pastilah sudah selesai persoalan kunci ini. Sekarang memang dalam proses menuju pencerahan total, tetapi masih dalam proses. Saya sudah sering juga menuliskan di milis, SS dan Kompasiana khusus soal brainwashing dan mind control ini seperti yang saya kutib kembali ini:

      Untuk menjawabnya, saya mulai dengan mengutip tulisan Jon Rappoport, seorang jurnalis kawakan AS:

      “most people don’t fully grasp the pernicious influence of mainstream news. Not just that influence now, not just in the past few years, but forever. The ability of the press, in concert with versions of the Deep State, to twist and deform and undermine and reverse and fragment public perception, on every major story and issue, is basically substituting death for life. If the population is, on a daily basis, under the influence of such mind control, then what kind of breakthrough is possible? No breakthrough. None. The game is over.” kata Jon Rappoport setelah Trump masuk di Gedung Putih 2017. Lihat disini: https://jonrappoport.wordpress.com/2017/12/17/why-has-the-deep-state-gone-to-war-against-donald-trump/

      Analisa Jon Rappoport sangat aktual, dan juga sangat luas dan mendalam tentang soal saling hubungan deep state (neolib internasional, penggagas NWO, atau Henry Makow sering menamakannya ‘Illuminati’), kaitannya dengan publik dunia, atau masyarakat ditiap negeri nasional dunia terutama dinegeri-negeri maju/industri, tetapi juga dinegeri-negeri tertinggal kaya SDA seperti Indonesia. Harus juga dicatat disini bahwa menguasai duit/ekonomi adalah juga bagian yang teramat penting bagi rencana NWO. Menguasai duitnya dan brainwashing rakyatnya dan para pemimpinnya (100% mind control dan 100% brainwashing).

      Dari uraian Jon Rappoport sangat jelaslah akibatnya mengapa orang-orang Indonesia termasuk anak-anak mudanya tidak bisa melihat “the pernicious influence of mainstream news”, berita-berita internasional yang melahirkan opini nasional yang keliru. Ambil contoh misalnya pendapat orang-orang Indonesia selama ini tentang ‘komunisme’ atau juga tentang ‘neoliberalisme’, juga tentang ‘terorisme’, atau NWO itu sendiri, pendapat mana akhir-akhir ini sudah banyak perubahan atau berubah total.

      Pendapat yang ada selama ini adalah pendapat yang ditanamkan dan diinginkan oleh orang luar, penggagas NWO itu. Pendapat-pendapat yang sangat keliru yang tujuannya 100% pecah belah! Dan mereka sempat berhasil dengan sukses. Ambil contoh 1965.

      Bahkan dikalangan akademisinya sampai sekarang juga masih tertinggal dari pengetahuan yang luar biasa pentingnya ini. Selain akademisinya, elit politiknya juga tertinggal tentu atau terkena “pernicious influence” itu. Semuanya sudah dinina-bobokkan oleh Main Stream Media internasional itu selama lebih dari 200 tahun. Karena itu persoalan ini adalah persoalan hidup-mati satu bangsa atau hidup-mati seluruh kemanusiaan dunia pada umumnya.

      Tetapi untunglah kita, kata Jon Rappoport, dengan lahirnya internet dan keterbukaan, dengan bermunculannya media idependent seluruh dunia, maka “through the Internet, that brainwashing is being shattered by independent media, piece by piece”.

      Mari terus memanfaatkan era keterbukaan dan internet. Mari terus membaca menambah dan mendalami persoalan-persoalan penting dunia sekarang ini, dengan memahami kontradiksi pokok dunia sekarang ini yaitu KONTRADIKSI antara kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib-globalis NWO.

      Mengetahui hakekat persoalannya bagi kita sudah mungkin sekarang ini, karena sudah ada internet dan keterbukaan dimana informasi dan pengetahuan mengalir bebas dari semua untuk semua. Inilah juga bagian yang sangat penting dari REVOLUSI MENTAL, menambah dan memperdalam serta memperluas pengetahuan tentang kehidupan dalam kontradiksi pokok dunia yang kita harus hadapi sekarang ini.

      Salam mejuah-juah untuk keluarga juga JHT

      • Mejuahjuah Kila, Mama-lah ningku sekali. Hehehe…

        Ah Kila ini,,,, REVOLUSI MENTAL. Ini pernah menjadi topik argumen saya terhadap suatu seminar yang dilakukan oleh perusahaan. Singkatnya nara sumber mengatakan ” menjadi karyawan itu haru innovatif” untuk tetap berkembang bersama organisasi.

        Tapi kila,,, kira- kira Kapan Mental itu terbentuk dalam sosok seseorang??. Lalu kemudian jika kita mengatakan revolusi mental, pertanyaanya kemudian ” Mental siapa, dan disaat kapan mental itu perlu dilakukan revolusi?”.

