Ramona Purba di GBK: ENERGY KARO UNTUK INDONESIA DAN ASIA

4
1410

Laporan ITA APULINA TARIGAN (Pimred SORA SIRULO) dari Jakarta

 

Datang ke Stadion Gelora Bung Karno (GBK) kemarin [Sabtu 1/9] bukan tanpa alasan. Rencana datang tepat pada saat Closing Ceremony Asian Games 2018 batal karena mendapat kabar penyanyi Karo yang menasional, Ramona Purba, akan tampil di GBK, Zona Binbin.

Bukan hanya Ramona bersama Sangapta Band, tapi sekelompok penari Suku Karo turut mengisi acara sehari sebelum penutupan.

Jika ditelusur riwayat perjalanan Ramona sebagai penyanyi, sebenarnya tidak mengherankan mengapa dia mengisi panggung tadi malam. Dia adalah penyanyi istimewa yang tidak pernah kehilangan powernya pada saat menyanyikan lagu berirama cepat, lambat, melankolis bahkan jazz.




Jangan ditanya soal rengget (legato Karo), itu sudah mengalir begitu saja. Di tahun 80-an, Ramona sempat menelurkan beberapa album Indonesia. Beberapa diantaranya merajai panggung musik nasional. Jalan Sore dan Naluri contohnya, kerap di-remake oleh penyanyi-penyanyi yang datang kemudian. Penggemar jazz juga tahu, Ramona pernah menjadi vokalis tamu Karimata Band yang legendaris.

Mengapa penampilan Ramona tadi malam menjadi luar biasa? Dia hadir bukan mengulang album lagu-lagu Indonesia yang membawanya ke kancah musik nasional, tetapi membawa seni dan musik Suku Karo. Sangapta Band tanpa ragu-ragu dia perkenalkan. Lagu Karo masa kini yang cukup terkenal sebagai pembuka, Keleng Simbagesna. Lagu ini dipopulerkan oleh Antha Prima Ginting. Arransemen pop yang dibawakan Sangapta Band tidak mengurangi nuansa Karo lagu ini. Ramona bernyanyi dengan memetik gitar, beserta kain tenun Karo bekabuluh di bahunya.

Tadi malam itu, bisa dikatakan penonton etnis Karo barangkali hanya 10% dari total kerumunan yang memenuhi Zona Binbin. Para orang Karo, terutama pernanden (ibu-ibu) bersorak gembira melihat Ramona yang komunikatif dari atas panggung. Penonton lainpun tidak beranjak dari tempat duduknya, bahkan di jalan masuk para pengunjung berhenti di barikade panggung menonton.

Sepertinya mereka tidak peduli, walau berkali-kali Ramona menyapa dengan menggunakan Bahasa Karo.

“Lagu Karo atau lagu Batak?” tanyanya dari atas berkali-kali.

Para nande-nande Karo berteriak Karooooo…. Kalah banyak dengan yang meneriakkan kata Batakkkk…. Bahkan ada yang meminta lagu Anak Medan tanpa menyadari kalau Ramona itu bukan Anak Medan, tapi melainkan Anak Berastagi sebelum pindah ke Jakarta. Dengan kelakar halus dan sopan, Ramona menerangkan bahwa malam ini pertunjukan mereka adalah seni dan musik Karo.

Setelahnya, di lagu ke dua, Ramona memainkan lagu Naluri. Lagu ini pernah di-remake oleh penyanyi Imaniar dan AB Three. Semua penonton bergoyang dan bertepuk gembira. Lagu nostalgia yang membuat banyak orang tua berseri-seri. Terlihat di lagu berirama cepat ini, energi Ramona masih prima, bahkan refrain lagu diulang beberapa kali, tidak terlihat power suaranya berkurang.

Setelah tarian Diding Musuh Suka yang dibawakan 6 pasang penari, Ramona dan Sangapta Band membawakan lagu Mbiring Manggis. Rasanya seluruh penonton bergoyang walau di tempat. Ibu-ibu semakin histeris ketika Ramona bergantian menyapa mereka dengan: Nande Biring, Nande Ginting, Nande Bayang… Riuh sekali, ketika Ramona menghentikan musik dan meminta penonton bernyanyi dan menyebut Mama Karo. Pecah Zona Binbin.

Di balik kepiawaiannya bernyanyi, bermusik dan sebagai entertainer sejati, Ramona tidak jual mahal malam itu. Dia berduetber dengan seorang gadis remaja, yang terlihat gugup dan belum berpengalaman. Mereka menyanyikan Musuh Suka. Ramona berhasil membuat gadis itu percaya diri di panggung, dapat mengimbangi suara penyanyi senior di lagu Diding Musuh Suka.

 

Dengan antusias Ramona mengatakan: “Ini adalah penyanyi muda, kelak akan menjadi penerus kita.”

Saya kira, kebesaran jiwa seperti ini patut kita tiru agar selalu tumbuh tunas-tunas baru untuk membuat kesenian Karo lebih maju dan berkembang di masa yang akan datang.

