Kolom Joni H. Tarigan: KEKUATAN TELADAN – JOKOWIDODO dan PRABOWO

12
719

Hidup di zaman sekarang rasanya informasi itu sangat mudah. Jika dibandingkan dengan aliran air, mungkin arus informasi tu seperti deguran air terjun Sipiso-piso. Begitu derasnya air itu, demikian informasi saat ini begitu deras. Di sekitar Sipiso-piso selain hutan, terlihat tembok alam, batu cadas yang tinggi dan kokoh. Pantas saja, air terjun itu terus menderu, karena ditopang batu cadas. Saya membayangkan, seandainya di sekitar air terjun ini hanyalah tanah liat, maka hari ini kita tidak akan menikmati desiran dan deburan air terjun Sipiso-piso.

Saya ingin mengatakan, arus informasi yang deras ini harus juga kita imbangi dengan  kekuatan untuk mengolahnya sehingga menjadi kenikmatan hidup yang mulia untuk saling memuliakan bumi beserta isinya.




Salah satu aliran deras informasi yang saya amati adalah melalui Facebook. Perancang media ini selalu memperbaharui, sehingga bukan pemilik Facebook yang menyajikan berita, akan tetapi setiap penggunalah yang menjadi sumber informasi. Ah jadi ingat kata kawan, “jika aplikasi itu gratis, maka sebenarnya andalah yang dibeli”.

Beberapa hari lalu, saya membaca komentar Curhat teman di FB. Teman itu menceritakan, saat mencari bakal kain untuk dijadikan pakaian, ia menjumpai beberapa tipe penjual bakal kain. Yang pertama adalah sosok tua yang dengan tulus melayani. Pak tua pedagang itu menceritakan seluk beluk semua produk yang ia punya, dan tentu saja semua itu berkaitan dengan harga.

Teman saya ini sangat menghargai ketulusan pak tua yang menjual dengan jujur. Kemudian teman saya ini juga menceritakan pedagang yang lain, yang begitu menggebu-gebu mengatakan keunggulan bakal yang ia miliki. Untuk menunjukkan produk yang ia miliki lebih unggul, ia pun menambah bumbu bahwa produk orang lain yang jelek-jelek.

Dari dua penjual ini, anda bisa tebak ke pedagang yang mana teman saya beli bakal kain?




“Seandainya ia tidak menjelek-jelekkan orang lain, mungkin saya akan beli bakal kain dari dia,” tulis teman saya.

Ia akhirnya membeli dari Pak Tua yang jujur memberikan penjelasan produk dagangannya. Silahkan periksa jawaban spontan anda dan selamat merenungkan jawaban itu.

Saya sudah lama ingin membuat tulisan ini, yakni tentang seberapa banyak kemungkinan orang lain setuju dengan pemikiran yang kita miliki, jika kita melakukannya dengan menuduh, mencaci maki, mencerca, menjelek-jelekkan orang lain. Curhatan teman saya ini menjadi contoh yang sangat nyata dan saya kira ada baiknya saya paparkan.

Seringkali kita memiliki pemahaman atau pilihan, dan kita ingin orang lain pada posisi yang sama. Kepada orang yang tidak pada posisi yang sama, kita berusaha meyakinkan orang lain. Pada tahap meyakinkan orang lain inilah ada dua cara meyakinkan orang lain. Satu dengan menunjukkan kondisi-kondisi sebenarnya secara jujur, tanpa menuduh keburukan orang lain. Satu lagi berusaha menunjukkan kejelekan orang lain, agar setuju denga pemikirannya.

Dari curhatan teman saya ini, kita tentu tau bahwa pilihan orang akan jatuh kepada orang yang berperilaku jujur dan menghargai orang lain.

Saya pun mencoba menarik perilaku meyakinkan orang lain ini ke ranah PILKADA yang baru saja usai, dan mungkin menjadi permenungan bagi semua orang yang menginginkan pilihannya yang menang. Saya sendiri tentu punya pilihan dan berusaha meyakinkan orang lain agar melihat sisi kebaikan yang mampu saya lihat.

