Kolom Eko Kuntadhi: PERTEMPURAN PARA RELAWAN

0
247

Jadi begini. Pilpres akan dilaksanakan bareng dengan pemilihan legislatif. Nanti di kotak suara, pemilih dapat banyak banget kertas suara. Ada wajah-wajah Caleg DPRD II, DPRD I, DPR-RI, anggota DPD, juga Capres dan Cawapres. Apalagi sekarang jumlah partai yang ikut Pemilu bertambah. Bisa dibayangkan membawa 5 kertas suara dengan bermacam-macam pilihan. Itu keribetan dari sisi teknis pencoblosan.

Dari proses penghitungan suara juga lumayan memakan waktu.




Entahlah, nanti teknis suara dari kertas mana dulu yang dihitung. Apa dari pilihan Pilpres atau Pileg. Kalau Pilpres duluan, kita akan mengetahuo ancer-ancer Presiden berikutnya sesaat setelah bilik suara ditutup.

Tentu mana yang akan dihitung terlebih dahulu akan membawa dampak psikologis berbeda. Jika dihitung kertas Pileg, kita akan mengetahui Parpol mana yang dapat suara terbanyak. Jika kertas Pilpres yang dhitung terlebih dahulu kita akan secepatnya tahu siapa Presiden terpilih nantinya. Saya sih, berharap kertas Pilpres yang dihitung terlebih dahulu.

Pemilu bersamaan ini juga membawa konsekuensi lain. Ok, untuk mengusung Capres partai-partai perlu bersatu dalam koalisi. Mereka dituntut untuk bekerjasama memenangkan jagoannya. Sementara pada Pemilu Legislatif, partai-partai itu berkompetisi memperebutkan kursi. Jadi di satu sisi partai bekerjasama di sisi yang lain saling bersaing.

Siapa yang akan menggerakkan persaingan di partai? Para Caleg. Mereka berkompetisi bukan saja dengan Caleg lain partai, juga dengan Caleg separtainya. Sebab sesungguhnya mereka berkompetisi untuk memenangkan dirinya dalam proses persaingan yang ketat itu. Boleh dibilang, sebagian besar energi partai akan tertumpah pada Pileg. Lalu bagaimana dengan Pilpres?

Nah, ketika partai lebih konsen dengan persaingan dirinya sendiri pada akhirnya mereka bisa saja mengenyampingkan pertarungan Pilpres. Lalu bagaimana dengan Pilpres? Siapa yang akan meramaikan? Saya membayangkan Pilpres 2019 nanti pada akhirnya adalah pertempuran para relawan. Artinya, peran dan fungsi relawan lebih menentukan kemenangan Pilpres ketimbang mesin Parpol. Capres yang mampu mengorganisir relawan dengan baik punya peluang untuk memenangkan pertandingan.

Sampai saat ini gerakan relawan anti Jokowi dan pendukung Jokowi terus bekerja. Harus diakui dalam mengkonsolidir masa, relawan anti Jokowi punya pengalaman yang lebih. Apalagi jika nanti isu yang digoreng menyerempet agama lagi. Wajar sih. Dalam komposisi Presedium Gerakan Ganti Presiden ada nama Abu Jibril. Tokoh ini selalu mengecam Pancasila dan memiliki pandangan keagamaan yang keras. Abu Jibril meyakini orang yang mengikuti Pancasila akan binasa. Mungkin juga perlu dibinasakan, kita tidak tahu.

Tapi bisa saja. Ketika kasus Bom Mariot, anaknya pernah ditangkap Densus 88. Puteranya yang lain mati di Suriah membela teroris Alqaedah. Jadi, memang gerakan ganti presiden tampaknya bukan hanya sekadar gerakan biasa. Kita tahu ke mana arah sebenarnya. Artinya, bukan tidak mungkin 212 akan kembali heboh. Sebab gerakan itu berbasis relawan bermodal slogan agama.

Ada pasukan HTI, FPI, MCA geng, dan kelompok wahabi yang memang tidak menggumpal dalam satu partai. Mereka akan jadi lawan tanding relawan Jokowi di lapangan. Teriakannya seperti ingin menegakkan kebenaran. Padahal unsur 212 itu beragam. Ada orang yang suka esek-esek, ada penipu ribuan jemaah umroh, ada koruptor yang kini jadi tahanan KPK, kebanyakan orang-orang polos yang gampang digiring menggunakan slogan agama.

Mereka juga bisa sadis. Bisa dengan enteng keluarkan seruan jihad cuma untuk Pilkada. Melarang sholat jenazah. Menjadikan masjid lembaga agitasi politik. Atau menjajakan ayat untuk merayu pemilih. Mereka bisa juga mempersekusi ibu-ibu dengan beringas. Di acara CFD Jakarta perilaku seperti itu sudah terang-terangan dilakukan.




Kekuatan garis keras penjaja khilafah atau NKRI bersyariat sudah ereksi ingin menguasai bangsa ini. Mereka akan digunakan lawan-lawan Jokowi untuk merebut kekuasaan. Lihat saja Jakarta, kemenangannya diraih dengan pola itu. Dan kemungkinan besar akan dicobakan lagi pada Pilpres nantinya.

Bagaimana hasilnya buat Jakarta? Tiba-tiba kota ini dipimpin oleh penikmat susu kental manis tanpa susu. Jangankan membangun kota, mengurus trotoar saja mereka gelagapan. Omongan pemimpin Jakarta mirip bungkus Chiki, besar dan gendut, tapi isinya cuma angin. Orang jenis ini yang akan dicobakan untuk menguasai Indonesia. Orang-orang yang hanya bermodal cuap-cuap. Mereka ingin Indonesia dibangun dengan berbasis kata-kata. Tapi mau gimana lagi, mereka membungkus semuanya dengan slogan agama.

Sementara relawan Jokowi bekerja berdasarkan argumen kecintaan pada Indonesia. Atau ada juga yang sekadar melampiaskan hura-hura politik. Kebanyakan karena kesengsem dengan hasil kerja Jokowi.

Saya cuma ingin menggambarkan kemungkinan suasana yang berkembang pada saat Pemilu nanti. Setidaknya kita semua punya gambaran bagaimana seharusnya bersikap. Sudah saatnya relawan Jokowi memikirkan kerja-kerja politik yang lebih membumi. Lebih sering berinteraksi dengan masyarakat pemilih. Daripada sekadar ngegosip.

“Mas, mongngomong Nikita Mirzani sudah pakai jilbab, ya?” tanya Abu Kumkum.

Nah, relawan model Abu Kumkum ini yang gak bisa dijadikan panutan.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.