Sejak terpilihnya Wan Abud, bangsa ini dipaksa menikmati drama seri dengan back ground ibukota negeri ini. Ceritanya konyol bahkan cenderung mengabaikan nilai kemanusiaan, keharmonisan berbangsa dan bernegara serta moral.

Masih begitu nyata bagaimana seorang pemimpin dengan sengaja membuat sekat di masyarakat dengan istilah pribumi.

Tanpa perasaan, kata-kata pribumi menjadi polemik. Semakin menganganya jurang pemisah setelah Pilkada DKI yang sengaja mengedepankan politik identitas.

Kontroversi soal pribumi belum usai, dengan membusungkan dada, seakan bagai raja sakti mandra guna, Wan Abud membuat bangsa ini makin terperangah dengan kebijakan becak, menutup jalan di Tanah Abang, membiarkan para PKL merusak pemandangan, membuat TGUPP dengan anggota 70 orang hanya mengurus Jakarta. Bayangkan, mengurus negara saja hanya menunjuk 35 orang untuk membantu presiden. Dan TGUPP tersebut bergaji gila-gilaan melebihi gaji seorang menteri.

Apakah berhenti sampai di situ? Belum. Wan Abud selalu dan selalu membuat kejutan dengan hal-hal yang sepertinya agar memancing emosi para pendukung Pak Dhe. Atau, jangan-jangan, memang sengaja memancing Pak Dhe?

Wan Abud bukannya bekerja dan memperbaiki tatanan yang sudah baik di era Pak Jokowi, Ahok dan Pak Djarot, justru yang sudah baik malah dirusak. Mulai penggunaan anggaran yang nota bene duit rakyat yang tidak transparan. Hingga pelayanan publik di semua birokrasi nyaris tanpa pengawasan. Jakarta kembali ke jaman cowboy. Pungli terjadi di mana-mana.

Seorang Jokowi Ahok meski bukan seorang profesor, namun sebagai seorang pemimpin ternyata lebih profesional. Dia lebih menguasai aspek-aspek tentang Planning, Staffing, Leading, Controling serta Actuating sehingga membuat Jakarta dijaman Jokowi Ahok, dan diteruskan oleh Djarot, menjadi kiblat keberhasilan penggunan anggaran serta transparansi di semua bidang.

Pertanyaannya adalah, apakah Wan Abud betul-betul lolot atau sengaja mau merusak Ibukota? Jika seorang profesor tentu tidak mungkin lolot. (Jangan dibaca ke balik, mohooon dengan sangat). Ya, to? Lalu, jika sengaja, tentu rasanya Wan Abud mempunyai backing. Mempunyai orang kuat sehingga Ombudsman yang tempo hari akan memanggil Wan Abud soal pengelolan Tanah Abang masih ndal ndul alias belum juga ada realisasi.

Apalagi ketika membuat keputusan menutup Kali Item dengan waring atau apapun namanya, jelas merupakan kebijakan yang sangat bego. Sudahlah bego. Tentu memerlukan anggaran yang tidak sedikit untuk sebuah hal yang sia-sia alias bego.

Siapapun orang waras tentu saja akan terbawa emosi oleh Wan Abud. Dan ketika dalam beberapa kesempatan Wan Abud berasyik mesra dengan Pak Tua, apakah ada konspirasi dan “pekerjaan” besar dengan semua hal yang dilakukan oleh Wan Abud?

Persoalannya adalah, Menteri Dalam Negeri bahkan seorang Pak Dhe bahkan belum juga berkomentar dengan kelakuan Wan Abud yang terakhir tentang bendera negara-negara peserta Asian Games. Atau sebenernya sudah tahu dan menunggu lengah agar bisa dipenthung dengan mudah? Dan sejarah telah membuktikan, perebutan kekuasaan seringkali menggunakan segala cara, sekalipun dengan darah dan air mata.

Jika melihat gelagatnya, politik di Indonesia mengalami masa kelam. Masa dimana orang-orang ambisius menggunakan segala cara termasuk yang kita lihat sekarang.

Apakah rela Indonesia kita serahkan kepada orang-orang seperti Wan Abud?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.