Kolom Eko Kuntadhi: NASIHAT JOKOWI TENTANG KEBERANIAN

2
726

Imam Ali mengajarkan sebuah doa, “Ya Allah. Jangan jadikan kesabaranku sebagai alasanku untuk menjadi seorang pengecut…”

Ingat kampanye Pilkada Jakarta kemarin?

 

Kita ingat, hari itu adalah jadwal kampanye Ahok. Pria itu lebih memilih blusukan meninjau fasilitas orang-orang miskin di Jakarta. Dia ingin bertemu dengan rakyat. Mendengar langsung keluhan mereka. Selama ini memang dia mendengar langsung keluhan rakyat di Balai Kota. Tapi, ini adalah hari kampanye, dan Ahok ingin bertemu langsung dengan rakyat di tempat mereka tinggal.

UU melindungi seorang Cagub berkampanye di hari yang ditentukan. UU juga menyatakan siapa saja yang menghalangi kampanye adalah melanggar hukum.

Apa yang terjadi? Segerombolan orang menghadang kampanye tersebut. Mereka mengancam Ahok. Mereka menudingnya. Padahal mereka bukan warga dari lokasi tempat kampanye berlangsung. Mereka didatangkan dari jauh, sengaja melakukan penghadangan.

Ahok mengalah. Mengalah pada pelanggar hukum itu.

Bukan hanya itu. Beberapa relawan yang juga melakukan kampanye di berbagai daerah dipersekusi. Ibu-ibu relawan yang mengenakan seragam kotak-kotak diperlakukan dengan buruk.

UU juga melarang masjid dijadikan sarana kampanye. Tapi di mesjid-mesjid mereka menggunakan sebagai sarana agitasi. Beberapa masjid terang-terangan memasang spanduk menolak sholat jenazah para pendukung Ahok. Mereka bukan saja melanggar UU, tetapi juga menjadikan masjid untuk melanggar hukum agama yang memerintahkan menyolati jenazah.

Semua pelanggaran itu dilakukan dengan terang-terangan. Dilakukan dengan terbuka. Mereka menebar ketakutan.

Saat pencoblosan dibuat tamasya Al Maidah. Apa tujuannya? Untuk menakut-nakuti orang yang mau memberikan suaranya saat hari pencoblosan. Warga takut dengan preman berjubah agama yang merampas hak orang lain secara terang-terangan. Melanggar hukum secara terbuka. Menantang aparat dengan bertindak semena-mena.

Waktu itu terjadi demoralisasi terhadap para pendukung Ahok. Mereka dipersekusi. Dihalangi saat kampanye. Ditudinjg dengan sapaan-sapaan buruk.

Orang-orang yang mengedepankan akal sehatnya, memilih diam. Mundur dan enggan berurusan dengan preman berjubah itu. Padahal para preman berjubah itu terang-terangan melanggar hukum. Terang-terangan menjadikan masjid sebagai sarana kampanye.

Bayangkan, kita takut dengan para pelanggar hukum itu, hanya karena mereka lebih beringas? Lalu apa hasilnya? Jakarta kini punya dua ondel-ondel yang memakaikan cadar pada Kali Item. Tampaknya, strategi premanisme, menebar ketakutan, dan persekusi bakal dimainkan lagi saat Pilpres nanti. Mereka yang hobi menyeret-nyeret agama dalam politik akan petantang-petenteng lagi untuk menggolkan agenda politiknya.

Mungkin juga mereka akan meneriakkan lagi soal isu PKI, yang sudah basi tapi sering diulang-ulang seperti kaset kusut. Mereka akan meneriakkan soal aseng, asing. Padahal, ketika Indonesia berhasil mengambil saham Freeport, kelompok merekalah yang ikut menghalangi.

Kita sudah belajar itu. Kita sudah belajar bagaimana mereka menggunakan strategi yang hasilnya malah merusak Jakarta. Bagaimana cara mereka menebar ketakutan dan persekusi untuk berkuasa. Bagaimana pada Pilkada Jakarta bendera dan seruan orang yang mau mengubah dasar negara kita bisa bebas diteriakkan.

Dengarlah apa yang disampaikan Jokowi di depan para relawan kemarin. “Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani.”

Iya, benar. Jangan mau lagi ditakut-takuti dan dipersekusi oleh para penebar ketakutan itu. Jangan lagi berlindung di balik akal sehat untuk mendiamkan segala kelakuan mereka yang menyebalkan. Jangan biarkan mereka menggunakan jargon agama untuk mengancam. Hadapi.

Jokowi mengajarkan kita untuk berani. Berani memperjuangkan hak kita. Memperjuangkan aspirasi kita sendiri. Sama seperti dia mengajarkan Gibran dan Kaesang untuk berani berdiri di kakinya sendiri. Hidup dengan keringatnya sendiri.

Sementara ada orang yang kebakaran celana dalam mendengar pidato Jokowi tentang keberanian itu. Mereka adalah para pengusung Capres bekas menantu Soeharto. Capres yang karirnya di waktu muda diraih dengan bantuan posisinya sebagai keluarga Cendana.

Mereka juga pendukung Cawapres yang sampai sekarang hidup di ketiak bapaknya. Cawapres yang ketakutan karirnya di dunia militer tidak lagi cemerlang, sebab kekuasaan bapaknya sudah berakhir. Cawapres rasa Karedok, karena bau kencur.

Mereka mencela nasihat keberanian dari Jokowi. Sebab mereka memang mengusung pemimpin, yang bahkan dari mudanya menampilkan diri sebagai pengecut. Tidak berani berdiri di kakinya sendiri. Pemimpin yang besar dari kekuasaan mertua dan kursi empuk bapaknya.

Atau pemimpin yang saking tidak punya prestasinya, selalu menyeret-nyeret nama Tuhan dalam kampanye…

2 COMMENTS

  1. “Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani.”

    Betul Pak Jokowi. Inilah yang harus dijalankan, kekuatan fifti-fifti: 50% kekuatan otak (ngomong dan menulis), 50% kekuatan fisik tangan dan kaki.

    • Ralat:

      “Betul Pak Jokowi. Inilah yang harus dijalankan, kekuatan fifti-fifti: 50% kekuatan otak (ngomong dan menulis), 50% kekuatan fisik tangan dan kaki.”
      Mestinya:
      Betul Pak Jokowi. Inilah yang harus dijalankan dalam situasi damai sesama bangsa sendiri, dalam perang dengan musuh, kekuatan fifti-fifti: 50% kekuatan otak (ngomong dan menulis), 50% kekuatan fisik tangan dan kaki.

      MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.