Dalam sains positif tetutama neuro-science yang disebut pikiran itu hanya produk dari kegiatan otak. Saya tidak setuju tapi mereka sains yang lebih argumentatif dan empiris. Sedangkan teori saya masih spekulatif yang didasarkan pada asumsi dalam filsafat dan psikologi. Namun, konsekuensi Kuantum Heisenberg memberi saya insight dan imajinasi, yang telah saya paparkan dalam proposal the Big Bang of the Mind dimana saya belum bisa mendasarinya dengan kimia dan biologi yang kuat serta matematikanya masih filosofis.

Ya. Masih imajinatif hasil dari kuantum Heisenberg. Yaitu materi adalah tumpukan pikiran hasil dari aktivitas akal. Teori purba mulai dari Idea Plato, Emanasi Ibn Sina, Waham Ibn Arabi, Idealisme Hegel, dan Kemahakuasaan Pikiran Freud sangat abstrak dan susah dieksperimentasikan.

Saya sendiri masih belum bisa menemukan apa itu pikiran? Kalau secara filosofis dan psikologis itu metafisik dan kabur.

Namun ada petunjuk kecil. Delusi itu sering dipahami banyak orang seabagai manipulatif dan tidak riil tanpa mereka sadari bahwa delusi adalah salah satu proses berpikir yang sangat kuat dan determinan. Dilihat dari isi, waham atau delusi itu memang tidak sesuai dengan realitas tapi bentuk delusi itu sendiri belum ada yang menelitinya. Apa itu bentuk delusi?

Ya, Kekuatannya. Dalam bahasa Freud, salah satu delusi yang dialami orang sakit jiwa disebut Kemahakuasaan Pikiran (omnipotence of thought). Saya tidak meneliti isi dan kandungannya yang manipulatif tapi bentuk kekuatannya yang mengagumkan.

Dengan mempelajari mekanisme pembentukan kekuatan delusi, akn memberi kita celah bagaimana pikiran bisa memengaruhi materi. Yaitu menciptakan teknologi yang mengakselerasikan potensi kekuatan delusi sehingga tidak gagal ketika diaktualisasikan dalam kenyataan karena selama ini delusi disebut tidak nyata salah satunya gagal terwujud ketika hendak diaktualisasikan di dunia luar.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.