Kolom Asaaro Lahagu: SBY-PRABOWO DI UJUNG EKOR KALAJENGKING

0
784

Ternyata gabungan 2 jenderal tidak menjamin sebuah kekuatan solid. Buktinya, hingga kini, nama cawapres Prabowo belum diputuskan. Aksi tikung Demokrat di koalisi Prabowo memang cantik. Namun tidak menghasilkan goal spektakuler. Peluang besar goal yang diharapkan SBY kepada Prabowo, terancam digagalkan oleh tiang gawang. Umpan cantik SBY kepada Prabowo dengan bola AHY menjadi Cawapres Prabowo terancam gagal membuahkan goal.

Prabowo yang sebetulnya tinggal menembak bola ke gawang kosong, terlihat ragu.

Dengan kata lain, keputusan Prabowo untuk mengumumkan AHY sebagai Cawapresnya masih diliputi keraguan. Padahal sebetulnya tinggal diumumkan oleh Prabowo dengan segala resikonya. Keputusan bulat antara dirinya dengan SBY sudah final. Akibat keraguan Prabowo itu, kerja sama zig-zag satu-dua antara SBY-Prabowo untuk menembak bola ke gawang terancam berakhir tragis alias bubar.

Saat ini memang Prabowi berada dalam dilema besar. Jika Prabowo mengambil AHY sebagai Cawapresnya, konsekuensinya besar. Dampak resikonya juga besar. Mengapa? Prabowo tanpa bertarung, sudah kalah. Ya, kalah total. Prabowo akan dijadikan tumbal kekecewaan PKS yang mati-matian menginginkan Salim Segaf Aljufri menjadi Cawapresnya. Tanpa dukungan PKS, maka koalisi Prabowo timpang dan linglung.

PKS jelas memanfaatkan Ijtima Ulama yang merekomendasikan 2 Cawapres Prabowo, yakni Salim Segaf dan Ustad Abdul Somad untuk menekan habis Prabowo. Jika Prabowo menolak calon yang direkomendasikan Ijtima Ulama yang didukung oleh PA 212, maka resikonya juga besar. Prabowo akan kehilangan dukungan besar dari para pentolan PA 212. Kekalahan di depan mata pun sudah terbayang.

Keputusan memang ada di tangan Prabowo. Memilih AHY-SBY, PKS dan PAN abstain. Memilih Salim Segaf – PKS, Demokrat ngambek. Memilih Somad-PAN, PKS tetap ngambek apalagi Demokrat. Memilih Anies, Gatot, Zulkifi, maka Demokrat, PKS ngambek.

Prabowo, sang jenderal di bawah tekanan. Situasi semakin mumet dan ruwet. Apalagi PKB dari koalisi Jokowi ikut memprovokasi PKS dan PAN. PKB memberi gelagat, akan meninggalkan koalisi Jokowi jika tidak direkomendasi oleh para kyai akibat mandat untuk menjadi Cawapres Jokowi gagal direalisasi.

Gelagat kotor PKB ini memberi angin segar kepada PKS dan PAN untuk membentuk poros Islam dengan meninggalkan Prabowo-SBY. Walaupun baru gelagat, jika poros Islam ini jadi terbentuk, maka mumetnya koalisi baru ini tak kalah ruwet juga. Misalnya siapa Capresnya. Apakah Zulkifi, Anies, Gatot, Muhaimin atau Amin Rais? Lalu, siapa Cawapresnya? Apakah Muhaimin, Salim Segaf atau Abdul Somad?

Dengan waktu yang semakin mepet, poros Islam yang diimpikan sulit terwujud. Jika hal itu terjadi maka politik dua kaki PKB kemungkinan besar kembali ke pangkuan koalisi Jokowi. Sementara PKS akan punya opsi bunuh diri dengan abstain di Pilpres 2019. Opsi lain tetap mendukung Prabowo dengan energi lunglai dan tak bersemangat.

