ITA APULINA TARIGAN. BANDUNG — Kesehatan global sudah seharusnya menjadi kepentingan dan tanggungjawab semua pihak. Namun, dalam kenyataannya secara umum, baik pemerintah maupun masyarakat, sering lupa untuk mempertimbangakan permasalahan kesehatan global dalam setiap pengambilan keputusan.

Hal ini menyebabkan solusi permasalan kesehatan global tetap menjadi kepingan puzzle yang acak.

Sebagai upaya untuk merangkai kepingan puzzle tersebut menjadi gambaran yang utuh, INDOHUN menyelenggarakan pelatihan Global Health Diplomacy (GHD 2.0) yang baru saja berakhir. Pelatihan GHD yang kedua ini dibuka di Grand Bidakara Savoy Homann Hotel, Bandung, Indonesia pada 25 Agustus 2018. Masa penantian peserta GHD 2.0 ini akhirnya telah berakhir. Antusiasme pendaftar GHD tahun ini melebihi ekspektasi penyelenggara. OH Technical Officer INDOHUN, Profesor Agus Suwandono menyatakan bahwa dari lebih dari 140 pelamar, hanya 40 dari mereka yang terpilih sebagai peserta GHD 2.0.

Prof Agus menilai bahwa pelaksanaan GHD tahun ini lebih baik dibanding sebelumnya. Hal ini didukung oleh proses pengorganisasian yang lebih sistematis dan masa persiapan yang lebih lama dari GHD yang pertama. Pengalaman dari GHD sebelumnya juga berkontribusi pada kelancaran organisasi program ini, termasuk terkait dengan pemilihan peserta, pembicara dan pemilihan pelatih, dan organisasi acara.

Selama 2 hari pertama pelatihan, peserta GHD 2.0 diberi kuliah umum oleh pembicara internasional yang terkait dengan tata kelola kesehatan global, sistem kesehatan, negosiasi kesehatan global, kerangka kebijakan kesehatan, kepemimpinan kesehatan global, inovasi kesehatan dalam memperkuat sistem kesehatan global, kesehatan advokasi, dan praktik diplomasi.

Dr Aidil Chandra Salim, tim ahli dari Badan Narkotika Nasiona, yang juga merupakan salah satu pembicara GHD 2.0, menunjukkan dukungannya untuk pelatihan GHD ini, meskipun beliau sudah pensiun dari Kementerian Luar Negeri RI.

“Saya melihat bahwa GHD ini adalah acara yang baik, yang membuat para peserta siap untuk menghadapi masalah kesehatan global. Program pelatihan ini diperkaya dengan tidak hanya denga masalah kesehatan global, tetapi juga dengan diplomasi dan aspek lain dari masalah internasional.”

Salah satu pembicara, Dr. Remco van de Pas dari Maastricht Centre for Global Health, University of Maastricht, Netherland dan Institute of Tropical Medicine, Antwerp – Belgium, menyatakan, “Menurut saya, pelatihan ini sangat relevan bagi para siswa dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk memahami konsep One Health, proses kebijakan dibuat, dan bagaimana hal itu dilakukan lintas sektor, antar orang yang berbeda.”

Hal ini sejalan dengan pernyataan M. Chandra W. Yuda, Direktur Kerjasama Politik-Keamanan ASEAN, Kementerian Luar Negeri, dalam wawancara selama acara GHD 2.0, bahwa dalam menghadapi tantangan global negara-negara harus bekerja sama untuk menjamin terciptanya perdamaian, keamanan dan kemakmuran di seluruh dunia. “Perlu komitmen dari semua negara untuk membuatnya bekerja.”

Pelatihan dilanjutkan dengan multi stage negotiation simulation (MSNS) hingga akhir pelatihan. Dalam sesi MSNS, para peserta berperan sebagai delegasi dari berbagai negara ASEAN yang memiliki agenda, masalah, dan situasi yang berbeda. Skenario dimulai dari munculnya wabah penyakit di beberapa negara. Para peserta harus menganalisis segala kemungkinan tantangan dan peluang untuk mengurangi dampak wabah dan mencegahnya menyebar di masyarakat, dalam sesi ini para peserta juga membahas sistem pendanaan dan kesepakatan bersama antar-negara untuk mengatasi masalah kesehatan yang muncul.

