Kolom Ganggas Yusmoro: SALAHKAH JIKA MEREKA DIKATAKAN POLITIKUS TINJA?

Antara Joni, Karnaval, Pembukaan Asian Games dan Politikus

1
502

Ketika Joni kecil dengan sigap memanjat tiang bendera diiringi rasa khawatir dan deg-degan, bayangkan jika tiba-tiba Joni kecil tergelincir, tentu taruhannya nyawa. Tapi, tanpa memikirkan resiko, demi Sang Merah Putih berkibar, tanpa pamrih, akhirnya usaha dan perjuangan Joni berhasil.

Ketika kemarin Pak Jokowi membuka perhelatan akbar Asian Games, yang tentu saja persiapannya harus maksimal agar para peserta pesta akbar dari seluruh Asia tidak kecewa, kita sebagai Bangsa Indonesia dibuat bangga dan meremang bulu kuduk. Satu kata buat Pak Jokowi dan bangsa Indonesia: LUAR BIASA!

Namun, kemarin juga kita semua masih merasa nyesek, merasa mual ketika seorang Ketua MPR, Zulkifli Hasan yang Ketua Partai PAN berbicara ngawur. Berbicara seperti orang goblok. Berbicara tanpa data soal utang negara. Memframing, menggiring opini agar sebagian rakyat Indonesia menjustifikasi pemerintahan Jokowi. Tidak mau introspeksi diri bahwa adik-adiknya terlibat maling alias korupsi.

Sebagai seorang Ketua MPR, berbicara pada acara resmi dengan menjustifikasi adalah perilaku amoral, perilaku yang tidak pantas, seperti Cah Angon Kebo!

Juga, seorang petinggi partai yang mengaku beragama, mendramatisasi situasi perekonomian dengan mengatakan tidak berani makan telor ceplok karena merasa miskin, jelas sangat tidak elok. Tidak sesuai fakta bahwa apa yang diucapkan hanyalah provokatif.

Karnaval dengan kostum #Nggilani yang dipertontonkan oleh anak-anak TK dengan menenteng senjata adalah menjadi bukti kita semua harus waspada bahwa paham radikal yang diusung oleh mereka sangat membahayakan Ke Bhinnekaan dan Pancasila.

Jika Joni-Joni kecil yang tinggal di pelosok mempunyai Jiwa Patriot, mempunyai jiwa Nasionalisme, justru politikus yang ada di Senayan sangatlah kontradiktif. Mau enak sendiri. Korupsi dianggap cobaan, dianggap ujian.

Apa salah jika Politisi PKS dan PAN tersebut dibilang Taeeekk?

Spectacular!!! 😍😍Rasanya bangga banget waktu nama “Indonesia” disebut! Semangat!! We love and proud of you, Indonesia! 🇮🇩🇮🇩#AsianGames2018#OpeningCeremony

Posted by Kharisma Kharisma on Saturday, August 18, 2018

1 COMMENT

  1. Dari agama ke ekonomi
    Setelah Jokowi menetapkan Ma’ruf Amin, menyerang presiden dari sudut agama seperti 411, 212, HTI, FPI, Rizieq Shihab, pakai Ahok dsb, para penyerang Jokowi menganggap cara ini sudah obsolete. Bahkan sangat berbahaya bisa bunuh diri kalau masih memakai cara lama itu. Tidak heran juga mngapa Fadli J dan Fahri H buru-buru menemuai Rizieq Shihab di Arab Saudi soal perubahan taktik dan strategi ini harus diketahui oleh semua barisan. Dari pihak grup internasional, Neolib/NWO tentu tidak segoblok itu mau pakai cara lama. Neolib/NWO pemecah kekuatan nasional dunia itu, sekarang di Indonesia setelah melihat Ma’ruf jadi cawapres Jokowi, harus memakai taktik dan strategi lain dalam mempraktekkan ‘system konflik’nya, yaitu menggantikan isu agama dengan isu ekonomi. Ini dianggap pilihan paling tepat, dan harus diseragamkan untuk semua perlawanan, termasuk RS di Saudi.
    RS/FPI, HTI, Wahabi dan gerakan terorisme adalah pelopor pertama di Indonesia dalam system konflik internasional itu dalam melawan Jokowi sebagai kekuatan nasional RI.