Di Sumatera Uatara, saya pribadai mendukung Djarot-Sihar. Sebelum pemilihan saya membuat tulisan dengan judul “Strategi Pembangunan Ekonomi SUMUT”. Dalam tulisan itu, saya mengapresiasi rencana program pembangunan ekonomi SUMUT yang diusung oleh DJOSS, yang akan membuat setiap wilayah berkembang pada potensi masing-masing.

Karo dan Dairi, misalnya, fokus untuk pertanian,  sedangkan Pariwisata dikembangkan di Nias dan Toba. Seperti Pablo Picasso yang menyatakan “Setiap anak adalah seniman”, maka DJOSS memiliki pemikiran “setiap wilayah punya potensi eknomi yang berbeda”.  Saya tidak mencoba memperjelas keburukan pasangan EDY. Selain saya tidak tahu kejelekannya, menunjukkan kelemahan orang lain tidak akan membuat kita dan pilihan kita menjadi lebih bermartabat.

Di Jawa Barat, pilihan saya jatuh kepada Ridwan Kamil. Mengenai pilihan ini, jangankan orang lain, dengan istri saya sendiri saya berbeda pandangan. Untuk meyakinkan orang lain, tentang kebaikan yang saya lihat pada Ridwan Kamil, saya membuat tulisan Insinyur Jawa Barat. Saya mengulas bagaimana tiga kepemimpinan insinyur dalam tahapan transisi kritis Indonesia. Ketiga insinyur itu adalah Soekarno, Habibie, dan Jokowidodo. Penilaian pribada saya, bahwa karakter insinyur itu membantu seorang pemimpin mengambil keputusan yang tepat dalam kondisi sulit. Tepat kadangkala sangat bertentangan dengan keinginan rakyat yang menginginkan solusi yang komopleks dapat teratasi secepat menyeduh mie instan.




Keyakinan yang mereka miliki, sebagai seorang insinyur, bersumber pada perhitungan dan pengalaman. Kadang pengalaman tidak bisa dihitung, tapi harus diperhitungkan. Sesuatu yang belum terjadi harus dihitung, supaya tidak menjadi pengalaman yang buruk. Memperitmbankan kondisi yang sudah terjadi, serta memperhitungkan kondisi yang akan terjadi, perilaku ini melekat pada insinyur. Melihat latar belakang Ridwan Kamil adalah arsitektur, yang juga adalah insinyur, maka saya berusaha meyakinkan orang lain tentang sisi baik RK lewat tulisan Insinyur Jawa Barat. Lagi, saya tidak membahas keburukan orang lain, karena keburukan saya mungkin jauh lebih banyak.

Dari pengalaman ini, saya ingin mengajak siapapun yang ingin mengajak orang lain untuk mengikuti pilihannya, ia harus menginspirasi orang lain. Ia harus menjadi teladan bagi orang lain. Jika ada orang yang mendukung Jokowi, maka ia juga harus meneladani Jokowi yang tetap menebar kebaikan sekalipun ia dicaci maki. Mencaci kembali yang menyudutkan Jokowi tidak akan membuat orang itu beralih mendukung Jokowi. Anda mungkin merasa puas, dapat membalas serangan itu dengan caci maki yang sama, tetapi tujuan anda agar orang lain ikut mendukung Jokowi tidaklah tercapai. Jika tujuan anda saja yang terlampiaskan, sedangkan yang mencaci Jokowi tetap saja mencaci, alangkah “EGOIS-nya anda.