Dalam MSNS, kegiatan peserta dibagi menjadi sesi pleno, dan pertemuan pribadi dalam komunitas pertemuan keseluruhan atau bilateral. Delegasi juga akan dihadapkan pada situasi dimana pers akan memberikan pernyataan terkait dengan masalah yang timbul, sehingga peserta dapat terlatih memberikan pernyataan dalam wawancara, konferensi pers, maupun dalam menyiapkan press release.

Artauli Tobing, Duta Besar Indonesia untuk Vietnam (2004-2007), yang memantau sesi MSNS menyatakan bahwa peserta GHD 2.0 menunjukkan potensi besar untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Bukan hanya karena kefasihan mereka dalam berbahasa Inggris, tetapi juga kemampuan mereka untuk beradaptasi ke dalam mode diplomatik yang menciptakan nuansa diplomatik semakin kental selama pelatihan. Para peserta menunjukkan kemajuan besar selama MSNS. Meskipun mereka memulai MSNS dengan kikuk dan kaku, seiring berjalannya waktu suasana semakin mencair.

Beliau mengungkapkan, “Sekitar 90% dari peserta memahami dengan sangat baik tentang bagaimana membuat pernyataan, bagaimana bereaksi dalam bahasa Inggris yang fasih, meskipun dalam kenyataannya mereka terkadang menggunakan kata-kata yang mungkin kurang diplomatis. Ini bisa dimengerti, karena diplomasi bukan sesuatu yang biasanya mereka lakukan.”

“Awalnya saat saya diajak Pak Odo untuk membantu beliau dalam MSNS, saya pikir lama banget sih 3 hari. Tapi setelah saya pikir kembali, itu sebenarnya perlu, karena ini adalah suatu proses. Proses bukan sekedar exercise menurut saya. Tetapi proses dalam artian yang lebih jauh lagi, yaitu melatih diri sendiri. Untuk bukan hanya berdiplomasi, cuap-cuap, hahahihi. Tidak. Tapi, bagaimana kita melatih diri, self-restrain.

Kalau ada seseorang yang menyampaikan sesuatu yang kita tidak berkenan, orang menentang kita, kan kita mungkin lawan dengan berantem, tapi sense of self restrain ini dibangun, sense of team work ini juga ada, dan ada elemen kebangganan dimana kita mewakili suatu negara, kita mewakili kepentingan negara yang harus kita perjuangkan untuk suatu tujuan tertentu yang ada di organisasi, dalam hal ini ASEAN.”

Beliau juga mengungkapkan kekagumannya terhadap para peserta “Selama kegiatan OCW yang membahas berbagai draft resolusi, terlihat upaya dari masing-masing peserta yang mewakili negara-negara ASEAN itu dalam mempertahankan posisinya. Para peserta juga secara tidak kaku bisa mengutarakan pandangannya tanpa adanya reservasi ataupun pura-pura. They got the hang of it! Mereka sudah mulai fasih dan mengerti.  Ini menurut hemat saya adalah dasar dari diplomasi, karena bagi saya pribadi, diplomasi itu adalah “to make friends“.

Dalam upacara penutupan GHD 2.0 pada 29 Agustus 2018, Indonesia One Health University Network (INDOHUN) sebagai penyelenggara mengadakan gala dinner, pelantikan delegasi, dan malam penganugerahan bagi para peserta untuk merayakan akhir dari masa pelatihan.

M. Chandra W. Yuda, selaku salah satu pembicara berpesan kepada para peserta untuk selalu menjaga komunikasi dan jejaring yang telah terbentuk selama masa pelatihan. “Enlarge your horizon, do your work, keep in touch, and learn from each other. You’ll achieve what you dream for.”



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.