Kolom Acha Wahyudi: JENDERAL ITU

0
761

Teringat di sekitar awal Tahun 2013, setahun sebelum Pipres 2014, pada suatu malam, mamiku membawa seorang perempuan setengah baya yang masih keluarga ayahku (aku sebut dia Tante M) beserta seorang lelaki yang dipanggil dengan sebutan Ustadz. Keduanya berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka menginap di rumahku. Mami mengatakan mereka baru saja mengunjungi rumah seorang jenderal di H.

Mami mengajak mereka bermalam di rumahku karena kebetulan Bukit H berseberangan dengan komplek rumahku.

Malam itu mereka membahas pertemuan tersebut. Dengan jelas aku mendengar mereka diundang oleh sang jenderal ke Jakarta dalam misi gerilya pecitraan baru sang jenderal menjadi lebih Islami dan ingin meraih dukungan kaum muslim yang mayoritas di negeri ini demi menghadapi Pilpres 2014.

Ini mengekor taktik yang digunakan SBY dengan membuat majelis-majelis taklim di seluruh Indonesia untuk digunakan sebagai mesin propaganda yang berhasil membuatnya terpilih kembali sebagai presiden. Meskipun ketika itu sudah banyak kasus mega korupsi yang melibatkan presiden dan keluarganya. Kasus terheboh kala itu adalah kasus Bank Century yang sudah mulai diusut oleh KPK.

Dalam pertemuan tersebut Tante M ditunjuk sebagai koordinator yang merekrut ulama di Indonesia bagian Timur. Tentu dengan imbalan yang tidak sedikit. Ketika itu, mamiku yang ikut serta ke mansion besar di H tersebut, ikut kebagian amplop karena dikira juga seorang Ustadzah. Mengetahui hal itu, aku meminta mami untuk menyumbangkan saja uang tersebut kepada orang yang membutuhkan.

Saat itu, aku ga ambil pusing, karena elektabilitas Sang Tukang Kayu sederhana jauh lebih unggul dibanding lawan tandingnya sang Jenderal H. Malah kemungkinan besar aku dan mas Didi ga ikutan nyoblos seperti seringkali kami lakukan pada Pilpres di masa lalu karena kami tinggal di wilayah Bogor, sedangkan KTP tetap DKI Jakarta. Males urus formulir untuk pindah TPS pemilihan.

Setahun telah berlalu. Akan tetapi, sekitar kurang lebih 4 minggu sebelum Pilpres, kami sedang makan siang ketika itu bersama ayah dan ibuku yang sedang datang berkunjung ke rumah. Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku peristiwa mencekam pada Tahun 1998 lalu. Aku ingat bagaimana kerusuhan hampir menjalar ke seluruh negeri. Jalan-jalan dijaga polisi dan tentara, di beberapa lokasi terlihat asap mengepul.

Sesekali terdengar bunyi tembakan di kerumunan massa. Kantor dipulangkan siang hari. Tidak ada kendaraan umum yang melintas di Jl. Sudirman, karena sudah diblokade. Banyak pendemo di Semanggi. Kami harus berjalan sampai Polda ke tempat mobil jemputan komplek perumahan kami menunggu. Kami lihat banyak snipper berpakaian hitam berambut gondrong ada di beberapa tempat strategis.

Keesokan harinya, berita begitu banyak rumah dan toko yang dianggap milik etnis Cina dibakar, dan para wanitanya diperkosa, membuat kami semua sesak dan marah.

Saat kerusuhan di Semanggi itu, teman yang kebetulan adalah salah seorang Komandan BIN wanti-wanti agar jangan keluar rumah karena sedang ada upaya makar. Semalam ada pergerakan prajurit Kostrad bahkan dari luar kota sedang menuju istana tanpa komando Menpangab.

Habibie yang baru beberapa waktu menggantikan Soeharto menjadi presiden, harus segera dilengserkan. Sudah jelas siapa yang akan menggantikannya. Sang jenderal karbitan yang ambisius! Dia bermimpi akan suksesnya Gerakan Dejavu G30S menggulingkan pemerintahan yang sah mengkopi-paste yang terjadi pada tahun 1965. Tentu dengan bantuan CIA di belakangnya, persis sebagaimana peristiwa berdarah tahun 1965 itu.