Di pihak lain juga sama, katakanlah pendukung Prabowo, mencaci pesaing Prabowo tidak akan mengubah pandangan orang lain terhadap Prabowo. Jika keburukan ditabur untuk menunjukkan kebaikan beliau, sama saja anda mungkin puas mampu mencaci pesaing Prabowo, tetapi tetap saja orang tidak berubah. Justru semakin yakin bahwa Prabowo itu memiliki karakter sama dengan anda. Jika demikain, anda merasa puas melampiaskan cacian, sedangkan Prabowo dicap tidak baik, alangkah “EGOIS”-nya anda.

Apa yang kita yakini belum tentu buruk. Akan tetapi sebaik apapun itu, jika anda mencaci orang lain untuk membuktikannya, maka andalah sumber keburukan itu. Untuk meyakinkan perasaan manusia kita harus berlomba dalam kebaikan.  Kita harus meneladani kebaikan itu, agar kemudian kita menjadi teladan. Perasaan tulus manusia akan selalu mencari kebaikan yang tulus, serta ketulusan itu tergambar dalam sosok yang menjadi teladan, bukan teledor.







12 COMMENTS

  1. Mejuah-juah JHT

    Wah jadi lebih jauh dan lebih luas saja diskusi ini.
    Saya tuliskan kembali disini, dibagian komen semula, supaya nanti tidak terlalu ‘ramping’ kolom komentarnya hehe.

    ”With gun you can kill terrorist, but not terrorism. With education you can kill terrorism”- ini dikatakan Malala kalu tidak salah. Pendidikan, menjadi hal yang sangat penting. Tapi pertanyaanya, pendidikan apa yang dimaksud? Perguruan Tinggi atau yang mana??.

    Pendidikan tadi, betul adalah kuncinya memang. Mengetahui atau mendapatkan informasi atau pengetahuan yang selama ini belum sempat mengetahuinya, karena selama ini, sebelum abad keterbukaan internet masih tertutup ketat, atau kita masih berada dalam situasi mind control diluar pengetahuan kita.

    Soal terorisme misalnya cukup mengingatkan untuk mengetahui dasarnya bahwa terorisme adalah ‘made in USA’ artinya dibuat oleh ‘the secret government’ dibelakang semua presiden sejak kemerdekaan AS sampai dengan Obama, dan ‘war on terrorism is a big lie’ – prof Chossudovsky. Big lie siapa? Jawabnya NWO atau di AS disebut sekarang Deep State, ‘the secret government’ itu, musuh bebuyutan presiden nasionalist Trump.

    Untuk apa terorisme dilancarkan? Terorisme setangkai dan serangkai dengan narkoba dan korupsi + cabang-cabangnya yang tak terpisahkan: pelacuran, feminisme, LGBT, perkawinan homo/lesbi, childsex trafficking (girls and boys), pedofil, meruntuhkan kekuatan alamiah tiap kesatuan masyarakat kemanusiaan seperti kekuatan kultur, famili, nasional dll terutama yang erat kaitannya dengan aliran duit besar. Ini semua dalam rangka mengacau, divide and conquer, menguasai dan menundukkan kekuasaan nation-nation tertentu seluruh dunia, terutama yang kaya SDA seperti Indonesia.

    Inilah Pendidikan atau pengetahuan yang sangat aktual sekarang untuk mengetahuinya karena juga sedang ditingkatkannya kegiatan brainwashing dan mind control oleh NWO/neolib, sudah sangat aktif dan terang-terangan dimulai dari kindergarten kanak-kanak ke anak sekolah dan ke perguruan tinggi sejak hari-hari perkenalan bagi mahasiswa baru.

