Kolom M.U. Ginting: MENANGGAPI TULISAN HAYATI SILO NUR

0
507

Kolom Hayati Silo Nur ini bagus tentang toleransi:

“Sebabnya, keyakinan yang saya akuipun menganut faham arti toleransi, saling menghargai, saling menasehati antar sesama manusia.”

Inilah ungkapan cita-cita sejati seorang wanita Indonesia dan orang Indonesia umumnya. Dari hati leluhur bangsa ini. Sudah begitu sejak munculnya bangsa ini sebagai satu kesatuan kultural walaupun dari berbagai daerah dan dengan berbagai adat/ kulturnya masing-masing. Hebatnya bangsa negeri ini, beragam dan berbeda seperti dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Siapa sangka adanya kesamaan utama yang pasti akan menentukan masa depan negeri ini.

Ini pula yang terus menerus mau dirusak oleh kekuatan luar divide and conquer internasional neolib/ NWO, seperti pecah belah 1965 menghasut segelintir bikin pembunuhan atas sebagian lain dari bangsanya sendiri. Dan, akhir-akhir ini dengan pecah belah Saracen, 411, 212, teror Thamrin, isu pecah belah ‘5000 senjata’ Polri/ BIN, teror Surabaya hasil brainwashing orang luar, dsb dst . . .

Hasutan dan upaya pecah belah yang belum juga ada tanda akan berhenti. Tetapi, dari segi lain, neolib/ NWO ini terus menerus mempropagandakan semacam toleransi yang sangat berbahaya, yaitu: toleransi homo dan LGBT!

“Neoliberalism uses the promise of sexual tolerance, flexibility, and pluralism in order to fulfill its anti-social, anti-democratic, and violent agenda. Furthermore, it is argued that neoliberal sexual politics require a rethinking of the concept of heteronormativity.” Lihat di tulisan “Desiring Neoliberalism” – Gundula Ludwig

Jadi, demi menjaga toleransi serta saling menghargai dan menghormati sesama manusia, bangsa itu harus juga waspada akan toleransi palsu neolib/ NWO terutama dari segi ‘sexual tolerance’ yang akhir-akhir ini sangat aktif dipropagandakan di Indonesia dan seluruh dunia.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.