Seorang teman banyak yang bertinyi-tinyi: “Kenapa sih Koh Ahok menolak pembebasan bersyarat pada tanggal 8 Agustus lusa? Padahal, kami semua sudah tidak sabar menanti kebebasan dari si pemilik kata pemahaman nenek lu ini.”

Itulah Ahok. Banyak yang pro dan banyak pula yang kontra, meskipun para hatternya sudah banyak berkurang.

Ya, berkuranglah. Lha, wong semenjak ditinggal Ahok, sungai-sungai di Jakardah sekarang ada buayanya. Juga kebiasaan Si Gabener Syarngi yang suka pelesiran ke luar negeri. Itu Gabener apa Menteri Luar Negeri sih?

Ahsudalah. Padahal, ada pimpinan partai yang hobinya ngundang wartawan agar peryataannya dikutip oleh awak media. Tetapi, apa daya, ketenarannya masih jauh levelnya bila dibandingkan dengan si Basuki Tjahaya Purnama.

Ahok itu seperti mutiara, meski di kubangan lumpur sekalipun tetap dicari orang dan berharga nilainya. Gak di dalam penjara atau masih menjabat sebagai Gubenur, seorang Ahok selalu menjadi buah bibir atas segala prestasinya. Sebaliknya, air jamvan meski dikemas semenarik mungkin, ya tetap kotor juga. U understand lah, who I mean.

Back to laptop. Menurut gosip ibu-ibu pengajian di desa, ternyata alasan Koh Ahok tidak menerima tawaran bebas bersyarat adalah: “Ahok hobi makan jemblem yang setiap hari dibuatkan oleh Siti Waginem Daryanti alias Yu Waginem.” Ah, aya aya wae. Masak gak mau ninggalin Lapas gara-gara doyan makan jemblem toh, koh?

Ya, wes lah koh, makan jemblem sepuasnya, ya, karena sebentar lagi jajanan khas NUsantara ini akan diklaim oleh Saudi. Dan, kabarnya sih, jajajan jemblem akan diganti namanya karena kurang syarngi. Dari yang semula bernama jemblem berubah menjadi: “Jemvlem.”

Taakjiiiilll.

Salam Jemblem..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.