Cinta seorang ibu, bak karang di lautan. Kokoh, tegar, meski dihantam ombak. Tak bergeming melangkah, demi anak-anak tercinta. Itulah yang diperlihatkan oleh Yowi. Seorang ibu paruh baya. Yang berjuang memastikan masa depan anaknya. Anaknya tak diterima di sekolah negeri, padahal nilainya bagus dan layak. Ibu mana yang terima bila jerih payah sang anak dihargai ketidakberhasilan?

Yowi akhirnya memutuskan mengadukan masalahnya ke instansi terkait. Mulai dari kelurahan, sampai ke sekolah yang dituju.




Upayanya tidak berbuah hasil. Ia harus menghadapi kenyataan pahit. Bahwa birokrasi di Jakarta telah kembali ke habitatnya. Lamban. Bertele-tele. Oper sana-sini. Tulis sana-sana. Tapi, hasilnya? Nihil. Yowi tetap tidak mendapat solusinya.

Putus asa? Tidak ada kata putus asa dalam kamus seorang ibu. Walau harus ke presiden, ia akan tempuh. Yowi pun nekat ke Balai Kota. Berharap secuil harapan tentang masa depan anaknya. Ia berharap bisa bertemu bapak gubernur. Meluberkan semua uneg-uneg, bahkan eneg-eneg soal lelahnya menjadi seorang ibu.




Malangnya. Sang gubernur tak bisa menemuinya. Entah sang gubernur komitmen dengan aturannya, bahwa pengaduan disampaikan di kelurahan saja. Yowi tak kuasa lagi mempertahankan kaidah kesopanan yang seorang ibu junjung tinggi. Ia sudah tak tahan. Ia harus ngamuk sejadi-jadinya. Bak induk singa yang tengah melindungi anaknya, Yowi bergulat kata dengan petugas. Beradu argumen. Nada suaranya meninggi. Bak halilintar yang membuat para petugas aduan kehilangan kata.

Yowi tahu. Dengan ngamuk seperti ini tidak menjamin nasib sang anak. Tapi, apalagi yang bisa ia lakukan? (Lihat video di bawah ini).

Posted by Muhammad Nurdin on Wednesday, July 4, 2018

Yowi hanya satu diantara banyak lagi warga yang bernasib sama dengannya. Datang ke satu instansi. Dioper sana-sini. Disuruh sampai jam segini. Disuruh datang lagi besok. Diulangi lagi hal serupa. Birokrasi di ibukota makin semrawut sejak ditinggal Ahok. Banyak ASN mulai menikmati menjadi “pelayan negara” adalah raja. Bukan warga yang jadi rajanya.

Saya sebenarnya tidak mau terjebak pada kenangan indah, saat Ahok, tiap pagi menemui warganya. Menerima tiap aduan mereka. Merespon dengan cepat aduan tersebut. Dan beberapa hari setelahnya masalah selesai. Akhirnya. Saya pun terjebak lagi dengan kenangan itu. Saat seorang nenek tua penjual kue menyambangi Balai Kota. Ia bersandar loyo kesakitan. Berpakaian seadanya. Ia tak pede menemui sang gubernur. Apalah, dia cuma nenek tua yang hidup susah.

Sang gubernur menyambanginya. Menanyakan apa keluhannya. Ternyata ia sedang menderita encok. Tak punya BPJS dan tak berKTP DKI. Dengan kehangatan dan semangat melayani sang gubernur memerintahkan stafnya membuatkan apa yang si nenek perlukan. Bahkan untuk urusan encok pun, seorang pemimpin yang melayani siap melakukan apapun itu.

Posted by Muhammad Nurdin on Wednesday, July 4, 2018

Melayani bukan soal dia agamanya apa. Melayani adalah soal keikhlasan dan tanggung jawab. Tentu. Akan banyak lagi warga ibukota yang merindukan sosok pemimpin yang benar-benar peduli. Bukan pura-pura peduli.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.