Beruntung ada jenderal berhati lembut kesayangan Soeharto juga Habibie, yang selalu menjadi batu sandungan Jenderal H, yaitu Jenderal Wiranto sebagai Menpangab ketika itu. Dengan berani dia memposisikan diri sebagai penjaga konstitusi, dibantu jenderal-jenderal lain yang sudah muak dengan tingkah anak emas yang selama ini selalu mendapatkan previledge. Wiranto mengamankan Presiden Habibie dan keluarganya ke beberapa tempat berbeda.

Seketika terbayang wajah lembut dan mata cokelat indah Bu Ainun saat menerimaku dan atasan kerjaku dulu di ruang keluarganya di kediaman pribadi mereka di Jl. Patra Kuningan XIII. Sebagai seorang dokter anak, beliau bicara banyak tentang keinginan dan mimpinya melihat anak Indonesia tumbuh menjadi generasi cerdas. Di akhir pertemuan itu, kami menerima cek berjumlah besar sebagai zakat dari keluarga Pak Habibie.

Ibu Ainun wanti-wanti tidak perlu dipublikasikan. Pak Habibie mendapat penghasilan besar dari royalti perusahaan pembuat pesawat besar seperti Boeing. Sedangkan uang gaji yang beliau dapatkan dari negara sejak beliau menjabat Menristek, tidak pernah digunakan. Uang gaji yang dikumpulkan puluhan tahun itu di kemudian hari disumbangkannya untuk mendirikan The Habibie Center yang digunakan bagi kegiatan sosial berfokus pada pendidikan anak-anak yang tidak mampu meneruskan sekolah.

Di saat yang sama, ketika itu, kami lihat putri sulung Soeharto menyumbangkan beberapa gelang keroncong emas yang sedang dipakainya. Disorot puluhan kamera. Fragmen yang sangat jomplang!

Pak Habibie dan Ibu Ainun tentu sangat berduka dan sedih melihat kondisi bangsa. Sungguh beliau tahu siapa yang sedang berlakon di belakang kerusuhan dan usaha makar ini. Demi menghentikan gerakan makar tersebut, Presiden Habibie langsung mencopot jabatan Jenderal H sebagai Panglima Kostrad.

Usaha makar itu akhirnya gagal. Tetapi, sudah sempat banyak skenario lain yang disusun. Salah satunya adalah black campaign bahwa Habibie adalah antek Cendana, yang hanya sebagai perpanjangan tangan Cendana. And, it worked! Anti Keluarga Cendana yang saat itu sedang viral, mampu membuat citra Pak Habibie yang sejatinya seorang pemimpin cerdas, jujur, anti korupsi, sederhana dan juga penganut Islam yang taat, berubah dengan mudahnya.

Demo-demo yang meneriakkan Habibie adalah antek Cendana hampir setiap hari mengisi berita kaca. Sungguh sebuah ironi, dimana pada kenyataannya sampai saat meninggalnya Soeharto, The smiling Jenderal dan keluarga Cendana sampai detik ini menganggap Habibie sebagai musuh mereka.

Selanjutnya, provokasi disintegrasi dan gerakan pasukan senyap di Dili Timor-Timor

Para petinggi militer pro Habibie tahu, siapa yang menggerakkan pasukan hantu tersebut, dan telah berhasil menjadi celah yang tepat untuk merontokkan pemerintahan Habibie yang jelas tidak bisa dibeli oleh para kanibal kapitalis Yahudi, penguasa senat negeri Paman Sam. Selain itu, Habibie dianggap terlalu Jerman, dan kita tahu bahwa Jerman, walaupun peta politik telah berubah saat ini, states walau tidak tampak terang-terangan menganggap Jerman adalah ancaman setelah sebelumnya menjadi musuh besar pada Perang dunia I dan 2.

