Kadang saya miris dan sedih ketika melihat fenomena haji di Indonesia. Ada seorang lelaki tua sudah berumur 55 tahun. Ia memang masih agak kuat tapi umurnya mendekati uzur. Ia bernama Ghazali. Setiap ha ri ia berjalan ke sungai untuk mengeruk pasir dan bebatuan. Ia memang hanya lulusan SD. Tidak bisa baca tulis. Meskipun sangat miskin ia rajin pergi sholat dan pengajian di Masjid.

Agama membuatnya kuat untuk menghadapi hidupnya yang sangat miskin tanpa saudara dan anak istri.

Hidup Ghazali memang tidak pernah berubah setiap harinya. Mengeruk pasir dan memecah bebatuan di pinggir kali yang keruh dan dangkal mulai Pukul 07.00 Pagi hingga 16.00 Sore. Panas menyengat membakar kulitnya yang sudah mengerak dan hitam. Belum lagi jalan kecil licin ketika menyusur ke bawah sungai. Tubuhnya disiksa oleh beratnya kerja. Setelah seminggu atau lebih ia baru bisa menjual hasil keringatnya dengan dihargai bisa sampai Rp. 300 ribu kalau lagi beruntung.

Sumber foto: Tempo.co

Walaupun miskin dan gubugnya penuh rusak dan tak layak huni, ia selalu rajin untuk menabung agar bisa naik haji. Foto tentang Ka’bah dan Mekkah selalu ia pandangi dan rindukan. Sudah 13 tahun ini tabungannya terkumpul dan ia bulan Agustus ini siap berangkat haji. Sungguh penantian yang tak terkira terbalas dengan panggilan naik haji.

Saya agak kecewa dengan pengajian dan apa yang sering diceramahkan kepada khalayak termasuk Ghazali. Kenapa kesadaran agama begitu kuat mengaburkan akal sehatnya. Bukankah puluhan juta hasil dari sedikit demi sedikit yang ia tabung setiap harinya seharusnya bisa digunakan untuk memperbaiki rumahnya yang sudah reyot atau membeli baju-bajunya yang hanya pemberian kaos Pemilu atau untuk modal usaha lain dan sebagainya?

Ia memang bodoh dan dikalahkan oleh kenyataan. Kita tidak bisa menyalahkan Ghazali yang lulusan SD. Tapi bagaimana dengan Ustadz-ustadz yang selalu membiusnya dengan dogma agama yang menjauhkan ia dari realitas? Ghazali-ghazali di negeri ini banyak sekali. Haji adalah mulia tetapi selayaknya kita harus menyadari hidup dan kenyataan ini yang penuh dengan kepahitan.




Siapakah yang paling diuntungkan dari pengorbanan Ghazali-Gghazali Nusantara ini? Agama? Ulama? Pemerintah? Ustadz? Atau adakah yang paling bertanggungjawab?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.