    Soal brainwashing kanak-kanak kindergarten, lihat disini:
    Agenda 21 Kindergarten/School Brainwashing of Your Children to Ignorant, Obedient NWO Perverse Sex Robots

    https://new.euro-med.dk/20140508-agenda-21-kindergartenschool-brainwashing-of-your-children-to-ignorant-obedient-nwo-perverse-sex-robots.php

    Dalam menipu anak-anak sekolah:
    “Our education system produces solipsistic, self-contained selves whose only public commitment is an absence of commitment to a public, a common culture, a shared history. They are perfectly hollowed vessels, receptive and obedient, without any real obligations or devotions.”
    Lengkapnya lihat disini:
    Professor Explains How Kids Have Been Brainwashed By New World Order
    https://yournewswire.com/professor-explains-how-kids-have-been-brainwashed-by-new-world-order/

    Dalam menghadapi mahasiswa (sekolah tinggi) sudah dimulai sejak kedatangan pertama mahasiswa baru dalam program orientasi universitas itu sendiri.
    Higher Education: Brainwashing 101

    https://www.thenewamerican.com/culture/education/item/16053-higher-education-brainwashing-101

    Sekian dulu sebagian dari diskusi kita JHT, belum semua saya sempat singgung.
    Mejuah-juah
    MUG

    • Wow pertanyaannya semakin mendalam dan semakin berat JHT. Berat karena memang disitulah kuncinya perpecahan dan semua perang yang sudah terjadi didunia termasuk perang dunia 1 dan 2. Sekiranya 50% saja penduduk dunia sudah memahami persoalan kunci ini (brainwashing dan mind control) pastilah sudah selesai persoalan kunci ini. Sekarang memang dalam proses menuju pencerahan total, tetapi masih dalam proses. Saya sudah sering juga menuliskan di milis, SS dan Kompasiana khusus soal brainwashing dan mind control ini seperti yang saya kutib kembali ini:

      Untuk menjawabnya, saya mulai dengan mengutip tulisan Jon Rappoport, seorang jurnalis kawakan AS:

      “most people don’t fully grasp the pernicious influence of mainstream news. Not just that influence now, not just in the past few years, but forever. The ability of the press, in concert with versions of the Deep State, to twist and deform and undermine and reverse and fragment public perception, on every major story and issue, is basically substituting death for life. If the population is, on a daily basis, under the influence of such mind control, then what kind of breakthrough is possible? No breakthrough. None. The game is over.” kata Jon Rappoport setelah Trump masuk di Gedung Putih 2017. Lihat disini: https://jonrappoport.wordpress.com/2017/12/17/why-has-the-deep-state-gone-to-war-against-donald-trump/

      Analisa Jon Rappoport sangat aktual, dan juga sangat luas dan mendalam tentang soal saling hubungan deep state (neolib internasional, penggagas NWO, atau Henry Makow sering menamakannya ‘Illuminati’), kaitannya dengan publik dunia, atau masyarakat ditiap negeri nasional dunia terutama dinegeri-negeri maju/industri, tetapi juga dinegeri-negeri tertinggal kaya SDA seperti Indonesia. Harus juga dicatat disini bahwa menguasai duit/ekonomi adalah juga bagian yang teramat penting bagi rencana NWO. Menguasai duitnya dan brainwashing rakyatnya dan para pemimpinnya (100% mind control dan 100% brainwashing).

      Dari uraian Jon Rappoport sangat jelaslah akibatnya mengapa orang-orang Indonesia termasuk anak-anak mudanya tidak bisa melihat “the pernicious influence of mainstream news”, berita-berita internasional yang melahirkan opini nasional yang keliru. Ambil contoh misalnya pendapat orang-orang Indonesia selama ini tentang ‘komunisme’ atau juga tentang ‘neoliberalisme’, juga tentang ‘terorisme’, atau NWO itu sendiri, pendapat mana akhir-akhir ini sudah banyak perubahan atau berubah total.

      Pendapat yang ada selama ini adalah pendapat yang ditanamkan dan diinginkan oleh orang luar, penggagas NWO itu. Pendapat-pendapat yang sangat keliru yang tujuannya 100% pecah belah! Dan mereka sempat berhasil dengan sukses. Ambil contoh 1965.