Di penghujung penampilannya, Ramona dan Sangapta Band menampilkan lagu ‘Nangkeng-nangkeng Dalan ku Rumah Liang’ dalam irama jazz Karo. Tidak terbantahkan suara dan penampilannya masih prima. Tidak terlihat dia kehilangan tarikan nafas, atau pitch nada menjadi turun.

Di usianya yang menjelang 55 tahun ini, saya kira Ramona sangat luar biasa penampilan dan kualitas suaranya. Sebelumnya dia sempat menyelipkan sebait lagu: “Kusayang-sayangi kam pagi Nande Ginting, kualuni muatndu medem e, lau las ku ban peridinndu.

Di sepotong bait ini, rengget Ramona cukup membuat kita serasa ikut pulang kampung. Di penutup lagu terakhir Sangapta Band memainkan Patam-patam dan Ramona menirukan bunyi sarune.

Reaksi penonton malam itu sudah cukup membuktikan energi Karo lewat Ramona, telah mewarnai Indonesia turut serta dalam kerja tahun Benua Asia di ajang Asian Games 2018 ini.

Sukses selalu dan terus berkarya buat Mama Karo kami, Ramona Purba. Terimakasih kepada Panitia Asian Games 2018 yang telah memberikan kesempatan kepada kesenian Karo turut memeriahkan acara ini.

4 COMMENTS

  1. Seni dan Musik Karo
    Laporan pimred SS Ita Apulina dari GBK Closing Ceremony Asian Games 2018 tentang acara seni dan musik Karo sangat menarik dan memberi semangat cerah dan cemerlang dalam menghargai dan mengembangkan kultur/budaya suku-suku bangsa negeri Bhinneka Tunggal Ika NKRI. Dalam artikel laporannya terutama soal kultur/musik suku Karo (modern maupun klasik) satu suku bangsa dari Sumut, salah satu suku bangsa di Sumatra yang sudah berumur lebih dari 7000 tahun menurut hasil penggalian antropologi USU 2010-2011 di dataran tinggi Gayo. Sumbangan dari grup seni musik budaya Karo dalam upacara itu patutlah mendapat apresiasi tinggi karena upayanya demi menjaga kebersamaan dan saling mengerti dan menghormati sesama suku bangsa negeri ini demi keutuhan dan kesatuan nation Indonesia.

    Kelahiran dan kehidupan satu suku bangsa tidaklah lepas dari kelahiran kultur dan budayanya, dan pastilah juga lahirnya nyanyian dan kemudian musiknya dengan berbagai instrumen sederhana yang bisa mengikuti lagu/musiknya.
    Dalam mengikuti perubahan dan perkembangan musik Karo, dari lagu/musik Nuri-nuri ke Patam-patam, Simulih Karaben ke Mbiring Manggis, artinya dari sedih/nostalgi ke cepat/gembira, terlihat bahwa introvert Karo bisa bikin perubahan-perubahan positif, dimana musik dan tradisinya berkembang mengikuti perubahan jaman dan waktu, tetapi juga tidak meninggalkan hakekat dan keaslian dari seni budayanya.

    Bahwa jiwa dan way of thinking Karo yang interoversi itu telah menjadi dasar kelahiran dan perkembangan musik/lagu Karo agaknya adalah suatu proses yang logis saja. Umumnya lagu-lagu Karo dan musiknya menggambarkan nostalgi atau renungan yang sedih tidaklah terlepas dari introversinya itu.
    “Why does sad music make me feel so happy?” kata Susan Cain pengarang buku Quiet Revolution, the power of introverts. Musik sedih tetapi bikin ‘happy’ . . . wow. Ini tentu kontraversi yang akan susah memahaminya bagi orang-orang extrovert, sama juga halnya dengan hal-hal kontraversi yang sangat logis saja bagi kaum extrovert, tetapi susah dipahami oleh orang-orang introvert.

    Dua type kharakter manusia dunia (introvert dan extrovert, CG Jung) masih tetap membagi manusia secara psikologi, dan bahkan ikut membagi satu nation (bangsa) di dunia. Misalnya ada bangsa-bangsa introvert atau extrovert, begitu juga suku-suku bangsanya dalam wilayah satu nation tertentu. Kita punya contoh yang sangat kita kenal yaitu introvert Karo dengan extrovert Batak (Toba). Secara internasional seperti Swedia, Denmark (introvert) dan Inggris, Perancis (extrovert).

    Musik/lagu Karo yang umumnya bernada minor (mall). Dari segi ini, bisa dikatakan sangat sejajar dengan ackord minor lagu-lagu klasik seperti Chopin. Karena itu, agaknya lagu ‘klasik’ Karo ini jugalah yang telah memenangkan International Fashion Film Festival 2018, pada Juli lalu di La Jolla, San Diego, California. Film Karo ‘Uis Nipes’ jadi pemenang nr 1 dari segi ‘Best Music’. Film ini bisa dilihat di youtube.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.