Kolom Eko Kuntadhi: KORUPSI NUR MAHMUDI, KOK GAK ADA ARAB-ARABNYA?

0
774

Sebagai warga Depok yang menjadi fans berat Persipok (Persatuan Sepak Bola Depok) saya sedih ketika Walikota 2 periode Nur Mahmudi Ismail dijadikan tersangka korupsi. Bayangkan. Nur Mahmudi adalah Walikota yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Kehutanan. Dia juga mantan Presiden PKS yang biasa dipanggil ustad.

Masa sih, bisa-bisanya orang sesuci itu ditetapkan sebagai tersangka korupsi?

Padahal, ketika jadi Walikota Depok, Nur Mahmudi punya program yang sangat menarik dan agamis: Makan menggunakan tangan kanan. Sebuah program pemerintah yang tidak pernah terfikirkan oleh Walikota Mekkah sekalipun.

Saya rasa polisi akan kebingungan untuk membuktikan, apakah Nur Mahmudi korupsi menggunakan tangan kanan atau tangan kiri. Atau malah memakai kedua tangannya. Karena, kalau cuma satu tangan, mana bisa dia menggotong kerugian negara sampai Rp 10 miliar.

Ketika April lalu diperiksa Polresta Depok, Nur Mahmudi menampakkan senyum riangnya. Wajahnya bersinar seperti rembulan. Matanya berbinar layaknya gekintang. Tidak ada ketakutan tercermin di kumisnya. Cobalah kita berfikir. Mana mungkin orang seperti ini nyolong duit negara. Atau jikapun nyolong, kok bisa-bisanya polisi mencium jejaknya. Dia ustad, lho, yang pasti tahu bahwa nyolong duit rakyat itu termasuk perbuatan ngehe.

Warga Depok yang religius menyayangkan, sebagai Presiden PKS Nur Mahmudi ternyata tidak seagamis yang mereka kira. Ketika nyolong, misalnya, dia meninggalkan bahasa agama. Padahal Yudi Widiana Adia, seorang anggota DPR dan kader PKS lain yang ditangkap KPK karena korupsi, tetap setia dengan bahasa pengajian meskipun untuk nyolong. Dia tetap menjaga kaidah bahasa kader PKS yang agamis itu.

Yudi mengistilahkan ‘berapa juz’, untuk bertanya berapa miliar duit yang sudah digasak. Atau dia menggunakan kata ‘liqo’ untuk menggambarkan pertemuan komplotan para pencoleng itu. Karena Yudi inilah masyarakat umum jadi tahu makna kata liqo sesungguhnya. Yudi mengajarkan itu kepada kita.

Jadi, kalau ada teman kuliahmu mengajak untuk menghadiri liqo, tanya saja sama dia, ‘dapat juz, gak?’

“Ini liqo gratis, ya akhi. Ana aja belum dikirimin juz sama ortu buat bayar kos.”

Itulah kader PKS sebenarnya PKS. Berbeda dengan Nur Mahmudi. Dia adalah bekas Presiden PKS. Kok bisa-bisanya dia nyolong tanpa menggunakan tata bahasa kader yang indah itu. Apa mungkin dia tidak bangga lagi dengan identitasnya sebagai kader PKS?

Tapi, apa mungkin bahasa liqo dan juz atau yang kearab-araban memang cocoknya cuma buat kader. Kalau levelnya sudah presiden partai mah, mungkin bahasanya tidak harus seperti itu.

Tapi, gak juga, ding. Lutfi Hasan Ishaq misalnya. Dia adalah Presiden PKS yang korupsi impor sapi. Pengadilan memutuskan penjara 18 tahun untuknya.

Tahu apa yang diomongin dengan Fathonah, rekannya sesama pencuri duit negara? Dia tetap mempertahankan warnanya sebagai kader PKS, selalu suka yang berbau Arab. Coba dengar sadapan telepon KPK yang pernah diputarkan pengadilan saat sidang. “Ini istri-istri antum sudah menunggu,” ujar Ahmad Fathanah sambil tertawa.

“Yang mana?” tanya LHI.

“Ada semuanya. Yang Fustun atau Jawa Syarkiyah?”

“Yang Fustun,” jawab LHI.

Fathanah adalah orang yang pertama dicokok KPK bersama perempuan cantik di kamar hotel. Dari penelusuran duit negara hasil nyolong mengalir ke banyak perempuan cantik. Termasuk ke Ayu Ashari.

Saya membayangkan, ketika menelepon di depan Fathanah, memang sudah berkumpul perempuan cantik menunggu LHI. Dan, ketika diminta memilih, jenis apa yang dipilih LHI? Pilihannya jatuh pada perempuan Arab yang disebut Fustun itu.

Jadi LHI mengajarkan, walaupun sudah menjabat sebagai presiden partai seleranya, tetap berpegang pada nilai-nilai PKS: Selalu kearab-araban.

Inilah yang saya sedihkan dari Nur Mahmudi Ismail. Sampai saat ini tidak ada keterangan dia menggunakan bahasa khas kader PKS ketika korupsi pengadaan tanah untuk Jl. Nangka. Masa baru nyolong duit Rp 10 miliar saja dia rela kehilangan identitasnya sebagai kader partai dakwah?

“Kalau dari sisi agama, Nur Mahmudi itu kalah jauh sama Zumi Zola Gubernur Jambi dari PAN, mas,” ujar Abu Kumkum.

“Maksudnya, kang?”

“Zumi Zola menggunakan duit korupsinya buat beli hewan Qurban dan ongkos umroh. Dosanya langsung bisa ditip-ex.”

“Ya, jelaslah. Zumi Zola kan anak buahnya Amin Rais. Nilai agamanya jauh lebih kental,” ujar Bambang Kusnadi menimpali.

Tapi. meskipun Gubernur Jambi lebih agamis, saya masih tetap mencintai Depok. Hidup Persipok!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.