        Salam kembali untuk keluarga di Swedia kila,,, Kami di JaBar memutuskan untuk selalu happy.

      • Mejuahjuah Kila,

        Dunia Internet, tentu sangat banyak membantu kita menemukan kebaikan, sekalipun secara bersamaan akan digunakan untuk mengaburkan kebenaran. Tapi aku yakin, rasa yang tulus itu akan selalu mencari cahaya di ujung terowongan yang gelap.

        Revolusi Mental,, Ah,, ini sangat menarik. Bahakan topik ini pernah menjadi bagian argumentasi ketika ada seminar tentang “karyawan yang harus innovatif”. Tapi ada hal yang sangat menarik terkait Revolusi Mental ini Kila.

        Kapan mental seseorang terbentuk?. Jika revolusi memang di perlukan, kapan dan mental siapa yang perlu di revolusi?

        Salam mejuahjuah kembali sama keluarga di Swedia kila,,,

        • selalu happy . . . wow, itu saja yang terpenting Joni. Kam sudah bisa mengambil kesimpulan tegas dan tepat. Yang lainnya hanya untuk memperluas dan memperdalam pemikiran (rutin), dengan pencerahan yang semakin luas dan mendalam sehingga ‘brainwashing dan mind control NWO itu semakin terkikis dari otak publik dunia.
          Dari segi Kontradiksi Pokok itu (perjuangan kepentingan nasional kontra kepentingan global NWO), ini solusinya bukan pekerjaan kita secara pribadi, tetapi kerjaan seluruh nation, terutama pemimpin-pemimpinnya yang bisa melihat kontradiksi utama ini. Tetapi belum semua bisa melihat sehingga tugas yang sudah bisa melihat jelas masih sangat berat – tugas pencerahan itu. Sampai nanti sudah lebih dari 50% publik mengerti secara jelas tidak ragu artinya ‘brainwashing dan mind control yang sudah ratusan tahun itu bersih dari otak publik dunia terutama negeri-negeri nasional kaya SDA seperti Indonesia, tetapi juga negeri-negeri maju yang masih dikuasai oleh kekuatan NWO itu, seperti negara-negara UE. UE adalah proyek NWO mau bikin negara super power yang sekarang sudah kembang kempis nasibnya karena semakin giatnya gerakan nasionalis di negeri-negeri UE itu (partai-partai nasionalis yang disebut partai populis).Bagi yang sudah memahami kontradiksi utama ini, tentu tugas pencerahan ini seharusnya semakin ringan. Tetapi musuh utama kepentingan nasional ini (NWO) pastilah semakin giat juga, walaupun Rothschild sudah bilang kalau rencana NWO sudah collapsing. Ini masih pernyataan politis, artinya punya tujuan dan maksud tertentu. Karena itu masih harus terus waspada. Bos NWO ini tentu jelas merasakan bahwa pengaruh ratusan tahun brainwashing dan mind control itu masih sangat kuat. Berapa orang yang sudah mengetahui bahwa komunisme dan neoliberalisme adalah tangan kiri dan tangan kanan bagi NWO, dan kedua tangan ini disuruh saling bunuh pula dengan membawa pengikut masing-masing secara besar-besaran. Belum banyak yang melihat . . . brainwashing dan mind control masih berlaku sejenak lagi. Pernyataan politis ‘collapsing’ baru politis.
          Salam mejuah juah man bandu sekeluarga, tetapi happy!

  1. Ini uraian yang sangat bagus soal ketulusan manusia.

    “Untuk meyakinkan perasaan manusia kita harus berlomba dalam kebaikan. Kita harus meneladani kebaikan itu, agar kemudian kita menjadi teladan. Perasaan tulus manusia akan selalu mencari kebaikan yang tulus, serta ketulusan itu tergambar dalam sosok yang menjadi teladan, bukan teledor.”

    Jadi teringat juga saya soal teror gereja Surabaya belakangan ini. Pembomnya satu keluarga yang jelas sudah pasti di ‘brain washing’ dan di ‘mind control’ 100% secara psikologis lebih dahulu supaya mau bawa bom bunuh orang dan bunuh dirinya sendiri. Biaya brain washing dan mind control ini pastilah tidak sedikit juga. Sipa yang membiayai?

    Bagaimana kita menunjukkan teladan kepada penggagas mind controll dan pembiayanya ini supaya berbuat baik dan berperasaan tulus ya?

    Wow . . . pertanyaan menggelitik juga he he
    MUG

    • Mungkin orang yg merasa baik, hanya berbuat baik bagi sesama mereka yg merasa baik. Jika demikian bagaimana kebaikan itu menyebar? Mereka mendambakan surga, mungkin karena tidak merasakan sentuhan kebaikan dari sesama .

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.