Kolom Boen Syafi’i: KEHILANGAN ROSO SURABAYANE

0
450

Ahmad Dani adalah Arek Surabaya asli yang sekarang sudah hilang rasa Surabayanya yakni rasa nasionalisme sejati, semenjak bergaul dengan PKS dan HTI. Ternyata Si Dani hanya gede bacot, nihil aksi nyata. Sama persis seperti junjunganya. Termasuk saat insiden penolakan warga Surabaya, dengan deklarasi ganti pesinden seminggu yang lalu. Eh si Dani hanya ngumpet di hotel, dan gak berani nongol.

Begitu muncul malah ngata-ngatain penolak deklarasi ganti pesinden dengan kata “idiot” sambil dikawal ketat aparat kepolisian.

Ah, kalau memang bonek dan arek Surabaya, jangankan puluhan, ratusan orang pun tak gentar untuk dihadapi. Karena prinsip bagi warga Surabaya dan Jatim pada umumnya adalah mati membela harga diri itu lebih mulia daripada memilih untuk menjadi pecundang sejati.

Surabaya memang bukanlah Bogor yang banyak warganya bergamis dan pake cadar. Surabaya juga bukan Solo, yang jika marah masih terlihat sopannya. Karena Surabaya adalah Surabaya, kota dengan seribu “cuk” di setiap selingan kata katanya. Kota dengan beragam profesi, beragam suku, beragam agama dan juga beragam strata sosial yang ada di dalam masyarakatnya.

Dari copet sampai Kyai, dari etnis Tionghoa sampai etnis Arab Tunjungan Plasa, dari eceran sampai grosiran semua ada di sana. Namun, jangan ditanya seberapa besar rasa nasionalisme yang dimilikinya. Berani membikin kisruh NKRI, maka nyawapun tak segan untuk dipertaruhkan. Tidak perlu pula dijanjikan mendapatkan sorga, hanya untuk mencintai NKRI tercinta. Karena sedikitpun tidak ada rasa pamrih di hati warganya.

Jika NKRI dan idiologis Pancasila yang ber Bhineka Tunggal Ika itu masih kokoh tegak berdiri di Bumi NUsantara, maka itulah sejatinya sorga kami berada.

“Ni Dani, praenmu koyok jemblem, mayak? Koen gak tau dipisuhi Spiderman, tah? Yo wes, tak pisuhi,”

“COEK”.

Salam Jemblem..



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.