Lalu, bagaimana dengan PAN? PAN sebetulnya berani berkhianat. Ia bisa kembali dengan muka tebal ke koalisi Jokowi atau mendukung AHY di koalisi Prabowo.

Dalam situasi mumet itu, ada perkembangan baru di koalisi Prabowo-SBY. Beberapa elit masing-masing partai mencari jalan tengah dengan menyodorkan Anies sebagai Cawapres Prabowo. Anies dipandang sebagai calon potensial yang sebetulnya lebih diinginkan Prabowo sejak lama. Posisi Anies kelihatannya lebih diterima oleh PAN dan mungkin juga PKS.

Tentu saja jika Anies dipilih oleh Prabowo menjadi Cawapresnya, Demokrat tidak begitu saja mendukung. Mengapa? Apa gunanya mendukung Prabowo-Anies tanpa figur Demokrat di dalamnya? Alasan kuat SBY mengusung AHY adalah demi mengerek elektabilitas partai lewat figur AHY.

Permain catur Suku Karo

Iming-iming kursi menteri kepada AHY pun pasti ditolak oleh Demokrat. Bukankah hal yang sama telah ditawarkan oleh koalisi Jokowi? Bukankah tidak mungkin, jika Prabowo mengabaikan kesepakatan antara dirinya dengan SBY soal posisi AHY, maka Demokrat justru yang abstain atau balik badan kembali menjajaki berkoalisi dengan Jokowi? Jika Prabowo tidak memilih AHY sebagai Cawapresnya, koalisi Prabowo-SBY di ujung tanduk. Sangat berpotensi bubar.

Maka, yang bisa dilakukan Prabowo dalam situasi demikian adalah mencari jalan tengah. Ia bisa memilih calon lain yang relatif bisa diterima di koalisinya. Bisa jadi nama Anies kembali yang menguat atau Gatot menjadi Cawapres. Atau kembali lagi pada konsep lama yaitu Anies-AHY. Anies mungin bisa diterima PKS dan PAN. Sementara AHY tetap pada posisi sebagai Cawapresnya.

Apakah Prabowo dengan latihan militernya mengambil keputusan dengan resiko apapun? Atau justru melarikan diri dari kenyataan sama seperti ia melarikan diri ke Yordania dulunya? Semua tergantung kepada Prabowo. Bertindak tegas, kabur atau yang lain, semua ada resikonya.

Saran saya kepada Prabowo adalah pilih saja AHY. Mengapa? Logistik Cikeas lebih hebat daripada PKS. PKS sekarang minim logisitk dan lebih berperan benalu pada koalisi. Apalagi ke depan PKS diyakini akan semakin tenggelam. Kemenangan hatrick Fahri Hamzah yang mengalahkan PKS di pengadilan, sudah cukup menampar para elit PKS di kubu Sohibul Iman. Akibatnya, PKS sekarang menjadi sarang konflik dengan beberapa faksi di dalamnya.

Jika memilih Demokrat, maka potensi untuk semakin solid ke depan cukup kuat. Pun koalisi Gerindra-Demokrat berpotensi meraih suara besar di Pemilu legislatif. Suara dari pendukung PA 212 itu anomali dan relatif kecil jika berbicara di kancah nasional. Tidak perlu takut jika para elitnya gontok-gontokan, mengancam dan mencabut dukungan.

Ayolah Prabowo. Pilih daku Demokrat. Abaikan PKS dan PAN. Biarkan mereka abstain dan menangis sendiri. Jika mereka tidak bisa dibujuk masuk ke dalam koalisi, biarkan mereka tenggelam dengan ancaman mereka. Jangan biarkan hubungan mesra Gerindra-Demokrat bubar. Jangan biarkan nama SBY Prabowo di ujung ekor kalejengking, punyanya Jokowi. Salah-salah melangkah, ekor kalejengking Jokowi siap menancap hehehe.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.