      Bahkan dikalangan akademisinya sampai sekarang juga masih tertinggal dari pengetahuan yang luar biasa pentingnya ini. Selain akademisinya, elit politiknya juga tertinggal tentu atau terkena “pernicious influence” itu. Semuanya sudah dinina-bobokkan oleh Main Stream Media internasional itu selama lebih dari 200 tahun. Karena itu persoalan ini adalah persoalan hidup-mati satu bangsa atau hidup-mati seluruh kemanusiaan dunia pada umumnya.

      Tetapi untunglah kita, kata Jon Rappoport, dengan lahirnya internet dan keterbukaan, dengan bermunculannya media idependent seluruh dunia, maka “through the Internet, that brainwashing is being shattered by independent media, piece by piece”.

      Mari terus memanfaatkan era keterbukaan dan internet. Mari terus membaca menambah dan mendalami persoalan-persoalan penting dunia sekarang ini, dengan memahami kontradiksi pokok dunia sekarang ini yaitu KONTRADIKSI antara kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib-globalis NWO.

      Mengetahui hakekat persoalannya bagi kita sudah mungkin sekarang ini, karena sudah ada internet dan keterbukaan dimana informasi dan pengetahuan mengalir bebas dari semua untuk semua. Inilah juga bagian yang sangat penting dari REVOLUSI MENTAL, menambah dan memperdalam serta memperluas pengetahuan tentang kehidupan dalam kontradiksi pokok dunia yang kita harus hadapi sekarang ini.

      Salam mejuah-juah untuk keluarga juga JHT

      • Mejuahjuah Kila, Mama-lah ningku sekali. Hehehe…

        Ah Kila ini,,,, REVOLUSI MENTAL. Ini pernah menjadi topik argumen saya terhadap suatu seminar yang dilakukan oleh perusahaan. Singkatnya nara sumber mengatakan ” menjadi karyawan itu haru innovatif” untuk tetap berkembang bersama organisasi.

        Tapi kila,,, kira- kira Kapan Mental itu terbentuk dalam sosok seseorang??. Lalu kemudian jika kita mengatakan revolusi mental, pertanyaanya kemudian ” Mental siapa, dan disaat kapan mental itu perlu dilakukan revolusi?”.

        Salam kembali untuk keluarga di Swedia kila,,, Kami di JaBar memutuskan untuk selalu happy.

      • Mejuahjuah Kila,

        Dunia Internet, tentu sangat banyak membantu kita menemukan kebaikan, sekalipun secara bersamaan akan digunakan untuk mengaburkan kebenaran. Tapi aku yakin, rasa yang tulus itu akan selalu mencari cahaya di ujung terowongan yang gelap.

        Revolusi Mental,, Ah,, ini sangat menarik. Bahakan topik ini pernah menjadi bagian argumentasi ketika ada seminar tentang “karyawan yang harus innovatif”. Tapi ada hal yang sangat menarik terkait Revolusi Mental ini Kila.

        Kapan mental seseorang terbentuk?. Jika revolusi memang di perlukan, kapan dan mental siapa yang perlu di revolusi?

