Kolom Dr. Lahargo Kembaren SpKJ: MARAH

0
447

“Setiap 1 menit yang kau habiskan untuk marah, kau kehilangan 60 detik perasaan damai.” (Ralph WE)

 

“Siapa saja bisa marah, itu mudah, tetapi marah pada orang yang tepat dan pada tingkat yang tepat,  pada waktu yang tepat dan untuk tujuan yang benar, serta dengan cara yang benar, itu tidak mudah dan tidak semua orang dapat melakukannya.” (Aristoteles)

Penyebab marah bisa apa saja, biasanya adalah: Rasa kecewa, frustasi, penilaian sendiri, penolakan, rasa takut, dll.

Semuanya itu akan mengaktifkan Amigdala, bagian otak yg mengontrol emosi. Selanjutnya amigdala –> Hipotalamus –> Pituitary Gland (hipofisis) –> Adrenal Gland –> Hormon Stres, yaitu : Cortisol, Adrenaline, Noradrenaline.

Peningkatan hormon stres Cortisol menyebabkan banyak sel saraf yang mati terutama di bagian:

– Prefrontal Cortex (PFC), bagian otak ini penting bagi seseorang dalam membuat suatu keputusan yang baik dan perencanaan tindakan. Gangguan pada area otak ini menyebabkan orang yang marah sering membuat keputusan buruk yang kemudian disesalinya.

– Hipokampus, bagian otak yang mengatur memori. Ini menyebabkan orang yang marah tidak ingat apa yang diucapkan dan dilakukannya.

Peningkatan hormon stres Cortisol akan mengurangi hormon serotonin dalam otak, yaitu hormon yang membuat seseorang bahagia. Penurunan hormon serotonin ini akan menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah marah, sensitif, galau, baper, dan bisa berujung pada tindakan agresi atau perilaku kekerasan. Tidak jarang yang kemudian juga menjadi depresi.

Hormon stres yang meningkat karena marah tadi pun bisa mempengaruhi berbagai sistem organ di dalam tubuh, seperti:

– sistem kardiovaskuler: tekanan darah dan denyut jantung meningkat, glukosa darah meningkat. Apabila marah tersebut berlangsung lama dan terus menerus maka gangguan pada sistem kardiovaskuler ini dapat menyebakan stroke dan serangan jantung.

– sistem imun akan menurun sehingga menyebabkan orang sering marah mudah terkena penyakit

– tekanan pada bola mata meningkat sehingga orang yang marah sering merasa migrain atau sakit kepala

– densitas tulang menurun

– sistem pencernaan terganggu

Marah yang terlalu hebat dan terus menerus berulang jelas akan sangat mengganggu. Lakukan ‘Anger Management’ (manajemen marah) untuk dapat mengontrol marah agar tidak terjadi hal yang merugikan. Berkonsultasi pada profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, Perawat Jiwa, Psikolog, Dokter umum terlatih akan mempercepat proses pemulihan marah yang terlalu berlebihan. Beberapa gangguan kejiwaan seperti:

– Gangguan mental dan perilaku akibat penyalahgunaan zat

– Skizofrenia

– Gangguan Bipolar

– Depresi

Juga memiliki tanda dan gejala MARAH yg tidak terkontrol.

“Apabila marah, jangan biarkan matahari terbenam sebelum padam amarahmu” (Ephesus)

《LaKe》

Dk.dr.Lahargo Kembaren,SpKJ

Psikiater

RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

RS Siloam Bogor

Guru KA – KR GBKP Bogor

Sie Pastoral Konseling GBKP Bogor



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.