Tetiba nama Somad memasuki bursa Cawapres Prabowo. Namanya muncul dari hasil Ijtima Politisi yang mengaku ulama. Hasil itu sendiri sepertinya hanya mempertimbangkan satu hal: Somad lagi naik daun. Popularitasnya sedang di pucuk… Pucuk… Pucuk… Dalam demokrasi elektoral seperti ini, popularitas memang bisa jadi salah satu faktor penentu.

Lihat saja artis-artis direkrut menjadi Caleg, untuk mendongkrak suara partai.

Dalam kasus Somad, popularitas dipadukan dengan politik sentimen keagamaan yang juga sedang marak. Partai seperti PKS sangat doyan isu seperti ini. Pokoknya asal bisa jualan Islam, mereka happy. Pokoknya asal bisa menyeret Tuhan dalam kampanye mereka bisa orgasme. Makanya PKS adalah salah satu partai yang ngotot mendorong Somad. Walaupun sebetulnya mereka berharap Salim Segaf yang dipilih jadi Cawapres Prabowo.

Bahkan, untuk mendesakkan kepentingannya, Presiden PKS berani buka mulut mengatakan Prabowo itu bukan muslim taat. Jadi, kalau mau dianggap muslim, pilihlah calon yang diajukan PKS atau calon dari hasil Ijtimak politisi yang mengaku ulama itu. Otomatis Prabowo akan dianggap muslim taat.

Sebetulnya tidak ada masalah siapa saja diajukan sebagai Cawapres. UU menjamin hak Somad untuk memilih, dipilih maupun dilepeh. Tidak ada yang melarang.

Prabowo juga bisa seumur hidup jadi Capres. UU hanya membatasi masa jabatan Presiden dan Wapres. Kalau cuma calon, seratus kali jadi calon juga gak apa-apa. Tidak ada batasan. Inilah negeri demokrasi.

Namun memilih Somad jadi calin pucuk pimpinan negara hanya karena pertimbangan popularitas dan profesinya sebagai penceramah agama, kayaknya memang kita sedang bermain-main dengan masa depan bangsa ini.

Penceramah agama adalah satu soal, sementara pemimpin negara adalah soal lain. Kita tidak tahu apakah Somad punya pengalaman memimpin? Apakah dia pernah jadi ketua kelompok Siaga atau Penggalang saat sekolah dulu? Apakah dia pernah jadi ketua kelas? Pernah jadi manajer bengkel atau ketua Karang Taruna? Pokoknya, apakah Somad punya pengalaman membawahi orang dalam sebuah tim?

Sebab, kemampuannya berceramah tidak korelatif dengan kemampuannya memimpin. Itu suatu hal yang berbeda jauh. Sama seperti orang yang jago mengaji belum tentu bisa jadi kapten kesebelasan. Atau orang yang rajin ke masjid, belum tentu bisa menang ikut kompetisi matematika.

Tapi, mungkin inilah kita. Keganderungan pada agama kadang membuat akal sehat terkapar. Seolah jika segala sesuatu sudah distempel agama, semua akan lebih baik. Bahkan ada fenomena di masyarakat, seorang dokter spesialis yang sekolah puluhan tahun percaya pada bekam. Hanya karena diisukan itulah pengobatan cara Nabi.

Jikapun dulu ada pengobatan bekam, tapi itu adalah cara pengobatan ribuan tahun lalu dimana dunia kedokteran belum semaju sekarang. Untuk jadi dokter dibutuhkan sekolah serius puluhan tahun. Sedangkan untuk membekam, orang yang tidak lulus SD juga bisa melakukannya. Asal jidatnya hitam dan celananya cingkrang.

Herannya bekam dianggap bisa mengobati penyakit jenis apapun. Dari pilek sampai jantung. Dari sakit kepala sampai epilepsi. Bekam jadi sama kayak khilafah bagi HTI. Apapapun penyakitnya bekam solusinya. Apapun persoalan bangsa, khilafah jalan keluarnya.

Padahal tidak pernah ada contoh satu negara maju dengan menerapkan sistem khilafah. Yang ada negara-negara yang di dalamnya banyak orang ngotot dengan khilafah malah hancur lebur. Lihat Syuriah. Lihat Irak.

Sama seperti tidak pernah ada bukti ilmiah bekam bisa menyembuhkan penyakit. Teman saya yang sakit perutnya, pernah dibekam. Esoknya perutnya makin sakit. Pas ke dokter, dia harus dioperasi karena usus buntu. Bekam tidak berfungsi apa-apa untuk mengobati penyakitnya.

Orang boleh mengajukan siapa saja sebagai pemimpin. Tapi sebetulnya yang harus diajukan itu bukan hanya sosoknya. Tetapi yang lebih penting itu prestasi dan pengalamannya. Juga kemampuan dan capaiannya. Jangan sampai rakyat Indonesia nanti memilih Somad dalam karung.

Terlepas dari apapun, saya masih ingat sebuah ceramah Somad yang saya saksikan videonya via Youtube. Untuk berkampanye tentang khilafah, dia pernah bilang bahwa Rasulullah telah gagal dalam menegakkan Islam rahmatan lil alamin. Oleh sebab itu, untuk menambal kegagalan Rasul diperlukan khilafah.

Bagi saya bahkan sebagai penceramah agama saja, Somad berani kurang ajar kepada Kanjeng Nabi. Apalagi nanti sebagai Cawapres, dia mungkin akan kurang ajar juga hendak mengganti sistem pemerintahan kita? Sebab orang tahu kedekatan Somad dengan HTI. Pandangannya soal khilafah sudah banyak beredar.

Jika harus memilih, saya lebih suka Mamah Dedeh yang ditunjuk menjadi Cawapres Prabowo dibanding Somad. Mamah Dedeh populer. Mamah Dedeh juga biasa menerima Curhat, bukan type orang curhat yang penuh keprihatinan. Mamah Dedeh juga seorang penceranah agama. Apalagi kurangnya? Yang paling penting, Mamah Dedeh tidak punya pretensi untuk mengubah negara ini jadi khilafah.

“Iya, mas. Saya setuju Mamah Dedeh jadi Cawapres. Biar Prabowo juga ada pedamping perempuannya. Tidak gersang terus,” ujar Abu Kumkum.

“Kurangnya satu, mas,” ujar Kumkum lagi. “Apakah Mamah Dedeh termasuk wanita sholehah? Berat badannya itu, lho…”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.