Apakah Rakyat Indonesia yang mayoritas buta politik mengerti dan tahu informasi ini? Hmm ….. kemungkinan besar mereka tidak tahu tentang rumitnya percaturan politik di Indonesia. Apalagi politik dunia.

Kembali ke Timor-Timor,. Penduduk Timor-timor pun meradang. Umpan telah berhasil tepat mengenai sasaran. Banyak korban yang jatuh di Dili dan, endingnya jelas. Dunia menganggap pemerintahan Indonesia tidak adil dan telah melakukan atau membiarkan kekerasan menimpa rakyat Timor Timor.

States dan beberapa negara sekutunya sebagai anggota tetap DK PBB telah siap menggelontorkan Resolusi PBB agar pemerintahan Indonesia wajib menyelenggarakan referendum bagi rakyat Timor Timor dan, dengan adanya operasi militer, mengacak-acak Timor-Timor. Sudah dapat dipastikan apa yang akan dijadikan pilihan bagi penduduk Timor Timor. Mereka memilih untuk merdeka, memisahkan diri dari Indonesia.

Dengan lepasnya Timor-Timor, banyak begundal politik di DPR yang mayoritas mewakili kepentingan Cendana yang tetap menjadi partner para kapitalis asing, yang jelas kapitalnya tidak berseri. Maka, seperti yang diduga, dengan mudahnya menjatuhkan impeachment bagi pemerintahan Habibie.

Era Habibie yang cerdas, ikhlas namun lugu telah berakhir. Habibie yang telah menurunkan nilai tukar dolar dari Rp. 16 ribu menjadi Rp. 6 ribu hanya dalam waktu singkat, dan pemerintahan yang lebih bersih, dengan turunnya Habibie kita kembali mundur beberapa dekade ke belakang.

Balik ke saat makan siang bersama orangtuaku. Saat ingatanku kembali ke tahun 1998, dalam bayanganku terlihat banyak orang berseragam tentara. Beberapa berambut gondrong, mengangkat mayat dalam gelap. Lalu mengikat kaki mayat dengan pemberat dan menenggelamkannya ke dalam air.

Entahlah, aku sering mendapat imajinasi-imajinasi seperti ini. Dulu aku anggap vision, tapi setelah aku banyak baca buku tentang cara kerja otak, aku memahami ini sebagai imajinasi yang terbentuk dari informasi-informasi yang kerap aku terima dari berbagai sumber militer. Karena beberapa teman baikku adalah Intel yang memiliki banyak informasi valid.

Tiba-tiba aku berdiri dari kursi makan dan mengatakan dengan tegas:  “Papi…. Mami…. please jangan pilih P. Indonesia akan kembali ke masa gelap. Papi engga akan bebas bisa pergi pengajian seperti saat ini. Dia hanya memanfaatkan Umat Islam untuk bisa berkuasa. Setelah keinginannya tercapai, maka dia akan memberlakukan hal yang sama seperti yang dilakukan mantan mertuanya di masa lalu!”

Papi bingung karena tiba-tiba saja aku berkata setengah berteriak saat kami semua sedang makan siang bersama. Hmm….. anak perempuan gue satu-satunya ini kumat lagi. Mungkin begitu Papi pikir dalam benaknya. Hehe ……

Lalu Papi menjawab: “Aah, tidak mungkin itu, P berbeda, kamu tidak tahu apa-apa!”

Aku menjawab: “Papi ingat kan, di Tahun 1984. Suasana pengajian begitu mencekam, saat kita mendapat kabar kalau teman-teman Papi di Tanjung Priok di cabang pengajian yang sama dengan pengajian kita, dibombardir peluru dan dibuldoser, dikubur tanpa nama di Pondok Rangon?!”

Papi menjawab: “Itu kan ulahnya LB Moerdani, bukan P!”

Aku menjawab: “Tapi Jenderal H saat itu juga sudah jadi Komandan Penanggulangan Terror Kopassus kan, Pap? Saat kerusuhan 1998, jelas dia bermain. Ingat lho seluruh keluarganya itu siapa dan alasan mengapa dia masuk Islam dengan melakukan percobaan kudeta terhadap Habibie yang dianggap terlalu Islami dengan ICMInya. Dan juga papi tahu kan, kalau dia sudah mengakui memerintahkan Pasukan Mawar untuk melakukan penculikan dan pembunuhan aktivis sesuai dengan keinginan mantan mertuanya?”

