Ahok adalah tipikal seseorang yang “kontroversial” dalam berkata-kata. Dia ceplas ceplos dan tanpa tedeng aling-aling, terutama kepada mereka para begundal negara. Apalagi kalau si begundal negara tersebut hobinya memakai agama sebagai kedok untuk berkuasa. Wajar jika Ahok bersikap demikian, karena hatinya berontak untuk mengatakan sebuah kejujuran, yakni:

“Sudah lama bangsa ini dibodohi-bodohi oleh manusia licik, dengan mengatasnamakan kesucian sebuah agama.”

Bukankah mereka yang setiap hari ceramah agama, ternyata korupsi sapi dan kolektor fustun untuk pemuas syahwatnya? Bukankan mereka yang mengaku “ustad” hobinya menebar hoax dan fitnah, tanpa sedikitpun bisa membuktikan omonganya? Bukankah bisnis tipu-tipu dengan mengatasnamakan umat, sekarang banyak yang berurusan dengan korps Bhayangkara? Bukankan seorang khalifah provinsi tersyariat, ternyata doyan halan-halan dan ber hohohihi dengan (WIL)nya? Bukankah Jakardah sekarang menjadi kota tersemrawut hanya karena adanya slogan “yang penting seiman”?

Inilah yang dimaksud oleh seorang Ahok yang juga seorang GUSDURian, bahwa: “Jangan mau dibodoh-bodohi oleh oknum manusia culas yang tindakannya mengatasnamakan kesucian sebuah agama.”

Bukankah semua yang dikatakan Ahok sekarang telah terbukti?

Sejatinya di atas agama masih ada suatu prinsip yang bernama “kemanusiaan”. Maka tidak ada satupun agama yang sejatinya mengabaikan prinsip-prinsip dari memanusiakan manusia. Agama wajib hukumnya untuk diyakini, tetapi merespon omongan manusia yang mengatasnamakan agama juga wajib diwaspadai. Termasuk di saat Jerman, Spanyol, Portugal dan Brazil sebagai negara besar sepakbola harus terpaksa pulang di even piala dunia.




Eh, si Bibib kok gak vulang vulang? Kavan vulangnya nieh, Vieeb?

Gazebokah? Alias Gak Zelas Booo.

Yuuukkk.

Salam Jemblem..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.