    Tetapi kelemahan atau kekuatan taktik ekonomi ini ialah bahwa bicara soal ekonomi harus dilengkapi dengan system data yang akurat termasuk statistik ilmiah yang menunjukkan bahwa omongan itu benar. Berlainan sekali dengan ngomong soal agama yang jelas tak punya data statistik seperti dalam ekonomi, dan siapa saja bebas ngomong, karena soalnya adalah soal keyakinan, semua punya keyakinan yang bisa diomongkan. Berlainan dengan ekonomi dan finans yang berubah dan berkembang tiap detik, tiap hari dengan data dan statistik dari lapangan maupun teori ilmiahnya yang juga harus pakai data. Seorang Ketua MPR (Zulkifli Hasan) ngomong ekonomi tanpa data dan statistik pendukung . . . wow . . . ketua MPR pula! Betul-betul ngawur dan sebagai pemimpin tidak bisa jadi teladan bangsa, tidak bisa jadi contoh yang baik bagi generasi muda bangsa ini.

    Systen Konflik Global.
    System Konflik Global yang dipakai oleh neolib/NWO atau yang biasa juga disebut politik divide and conquer secara nasional maupun internasional adalah system yang sangat ilmiah berdasarkan berbagai ilmu/teori termasuk ilmu psikologi perangai manusia, kultural/perorangan, dan sudah dipraktekkan diseluruh dunia lebih dari 170 tahun. Ini dari hitungan yang lebih pasti sejak Manifesto Partai Komunis Marx 1848. Harus dicatat juga bahwa Marx disewa oleh bankir rentenir internasional Rothschild untuk mengarang marxisme dalam rangka menciptakan sistem konflik internasional untuk membelah dunia itu.

    Sejak itu dimulailah perpecahan atau pembagian dunia secara luas dengan menggunakan ideologi komunis/sosialis kontra ideologi kapitalisme (neoliberalisme). Secara nasional sistem ini diberlakukan sering begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan, saling bunuh sesama satu bangsa. Sangat menyolok ialah di Laos, Camboja dan juga Vietnam. Implementasinya yang jelas dan juga sangat kejam di Indonesia ialah pada tahun 1965. Di era Jokowi dipakai taktik agama kontra Jokowi, dan sekarang dengan taktik ekonomi kontra Jokowi.

    Kalau di AS sistem perpecahan ini diatur dengan menggunakan sistem dua partai, Demokrat dan Republik atau disebut juga ‘kiri’ dan ‘kanan’ di era abad lalu. Kedua partai ini adalah dibawah pengaturan satu organ partai yang sesungguhnya yaitu ‘The Party of money’ (Gore Vidal). Sekarang di AS sistem konflik ini dinyatakan dalam bentuk deep state kontra Trump. Perpecahan dua partai jadi kabur atau hilang sementara atau untuk selama-lamanya. Dalam grup deep state termasuk kekuatan inteligens AS (the fourth power di AS, 3 lainnya adalah eksekutif, legislatif dan judiktif). Dalam prakteknya the fourth power ini banyak menentukan dalam arahan politik maupun dalam kehidupan tiap warga negara, seperti juga telah banyak dibongkar oleh whistleblower Snowden.

    Celakanya atau sialnya bagi neolib/NWO ini ialah arah dan arus sejarah yang menentang mereka, bahwa era internet dan keterbukaan telah memporak-porandakan semua rahasia yang ditutup rapat selama 170 tahun itu, sekarang terbuka dan semakin tertelanjangi sehingga brainwashing dan mind control yang tua itu ‘is being shattered piece by piece by independent media (Jon Rapporport).

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.