Kolom Asaaro Lahagu: AHOK BERCAHAYA, DUKUNG JOKOWI-MA’RUF (Luhut Habisi Provokator)

0
845

Ribuan provokator di kubu lawan sedang bergerak. Pendukung Ahok vs Jokowi kini sedang diadu. Tujuan provokator hanya 2: Membenci Jokowi atau menjadi Golput. Wacana Golput pun menyeruak di mana-mana. Kekecewaan para pendukung Ahok kepada Jokowi, terus dibakar di segala tempat.

Tindakan Ma’aruf Amin yang memvonis Ahok telah menghina Al-Quran dan Ulama, diangkat tinggi-tinggi. Masa lalu Ma’aruf Amin vs Ahok dimunculkan secara membabi-buta. Narasi permusuhan dibangun dengan menolak lupa.

Ma’ruf adalah aktor utama yang menghabisi Ahok. Dipicu fatwanya, demo menggelenggar, mengguncang DKI akhir 2016 hingga awal tahun 2017. Perjuangan Ahok semakin berat, ketika Ma’ruf datang di pengadilan dan memberi kesaksian memberatkan kepada Ahok.

Lewat demo bergelombang, para penegak hukum ditekan habis-habisan. Hasilnya, Ahok menjadi tersangka. Politisasi ayat dan mayat kemudian terjadi secara masif. Jakarta menjadi kota SARA paling mengerikan.

Ahok pun akhirnya kalah menyakitkan dari Pillgub DKI. Tidak cukup sampai di situ, Ahokpun masuk penjara. Di penjara Ahok diterpa badai dahsyat. Isterinya satu-satunya dan belahan jiwanya, Veronika, selingkuh tak terkendali. Ahok sudah jatuh, tertimpa tangga pula dan terjerembab.

Para provokator tak berhenti. Tensi politik dimanfaatkan secara licik. Cerah dan ruang-ruang fitnah disusupi. Narasi kebencian, kedengkian dan dendam kesumat dibangun. Sakit dan dendam Ahok diungkit kembali. Para provokator ikut menyamar sebagai pendukung Ahok. Ada juga yang menyamar sebagai pendukung Jokowi. Mereka sesuara berbalik menyerang Jokowi dan Ma’ruf. Gaung suara mereka bulat: Menjadi Golput.

Para provokator dengan liar dan licik memanfaatkan keterbatasan Ahok di penjara. Ahok jelas tak bisa berbicara langsung dengan media. Pun dia tidak bisa menulis status di facebook atau di twitternya. Jika ia menulis surat, maka para provokator dengan mudah mengeditnya. Hoax akan menghujani ruang publik.

Melihat pergerakan para provokator yang luar biasa, Luhut B. Panjaitan, sekaligus Menkopolhukam, langsung turun tangan. Ia bertemua dengan Ahok di penjara. Kepada Luhut, Ahok menegaskan bahwa ia mendukung duet Jokowi-Ma’aruf. Bahkan Ahok ingin masuk menjadi bagian tim kampanye Jokowi-Ma’aruf.

Pernyataan Luhut itu langsung membuat para provokator lari terbirit-birit. Luhut terus mengambil kendali. Ia bergerilya ke sana ke mari mengumandangkan dukungan Ahok kepada Jokowi-ma’ruf. Luhut terus membungkam provokator dengan membongkar skenario jahat adu-domba mereka.

Ternyata Ahok di penjara telah sedang menguliti jati dirinya. Ia bukanlah seorang pendendam. Ia justru mengampuni musuhnya. Dan, bukti pengampunan itu, ia kumandangkan lewat dukungan kepada Jokowi dan bekas musuhnya Ma’aruf Amin. Inilah cahaya Ahok yang luar biasa.

Para pendukung Ahok kini dengan cepat kembali sadar telah diprovokasi. Tulisan-tulisan status di Sosmed yang mengajak Golput semakin mengecil. Para pendukung Ahok dan Jokowi kembali satu suara. Demi NKRI, demi negara tercinta berlandaskan Pancasila, perpecahan harus dihindarkan. Suara bulat: Mendukung Jokowi-Ma’ruf menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2019-2024.

 

Ahok Bercahaya

Dukungan Ahok kepada Jokowi-Ma’ruf lahir dari imannya yang kuat. Mengampuni musuh adalah perkara yang berat bagi seorang manusia. Tetapi Ahok telah melompati fase itu. Di penjara, ia telah menguliti jati dirinya.

Ahok dengan ikhlas mampu mengampuni musuhnya. Dendam adalah masa lalu yang terus-menerus menggerogoti jiwa. Mengampuni adalah energi super untuk membangun pernik hidup masa depan. Itulah sebabnya seberapa besar keimanan seseorang, bisa dilihat seberapa mampu dirinya mengampuni orang lain.

Ahok sesuai dengan namanya, Basuki Cahaya Purnama, bercahaya dimana pun ia berada. Kendatipun di penjara, Ahok dengan cahayanya masih bisa memberikan motivasi kepada semua orang. Insting manusianya sebagai manusia pekerja, masih bisa menghasilkan uang.

Di penjara, Ahok mampu menulis dan menjual buku. Hasil penjualan buku itu yang mencapai Rp 2 miliar, ia salurkan membangun ekonomi di sekitar penjara dan mensubsidi beberapa keluarga di luar penjara. Luar biasa.

Ahok sebetulnya bukanlah sosok istimewa. Ia adalah manusia biasa, sama seperti kita. Ahok bukanlah nabi, bukan santo, bukan malaikat apalagi Tuhan seperti yang disematkan oleh para penentangnya. Lalu, di mana letak perbedaannya dengan manusia lain? Perbedaannya terletak pada penghayatan imannya. Ahok beriman dengan kata dan perbuatan. Sesederhana itu.

Cahaya kecil Ahok itu tentu saja menjadi sangat berharga dan bernilai tinggi di tengah pekatnya kegelapan malam politik kotor dan keji. Cahaya itu menjadi terang, menerobos ke mana-mana mengikuti arah jalan Ahok ke manapun ia pergi. Ia tetap bertahan dan mengibarkan cahayanya.

Cahaya kecil Ahok itu anomali (menyimpang dari kebiasaan). Ia hadir di tengah-tengah kaum beragama yang berperilaku munafikin dan mengembalikan nilai-nilai yang sebenarnya menjadi nilai dasar orang beragama, yaitu keadilan sosial.

Ketika Ahok masih gubernur, cahaya Ahok cahaya Ahok menyentak para pejabat di republik ini. Jabatan bagi Ahok adalah sebuah kesempatan untuk menegakkan peraturan, melawan para maling, preman, mengambil kembali tanah negara, memberantas tanpa takut para tikus-tikus anggaran, dan seterusnya. Ahok menggunakan cahaya jabatannya untuk memajukan negeri ini dan membangun keadilan sosial.

Tidak lama lagi Ahok akan keluar dari penjara. Sepak terjangnya dan kritik pedasnya kembali menjadi konsumsi publik. Di dalam penjara saja ia masih ditakuti apalagi saat keluar dari penjara. Nama Ahok memang telah menjadi momok menakutkan bagi para koruptor, kaum beragama munafikin, para mafia dan maling anggaran.

Ketika Ahok dengan tegas mengumandangkan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf, para provokator diam tak berkutik. Para pendukungnya kini kembali sadar dan mengedepankan masa depan bangsa dan negaranya. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.