Kolom Boen Syafi’i: GOLPUTMU MERUSAK MASA DEPAN INDONESIA. MAU?

1
300

Pro kontra pemilihan Cawapres Pak Jokowi tibaknya bin ternyata masih berlangsung sampai detik ini. Yang pro memilih legowo, karena mereka beranggapan siapapun wakilnya, yang penting “sang driver” tetaplah Pak Jokowi. Yang kontra ternyata masih menyimpan dendam lama, karena Cawapres Pak Jokowi dulunya pernah “berbenturan” dengan karib sehidup semati sang Presiden Indonesia ini.

Dendam, sikap yang wajar dimiliki oleh semua manusia. Dan, dendam ternyata bukan cuma dimiliki oleh manusia saja.

Sang iblis yang dulunya adalah malaikat paling senior dan ahli ibadah di syurgaNya pun menyimpan dendam membara terhadap semua keturunan Adam dan Hawa. Lha, kalau manusia yang “katanya” makhluk paling sempurna, kenapa juga masih mau disamakan dengan iblis yang sampai saat ini menyimpan dendam membara?

Toh, yang kita idolakan tidak mempunyai rasa dendam sama sekali. Lihatlah ketika karibnya terkesan “lepas tangan” dan membiarkan dirinya masuk bui. Tetapi, apakah lantas di balik bui beliau berubah seperti Jonru atau si Alfian Tanjung yang menjadi hatter’s utama Pak Jokowi? Ataukah beliau langsung berikrar, ikut partainya si Mardani?

Tidak, karena beliau tahu bahwa kepentingan bangsa ini harus diutamakan terlebih dahulu, daripada hanya sekedar pengorbanan fana yang ada di dunia. Sampai saat ini, nama Pak Jokowi sekaligus karibnya inilah yang paling spesial di hatinya. Seorang karib sejati itu pasti mempunyai chemistri dan rasa saling percaya diantara keduanya.

Kalau tokoh yang kita idolakan saja saling percaya, kenapa rasa percaya dari kita langsung luntur dan musnah begitu Pak Jokowi memilih Cawapresnya? Pak Jokowi bukanlah seorang ambisius yang menawar-nawarkan dirinya untuk meraih sebuah jabatan. Dari Solo sampai Istana Merdeka, pak Jokowi itu dicalonkan bukannya mencalonkan. Untuk saat ini, tiada lagi yang bisa dipercaya selain Pak Jokowi untuk mengurus bangsa ini. Di gerbong Capres lainnya, terdapat penumpang gelap yang berniat merusak ke Bhinekaan di negeri tercinta Indonesia.

Keputusan Golputmu justru akan menyengsarakan idola kita di dalam bui sana, jika di 2019 kaum intoleran yang berkuasa. Maka segala keputusan tolong dipikirkan dengan kejernihan hati, jangan memakai emosi apalagi dengan dendam membara. Berikan kepercayaan kepada Pak Jokowi, jika memang kita mencintai ke Bhinekaan di Bumi NUsantara. Semua bukan untuk Pak Ahok ataupun Pak Jokowi, tetapi demi cita-cita yang lebih besar lagi, yakni demi Indonesia dan demi masa depan anak cucu serta generasi penerus bangsa nantinya.

Ingat, sukai beras kencur dan jauhi fifis unta biar otak kita tidak mengsle bin keseleo seperti mereka.

Salam Jemblem..

 

1 COMMENT

  1. Mari maju dengan jantung jantan!

    “Semua bukan untuk Pak Ahok ataupun Pak Jokowi, tetapi demi cita-cita yang lebih besar lagi, yakni demi Indonesia dan demi masa depan anak cucu serta generasi penerus bangsa nantinya.” Kesimpulan brilian.
    Inilah pedomannya. Kalau cawapresnya pernah ‘berbenturan’ dengan Ahok kawan seperjuangan capresnya, itu sudah lalu. Tetapi cawapres ini bukan menculik dan menghilangkan orang kayak jaman dulu itu. Ini harus jelas perbedaannya dalam ingatan dan praktek kita sekarang ini.

    Kesalahan Ma’ruf bisa dimasukkan kedalam kesalahan manusiawi biasa dalam bikin pertimbangan sebagai seorang manusia, terbentur masuk perangkap emosi terutama juga mulanya karena ‘keseleo’ mulut Ahok (juga kesalahan manusiawi yang sangat biasa juga) dan Ahok masuk penjara lewat pengadilan (adil). Yang lebih penting mungkin ialah karena ‘keseleo’ Ahok itu dipelintir pula oleh Buni Yani sehingga betul-betul bikin banyak orang marah. Pemelintiran ini bisa juga dihasut oleh kekuatan luar dalam strategi besar neolib/NWO memecah belah kekuatan nasional itu.

    Sikap masa lalu Ma’rum Amin sebagai cawapres Jokowi telah pernah juga bikin ‘sakit hati’ banyak pendukung Ahok yang juga pendukung Jokowi tentunya. Kesalahan/kekeliruan yang bersifat manusiawi harus bisa dimaafkan. Bedakan dengan penentang Ahok yang tidak bisa memaafkan, tetapi pendukung kepentingan nasional harus bisa memaafkan sehingga bisa tampil beda dalam usaha mengutamakan kepentingan nasional kita itu. Terutama juga harus waspada hasutan kepentingan luar yang bikin divide and conquer menuju NWO itu, dimana kita sudah punya pengalaman dalam gerakan pecah belah 1965. Kita mau dihasut untuk membantai 3 juta bangsa kita sendiri! Sim sallabim, kekuatan nasional Soekarno jatuh dan SDA triliunan dolar menguap tanpa asap. Pelajari dan jangan diulangi lagi.

    Sekarang semua harus melihat kedepan, kepentingan nasional tadi!

    “Don’t waste your time looking back at what you’ve lost. Move on, life is not meant to be traveled backwards. Look in the future and WIN it.”

    Mari semua terutama generasi muda kita, maju kedepan bersama Jokowi dengan kemauan keras dan dengan jantung jantan!

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.