Dua beban berat Prabowo saat ini. Pertama, menghadapi koalisi Jokowi yang semakin solid. Ke dua, menghadapi ulah PKS yang licik menusuk dari belakang. Pertarungan menghadapi koalisi Jokowi sudah sangat berat. Ditambah lagi ulah licik PKS yang menusuknya dari belakang, membuat Prabowo pusing tujuh keliling.

Prabowo benar-benar terpojok oleh manufer PKS yang bermuka dua.

Dalam posisi terpojok dan tersudut, Prabowo mengamuk. Ia berbalik menusuk PKS dengan cara ‘kawin paksa’ dengan SBY. Putera SBY, AHY terpaksa dijadikan mahar sebagai Cawapresnya. Dengan kawin paksa sama SBY-Demokrat, maka syarat mengajukan Capres dan Cawapres di KPU terpenuhi.

Dikatakan kawin paksa karena sebelumnya koalisi Gerinda-Demokrat, sangat sulit diwujudkan. Mengapa? karena sejarah pertarungan Prabowo-SBY pada masa lampau. Prabowo-SBY adalah dua jenderal yang saling bermusuhan. Ingat! Selama 10 tahun SBY berkuasa, Prabowo selalu mengambil sikap oposisi. Bahkan menjelang lengser, SBY tidak pernah akur dengan Prabowo.

Hal yang sama dialami oleh SBY. SBY terpaksa mendekat kepada Prabowo karena sikap Jokowi yang tidak mau memilih AHY sebagai Cawapresnya. Selama setahun SBY terus merayu Jokowi agar deal dengannya soal Cawapres itu. Hasil negoisasi terakhir menyebutkan bahwa istana sudah menjanjikan kursi menteri kepada AHY agar mau bergabung dengan koalisi Jokowi.

Mulanya SBY setuju kursi menteri itu. Namun, semakin mendekati pendaftaran di KPU, SBY semakin ragu. Jika ia hanya berkoalisi dengan Jokowi, maka nama Demokrat semakin tenggelam. Hasil-hasil survei mengamini hal itu. SBY lebih menginginkan agar AHY maju sebagai Cawapres agar bisa kembali mengerek nama Partai Demokrat. Impian itu sangat sulit terwujud bila bergabung dengan koalisi Jokowi.

Itulah yang disebut SBY dalam pidatonya bahwa usaha berkoalisi dengan Jokowi penuh dengan ranjau. Gagal mengusung AHY dalam koalisi Jokowi sebagai Cawapres, SBY mencoba membentuk koalisi kerakyatan atau poros ke tiga dengan merayu Golkar. Namun itupun gagal juga. Harapan satu-satunya adalah berkoalisi dengan Prabowo.

Tawaran cinta SBY ternyata tidak bertepuk sebelah kanan. Prabowo merespon ajakan SBY dengan hati terbuka. Prabowo yang tersudut oleh ulah PKS, melihat ajakan SBY sebagai sebuah kesempatan emas membalas kelicikan PKS. Berkoalisi dengan SBY, maka Prabowo punya kekuatan untuk berbalik menendang PKS dengan tendangan mematikan.

Prabowo memang menahan geram amarah kepada PKS. PKS yang bermanufer merapat ke Demokrat-PAN dan mengusung calon sendiri: Anies-Aher atau Aher-AHY, jelas mengkhianati Prabowo. Demi kekuasaan dan agar kadernya masuk Cawapres, PKS rela mengkhianati Prabowo.

Mengapa PKS meninggalkan Prabowo? Pertama, Prabowo tetap ngotot maju Pilpres dan tidak mau mengambil Aher sebagai Cawapresnya. Prabowo lebih menginginkan Anies. Ke dua, Prabowo tidak mendukung duet Anies-Aher apalagi Aher-AHY. Mengapa? Jika duet Anies-Aher terjadi maka PKS-lah yang lebih banyak ketiban iklan promosi partai.

Bagi PKS, meninggalkan Prabowo yang keras kepala memiliki alasan yang logis. PKS tidak mau lagi berdarah-darah mengorbitkan Prabowo. Prabowo sudah terbukti dua kali gagal di-launching. PKS pun sudah berulang kali berhitung. Jika Prabowo maju lagi pada Pilpres 2019, maka akan kembali gagal menjadi Presiden. Alasan inilah yang membuat PKS enggan mendukung Prabowo sebagai Capres. Sementara jika ada nama baru seperti Aher, ada kemungkinan untuk menang.

PKS memang secara baik-baik sudah bernegosiasi agar Prabowo tidak maju sebagai Capres. Tetapi Prabowo tetap ngotot kembali maju di Pilpres. Alasannya adalah elektabilitas Prabowo masih tinggi. Prabowo masih berharap bisa mencicipi kursi empuk Presiden. Alasan lainnya adalah demi harga diri atau minimal untuk tetap mengerek nama Partai Gerinda.

Bagi PKS, alasan Prabowo di atas sudah tidak relevan. PKS ingin mengambil moment tagar ganti presiden dengan mengorbitkan Anies-Aher. Sementara Prabowo hanya dijadikan sebagai pendukung dengan jabatan king maker. PKS yakin jika ada kader PKS maju sebagai Capres dan Cawapres, maka PKS akan all-out berjuang dan yakin akan menekuk Jokowi.

Mengapa PKS begitu ngotot mengusung salah satu kadernya minimal sebagai Cawapres? Para elit PKS sadar bahwa partai ini akan semakin tenggelam. Konflik internal yang tidak kunjung selesai dan antipati publik kepada PKS yang menolak pembubaran ormas HTI. Satu-satunya cara menyelamatkan PKS adalah mengusung kadernya sebagai Capres atau minimal Cawapres.

Manufer licik PKS memang dapat dimengerti. Namun kalkulasi para elit PKS ternyata terbukti salah dan berbuah blunder. PKS sebelumnya begitu yakin bahwa Prabowo tidak mungkin bermesra-ria dengan SBY. PKS lupa bahwa dalam keadaan terpojok, Prabowo bisa melakukan segala hal. Bahkan bergabung dengan koalisi Jokowi pun Prabowo akan lakukan jika ia terpojok.

Jelas manufer balik Prabowo yang merapat ke Demokrat, membuat PKS-PAN ternganga. Kedua partai ini tidak bisa mengusung calon sendiri karena tidak memenuhi persyaratan KPU. PKS-PAN kini hanya mempunyai dua opsi. Kembali bermanis-manis dengan Prabowo dan mengakui kesalahan atau bergabung dengan koalisi Jokowi dengan kepala tertunduk malu.

Lalu apakah benar Prabowo telah berhitung jika akhirnya memilih AHY sebagai wakilnya? Atau masih mempertimbangkan calon lain seperti Anies dan Gatot Nurmantyo? Jawabannya sangat tergantung pada kerelaan SBY. Jika SBY ngotot tetap mengorbitkan AHY sebagai Cawapres Prabowo, maka Prabowo tidak punya pilihan lain selain kawin paksa secara simbolis dengan SBY dan secara riil dengan anaknya AHY.

Jadi, ketika PKS secara licik mengkhianati Prabowo, maka Prabowo ngamuk, kawin paksa dengan SBY lalu kalau PKS tidak menyesal, akan ditendang dengan jurus kuda lumping. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.