Kolom Eko Kuntadhi: GARA-GARA GOPEK, MEMINTA PRESIDEN MUNDUR

Namanya pasar, ada kenaikan sedikit pada salah satu barang, itu wajar.

0
553

Emak-emak kota, dengan pakaian mentereng berdemo di Istana karena kenaikan harga telur. Mereka teriak-teriak hidupnya susah hanya karena pasokan telur dari peternak berkurang. Biasanya mereka beli telur Rp 22 ribu sekilo, kini naik menjadi Rp 30 ribu. Ada kenaikan Rp 8 ribu.

Jika sekilo telur isinya 16 butir, berarti cuma naik Rp 500 perak sebutir. Tapi emak-emak gaya ini, yang ke pengajian memakai gelang sedabruk, nyonyor mulutnya akibat kenaikan Rp 500 perak.

Gara-gara duit 500 perak, mereka meminta Presiden Jokowi mundur. Iya, cuma gara-gara duit koin 500 perak. Lihat wajahnya, lihat pakaiannya, di balik bajunya yang mentereng, hidupnya susah. Jiwanya menderita. Karena duit sekeping. Bandingkan dengan emak-emak yang sedang bersenda-gurau dengan Pak Jokowi di bawah pohon rindang. Infrastruktur telah melewati desanya. Sertifikat tanah juga telah dibagikan gratis.

Sebagian mereka bersyukur menikmati dana KIS. Wajahnya sumringah dan bersyukur.

Apa mereka tidak terganggu dengan kenaikan harga telur 500 perak? Mungkin mereka lebih cerdas. Kalau telur naik, mereka bisa membeli tempe atau tahu. Atau ikan. Atau bahan makanan lain.

Toh, mereka tahu. Setiap habis lebaran, ayam petelur memang agak berkurang. Sebab dijadikan ayam potong untuk mengisi kebutuhan lebaran. Apalagi kalau harga pakan ternak naik, bibit ayam juga naik. “Peternak juga butuh hidup,” begitu bisiknya.

Ya, peternak juga butuh hidup. Namanya pasar, ada kenaikan sedikit pada salah satu barang, itu wajar. Nanti juga normal lagi. Kecuali kalau semua kebutuhan pokok yang naik. Toh, inflasi kita terjaga 3,2%. Artinya, kenaikan rata-rata kebutuhan pokok cuma segitu. Kalau biasanya sehari belanja Rp 50 ribu, cuma tambahin Rp 1.500 sudah bisa membeli bahan makanan yang sama.

Intinya, soal bersyukur. Ibu-ibu berjilbab di kota, dengan pakaian mentereng, berkacamata hitam, mondar mandir ke pengajian mewah. Nyatanya perlu belajar lagi untuk bersyukur. Perlu belajar bagaimana membuka hati biar jembar. Mereka datang bermobil untuk meminta Presiden mundur dari jabatannya hanya karena duit sekeping. Limaratusan. Digoreng dadakan. Seperti tahu bulat.

Dan ibu-ibu sederhana di desa, sedang menertawakan mereka. Pakaiannya aja gaya. Pelitnya minta ampun. Cuma karena duit gopek, meminta Presiden mundur.

Sepulang demo, mungkin mareka akan mampir di mall. Makan di kafe. Ketawa-ketiwi. “Eh, cyin. Minggu depan kita ke Sephora, ya. Aike mau beli maskara sama lipstick. Lipstick yang kemarin, gak sengaja ketelan.”

“Iya, tapi cicilan Victoria Secret lu, bayar dulu, dong. Udah nunggak dua bulan nih,” sambut temannya.

“Dari gayanya, emak-emak berjilbab itu pasti ketularan PKS. Makanya ribet hidupnya,” ujar Abu Kumkum.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.