Dulu sekali. Saya tidak ingat persis kapan. Beredar foto putri Fadlizon yang cantik jelita itu. Ramai-ramai netizen mengolok. Lalu mulai mengukur “kesalehan” sang putri yang tanpa hijab itu.

Belum lama ini. Beredar foto Fadlizon sekeluarga di FB. Istri dan anak-anaknya tanpa hijab. Banyak netizen yang terperangkap untuk menilai pilihan “kesalehan” Fadli.

Begitu juga. Paling ramai dibicarakan baru-baru ini. Sang Jenderal Gatot Nurmantyo tertangkap kamera bersama sang istri, yang kebetulan tidak berhijab. Lagi-lagi, banyak netizen yang terlihat menganggap hal itu sebuah masalah.

Saya termasuk pihak yang tidak suka bahkan “eneg” lihat manuver-manuver politiknya Fadlizon. Kritiknya terhadap pemerintah kadang bikin mual. Tapi, cukup itu masalah saya dengan Fadlizon. Saya tidak mau terjebak untuk menghakimi keluarganya yang dianggap “tidak agamis”, meski saya tahu ia cukup doyan mainkan isu agama dalam manuver politiknya. Apalagi mempermasalahkan anjing-anjingnya yang lucu itu. Itu urusan malaikat mau masuk atau tidak ke dalam rumahnya.




Mau Fadlizon shalat lima waktu, rajin ngaji, rajin senen-kemis, rajin sedekah, itu urusan ia dan kesalehannya. Hanya Tuhan yang tahu saleh tidaknya ia. Tidak perlu saya mencap ia sebagai munafik, contohnya. Sebab, saya tak punya mandat dari Tuhan untuk menghakimi hamba-hamba-Nya.

Begitu juga dengan Jenderal Gatot. Ia tetap jenderal laskar 212 dengan peci putihnya yang legendaris. Masalah istrinya yang tak berhijab itu masalah dia dengan Tuhan. Apakah dengan berhijab kita berani mengatakan diri kita lebih baik?

Tak masalah Gatot memainkan sentimen agama yang paling sensitif sekalipun. Memang tak ada cara lain untuk menjatuhkan Jokowi sekarang ini. Politik itu tak mengenal kesalehan. Rakyat sebenarnya tak butuh seberapa banyak para politisi kita shalat atau khatam Quran. Kalau rajin ibadah, tapi seiring dengan itu rajin juga korupsi, apa perlunya kesalehan dalam politik?

Gatot Nurmantyo bersama istri

Politisi yang berlindung di balik simbol-simbol agama, sebenarnya ia tak layak memimpin. Sebab, faktanya memimpin tak sekedar menjadi saleh. Apalagi pura-pura menjadi saleh. Hanya banci yang berani menjadi perempuan. Begitu juga, banci lah ia, yang jualan agama demi kekuasaan yang fana ini.

Beruntunglah kita. Politik di negeri ini semakin dewasa. Makin banyak rakyat yang menggunakan nalarnya dalam memilih. Meninggalkan isu-isu murahan untuk tidak terjebak dalam rayuan gombal para politisi kotor.

Untuk itu. Saya sampaikan kepada pendukung setia Jokowi, jangan menggunakan cara-cara kotor untuk menyerang balik, karena tak ada bedanya kita dengan mereka.

Bijaksanalah dalam bersikap.
Cerdaslah dalam berucap.




1 COMMENT

  1. “Rakyat sebenarnya tak butuh seberapa banyak para politisi kita shalat atau khatam Quran. Kalau rajin ibadah, tapi seiring dengan itu rajin juga korupsi, apa perlunya kesalehan dalam politik?” Inilah kenyataan yang semua juga bisa menuasikan tiap hari di negeri ini.

    Saya teringat ucapan yang sama dari Dalai Lama 2014 soal koupsi dan agama:
    “Dalai Lama says religion has become an ‘instrument to cheat people’ and corruption is related to education” (timesofindia.indiatimes.com).

    Berbicara soal korupsi dan koruptor, Dalai Lama bilang: “They (some educated people) pray to God but the purpose of their prayer is to make their corrupt life more successful,”katanya.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.