        Salam mejuahjuah kembali sama keluarga di Swedia kila,,,

        • selalu happy . . . wow, itu saja yang terpenting Joni. Kam sudah bisa mengambil kesimpulan tegas dan tepat. Yang lainnya hanya untuk memperluas dan memperdalam pemikiran (rutin), dengan pencerahan yang semakin luas dan mendalam sehingga ‘brainwashing dan mind control NWO itu semakin terkikis dari otak publik dunia.
          Dari segi Kontradiksi Pokok itu (perjuangan kepentingan nasional kontra kepentingan global NWO), ini solusinya bukan pekerjaan kita secara pribadi, tetapi kerjaan seluruh nation, terutama pemimpin-pemimpinnya yang bisa melihat kontradiksi utama ini. Tetapi belum semua bisa melihat sehingga tugas yang sudah bisa melihat jelas masih sangat berat – tugas pencerahan itu. Sampai nanti sudah lebih dari 50% publik mengerti secara jelas tidak ragu artinya ‘brainwashing dan mind control yang sudah ratusan tahun itu bersih dari otak publik dunia terutama negeri-negeri nasional kaya SDA seperti Indonesia, tetapi juga negeri-negeri maju yang masih dikuasai oleh kekuatan NWO itu, seperti negara-negara UE. UE adalah proyek NWO mau bikin negara super power yang sekarang sudah kembang kempis nasibnya karena semakin giatnya gerakan nasionalis di negeri-negeri UE itu (partai-partai nasionalis yang disebut partai populis).Bagi yang sudah memahami kontradiksi utama ini, tentu tugas pencerahan ini seharusnya semakin ringan. Tetapi musuh utama kepentingan nasional ini (NWO) pastilah semakin giat juga, walaupun Rothschild sudah bilang kalau rencana NWO sudah collapsing. Ini masih pernyataan politis, artinya punya tujuan dan maksud tertentu. Karena itu masih harus terus waspada. Bos NWO ini tentu jelas merasakan bahwa pengaruh ratusan tahun brainwashing dan mind control itu masih sangat kuat. Berapa orang yang sudah mengetahui bahwa komunisme dan neoliberalisme adalah tangan kiri dan tangan kanan bagi NWO, dan kedua tangan ini disuruh saling bunuh pula dengan membawa pengikut masing-masing secara besar-besaran. Belum banyak yang melihat . . . brainwashing dan mind control masih berlaku sejenak lagi. Pernyataan politis ‘collapsing’ baru politis.
          Salam mejuah juah man bandu sekeluarga, tetapi happy!

          • Mejuah-juah Kila,,,

            Sentabi karena ahir-ahir ini lumayan menikmati kesibukan, jadi baru lihat lagi diskusi kita ini.

            ” With gun you can kill terrorist, but not terrorism. With education you can kill terrorism”- ini dikatakan Malala kalu tidak salah. Pendidikan, menjadi hal yang sangat penting. Tapi pertanyaanya, pendidikan apa yang dimaksud? Perguruan Tinggi atau yang mana??.

            Ini ada kaitannya dengan revolusi mental, kapan revolusi mental itu efektif dan eficient direvolusikan??.

            Selain diskusi dalam context karyawan, saya juga beberapa kali berdiskusi dikalangan agama, dalam hal ini Katolik. Mayoritas pemuka agama menyerukan kehidupan yang baik, kuat dalam iman dalam dunia yang terus berubah. Pertanyaanku kemudian, kapan iman itu muncul dalam diri seseorang?. Ada yang mengatakan sejak dalam kandungan. Pertanyaanya kemudian bagaimana proses itu terjadi?? Karna keagunan Allah, itulah jawabannya. Adalagi yg mengatakan saat aku bisa mendengarkan suara hatiku. Pertanyaan berlanjut, kapan itu??. Diskusi terus berlanjut, sampai saya menyatakan ungkapan ” Manusia sejak dahulu tidak berubah, sekalipun zaman selalu berubah”.

            Pindah Topik tapi tema yang sama, yakni buku-buku Rheinald Kasali. Most of his book is all about change or disruption. Kira-kira ia ingin mengatakan kita harus berdaptasi terhadap perubahan ini untuk menhadapi era disrupsi ini. Kita harus creative. Dalam benak saya, kapan karakter adaptive atau kreative itu terbentuk pada diri seseorang??.

            ” Good to Great- Jim Collins”- memaparkan langgenya suatu perusahaan itu bukanlah karena tehnologi. Tidak ada kaitan tehnologi dengan bagaimana perusahan itu bisa langgeng. Buku ini ada persamaan dengan buku Rheinald Kasali tentang ” Let’s Change”, dimana sampainya suatu tujuan adalah karena kendaraan yang tepat dan supir serta penumpang yang tepat. Pertanyaanya, bagaimana menumbuhkan karakter supir, serta penumpang yang tepat??.

