JUARA R. GINTING. VOORSCHOTEN (Belanda) — Dalam rangka memperingati HUT ke 10 kelompok seniman De Leidsche Mondialen, diadakan pameran lukisan di 3 tempat sekitar Kota Leiden: 1. Kantor Walikota Katwijk, 2. Het Leidse Volkshuis, 3. Museum Voorshoten. Video dalam berita ini adalah wawancara Sirulo TV dengan pelukis Dick Bakhuizen Vd Brink tentang kelompok seniman ini.

Dick adalah seorang pelukis yang menjadi anggota dari kelompok seniman De Leidsche Mondialen.

Wawancara dilakukan sesaat setelah pembukaan pameran di Museum Voorschoten 4 Agustus 2018 lalu. Pameran berlangsung sejak 4 Agustus 2018 sampai dengan 16 September 2018. Pameran terbuka untuk umum pada Hari-hari Rabu, Sabtu dan Minggu secara gratis. Sebagian besar lukisan yang dipamerkan dapat dibeli bagi yang berminat. Adapun museum ini terletak di Voorstraat 17, Voorschoten.

Dick tidaklah asing dengan Indonesia. Ayahnya semasih hidup adalah seorang profesor Biologi (Universitas Leiden) yang ikut dalam tim penulis buku Flora Java dan buku Flora Melasiana. Buku yang pertama adalah tentang berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di Pulau Jawa, sedangkan buku ke dua adalah tentang berbagai tumbuhan yang tumbuh di Nusantara dan beberapa negara jirannya.

Salah satu karya Dick yang ikut dipamerkan

Wawancara ini dimulai dengan pembicaraan tentang ayahnya yang profesor karena kebetulan pula reporter anda pernah mengikuti pelatihan identifikasi tanaman Flora Melasiana, khususnya yang tumbuh di Taneh Karo, di Rijks Herbarium Leiden. Menurut Dick, dalam wawancara itu, ayahnya banyak menghabiskan waktu di Rijks Herbarium itu semasa masih bekerja maupun setelah pensiun. Reporter anda tidak sempat mengenal ayahnya, tapi masih sering bertemu dengan seorang profesor lain di sana yang merupakan perancang Taman Nasional Gunung Leuser.

Di pameran itu, Dick memajangkan 2 diantara lukiran-lukisannya. Adapun wawancara kebanyakan membicarakan latar belakang didirikannya kelompok seniman De Leidse Mondiale yang ke depannya merancang pendirian sebuah museum baru khusus menyimpan dan memamerkan hasil karya para anggotanya. Kelompok seniman ini diinspirasi oleh kematian seorang teman mereka yang meninggalkan banyak hutang. Rata-rata demikianlah nasib para seniman yang lebih banyak menikmati pekerjaan melukis daripada memikirkan uang.

Wawancara diadakan dalam Bahasa Belanda tapi diselingi terjemahan Bahasa Indonesia oleh reporter anda.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.