“Itu semua fitnah!” Jawab Papi

“Fitnah bagaimana? Dia sudah mengakui sendiri saat diperiksa, bahwa dia melakukan tindakan keji tersebut tanpa perintah atasan langsungnya, akan tetapi melakukan perintah Presiden ketika itu. Saat akan dimahmilkan, para petinggi TNI yang memeriksa P ketika itu mempertimbangkan terjadinya perang di dalam tubuh TNI karena Soeharto masih mempunyai pengaruh kuat dalam TNI walaupun sudah lengser sebagai Presiden, maka P diberhentikan dari Militer serta diberikan opsi untuk keluar dari Indonesia dan tidak lagi masuk ke dalam percaturan politik di Indonesia. P mengambil opsi itu dan pergi ke Yordan, tapi kemudian dia langgar!”

Papi menjawab: “Kamu sok tahu, P itu menculik aktivis karena mau menyelamatkan aktivis tersebut! Kamu itu memang suka berpihak pada cerita versi kaum komunis!”

Grhhh…. aku mulai meradang…

“Bagaimana dengan apa yang dikatakan Lee Kuan Yew yang jelas mewakili kubu Barat kapitalis dalam bukunya, bahwa P mempunyai kelainan behavior. Hasil pemeriksaan psikologis saat dia mau diangkat sebagai perwira, bahwa dia tidak lolos tes karena mengidap salah satu gangguan kejiwaan. Bipolar or something gitu, tapi karena dia menantu presiden, terpaksa diloloskan.”

Papi…”@#$???????!???!???”

Diskusi berat itu terus berlanjut. Saat nada yang kami mainkan sudah mulai masuk ke dalam nada tinggi, mami mencolek kakiku. Memberi kode untuk mengalah. Diskusi berakhir dengan kami tetap pada pendirian masing-masing.

Seketika aku merasakan awan hitam menyelimuti negeri ini. Tak lama kemudian, aku segera ke ruang kerjaku. Membuka facebook yang selama ini tidak terlalu sering aku buka. Betapa kagetnya diriku saat melihat timeline sebagian besar temanku menjadi pendukung Mr P.

Oalaah…. negative and black campaign telah berhasil dan sukses mencapai sasaran…. aku sedih… tiba-tiba merasa sendirian dan nelongso…

Saat itulah…aku mulai mencari akun-akun lain. Akun relawan Jokowi, di sanalah aku bertemu kalian semua… dr. Otto Rajasa, Muhamad, Nordeen Abdellah, dr Dinuk Srihardini, dr Taufiqurrachman Opik…Bang Denny Siregar, mas Andi Wibowo dan begitu banyak yang lainnya yang tidak dapat aku sebut satu per satu. Thank to universe!

Aku mulai melakukan kampanye dalam tulisan-tulisan yang mungkin hanya dibaca segelintir orang. Aku parkir mobilku di rumah. Mulai naik angkot dan kereta ke sana ke mari, membuka percakapan dengan banyak orang di sana. Setiap ke pasar, ke rumah sakit, ke mana saja, aku selalu menyapa orang. Berkenalan dan membuka obrolan mengenai Jokowi… Jokowi dan Jokowi.

Setelah penyelenggaraan konser yang diadakan oleh Slank di GBK, aku merasakan perasaanku menjadi lebih baik. Awan-awan hitam menggantung itu lenyap seketika. Aku seperti melihat Jokowi tersenyum padaku.

Manusia baik, jujur, cerdas, adil, apa adanya tanpa kepentingan pribadi, yang telah dan sedang bekerja keras bagi seluruh rakyat. Tanpa melihat dan memilih apakah kita beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu atau Free Thinker seperti aku dan Atheis seperti kamu. Engga usah nengok ke sana ke mari. Iyaa… kamu!!!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.