            Dari beberapa bahan diskusi ini, kesimpulan saya sementara, manusia dewasa sibuk membicarakan kehidupan pada tataran dewasa. Ingin merubah banyak hal pada tingkan masyarakat yang sudah dewasa. Bahkan, bayi-bayi lahir itupun dipersepsikan sama dengan cara berfikir orang dewasa, sehingga generasi barunya persis sama dengan kondisi yang dialami pendahulunya. Pendahulu kemudian menyalahkan generasi mudanya, seakan lupa yang muda ini juga adalah apa yang mereka tanamkan.

            Hanya segelintir orang yang kembali ke kehidupan anak-anak.
            Di kalangan agama ( Katolik), saya berargument ” Bagaimana Gereja bisa berharap masa depan yang lebih baik, jika mengabaikan anak-anak??”. Di kalangan karyawan saya mengatakan ” butuh kerja keras untuk mengubah diri seseorang agar innovatif.

            Orang dewasa itu ibaratnya TEMBOK yang sudah kokoh. Bagaimana kita bisa merubah tembok itu??. Ketika kita mulai memahat, maka ada bagian yang hilang, bahkan mungkin akan terjadi kerusakan. Sama halnya dengan manusia dewasa.

            Masa kanak-kanak itu sama seperti komponen pasir, air, dan semen yang terpisah. Masih sangat mudah untuk membentuknya. Di masa kanak-kanak iniliah mungkin kita merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi sebenarnya tidak. Kita justru merusak talenta yang dianugerahkan Tuhan.

            Revolusi Mental, saya yakin revolusi itu akan sangat baik dilakukan ketika ” Air, Semen,Pasir” itu belum dicampur. Membentuk bukan berarti menjadikan anak-anak kita seperti yang kita mau. Sebenarnya tugas kita adalah merawat mereka bertumbuh pada talenta yang dia miliki. Anak-anak kita bukanlah kita, maka kita perlu mendengarkan mereka. Semua anak terlahir spesial, dan punya optimisme yang luar biasa akan kehidupan ini. Ketakutan kita akan masa depan membuat anak kita hidp dalam bayang-bayang masa lampau dan masa depan, sehingga hidup pada masa yang seharusnya ia alami pun terlewatkan tanpa rasa bahagia.

            Begitulah Kila, Revolus Mental itu bisa dilakukan lewat pendidikan, pendidikan itu akan efekti berevolusi saat-saat usia dini. Pendidikan ini bukanlah tempat, tetapi situasi dimana anak menjelajahi kehidupan ini tanpa ketakutan, tetapi juga dalam norma-norma kemanusiaan.

            Salam mejuah-juah, Pangalengan nari kila.

  2. Ini uraian yang sangat bagus soal ketulusan manusia.

    “Untuk meyakinkan perasaan manusia kita harus berlomba dalam kebaikan. Kita harus meneladani kebaikan itu, agar kemudian kita menjadi teladan. Perasaan tulus manusia akan selalu mencari kebaikan yang tulus, serta ketulusan itu tergambar dalam sosok yang menjadi teladan, bukan teledor.”

    Jadi teringat juga saya soal teror gereja Surabaya belakangan ini. Pembomnya satu keluarga yang jelas sudah pasti di ‘brain washing’ dan di ‘mind control’ 100% secara psikologis lebih dahulu supaya mau bawa bom bunuh orang dan bunuh dirinya sendiri. Biaya brain washing dan mind control ini pastilah tidak sedikit juga. Sipa yang membiayai?

    Bagaimana kita menunjukkan teladan kepada penggagas mind controll dan pembiayanya ini supaya berbuat baik dan berperasaan tulus ya?

    Wow . . . pertanyaan menggelitik juga he he
    MUG

    • Mungkin orang yg merasa baik, hanya berbuat baik bagi sesama mereka yg merasa baik. Jika demikian bagaimana kebaikan itu menyebar? Mereka mendambakan surga, mungkin karena tidak merasakan sentuhan kebaikan dari sesama .

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.