Kolom Ita Apulina Tarigan: BISIKAN MULTATULI

0
494

Barusan saya ke toko buku, niatnya mau beli refill ballpoint. Tidak afdol rasanya ke toko buku tanpa berkeliling. Deretan buka Pramudya dengan cover cemerlang menyambutku di lorong. Saya berkata dalam hati: “Aih, penderitaan Pram kini menjadi fancy.”

Walaupun saya berkata begitu, hati tetap bergetar melihat buku-bukunya.

Di lorong lebih kecil, yang khusus memajang buku-buku satrawan Indonesia, saya lama berhenti. Scanning judul buku dan nama pengarangnya. Masih sama seperti 2 minggu lalu. Saya berhenti di depan Multatuli.

Mendadak berkaca-kaca. Dua hari lalu, supir yang biasa mengantar jemput ke kantor bertanya:” Bu, Multatuli itu siapa? Tadi malam anak saya di desa menelpon. Dia cerita pelajarannya tentang Multatuli. Saya merasa pernah dengar, tapi lupa.”




Saya tertawa mengejek ingatannya: “Kamu lupa ya, pernah mengantar saya ke Lebak beberapa bulan lalu. Kita menghadiri peresmian Museum Multatuli, tapi kamu tidak masuk, malah nongkrong di parkiran.”

Siapa dia Bu? Kenapa masuk buku sekolah? Lalu, mulut saya pun berbusa-busa menerangkan Max Havelaar, Saijah dan Adinda, para bangsawan dan bupati yang korup.

“Wah, koq bisa ya wong Londo membela orang kita?” Katanya.

Saya berjanji akan beri dia buku Multatuli untuk anaknya.

Di rumah, saya berpikir, rugi berikan buku ini padanya. Ini buku keren, cetakan original. Kalau beli ya mahal. Begitulah saya berhitung sambil mengingat sebuah kios buku bekas di Kota Leiden (Belanda) dimana saya membeli buku itu beberapa bulan lalu.

Tapi, hari ini di depan Multatuli cetakan baru ini, saya maluhati. Merasa hiña. Malu pada kata-kata saya yang sok cinta Multatuli, mengutuk korupsi, berapi-api bercerita soal kemanusiaan, tapi masih berhitung membelikan buku untuk anaknya.

Saya malu melihat kopi susu yang Rp. 46 ribu segelas, roti Rp. 25 ribu sepotong, yang saya esruput dengan santai, tapi ribet dengan buku seharga Rp. 60 ribu.
Saya belikan buku Multatuli, tidak dengan harapan apa-apa. Saya membeli untuk menebus kata-kata saya yang sok heroik.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.