Kolom Asaaro Lahagu: BALASAN TRUMP (Dollar Meroket, Rupiah Anjlok, Jokowi Salah?)

1
1469

Saya lihat Menteri Mulyani berbusa-busa mulutnya menjelaskan mengapa dollar meroket. Berulangkali Mulyani mengatakan bahwa dollar naik karena naiknya suku bunga di Amerika, perang dagang AS-China dan imbas krisis di Turki dan Argentina. Mulyani sudah menjelaskannya hingga jungkir-balik. Anehnya, tetap saja banyak warga masyarakat yang tidak mempercayainya.

Masyarakat kita tetap meyakini bahwa dollar naik karena salahnya Jokowi.

Bahkan sekaliber Jenderal Prabowopun tetap menyalahkan Jokowi. Katanya karena sistem ekonomi kita yang rapuh, tergantung impor dan sebagainya. Pokoknya di linima facebook saya, kaum sebelah tetap menyalahkan Jokowi. Bahkan harga karetpun di daerah saya yang harganya terpuruk, Jokowipun disalahkan.

Saya sedikit mengapresiasi pernyataan Sandiaga Uno. Terlepas dia jual untung dollarnya. Cawapres ini meminta agar semua pihak tidak menyalahkan pemerintah soal anjiloknya Rupiah. Sebagai seorang businessman, Sandiaga paham benar soal seluk-beluk dollar dan terutama kawannya si Trump. Dia paham soal faktor eksternal melemahnya Rupiah. Tetapi yang lain? Tidak banyak pihak yang pola pikirnya seperti Sandiaga.

Saya sendiri dikit-dikit belajar soal mata uang karena sesekali melakukan jual-beli valas. Sekali lagi, hanya dikit-dikit. Beli dollar saat harga murah dan jual saat harga mahal. Selisih harganya jualnya menjadi untung. Lumayan bagi warga biasa seperti saya. Karena bermain sesekali di valas, maka mau tidak mau saya harus memperhatikan situasi politik di luar negeri, termasuk sepak terjang ompung kita Donald Trump.

Saat Donald Trump menang Pilpres AS 2016 lalu, saya bilang kepada teman saya, Pak Jokowi bisa tertekan. “Karena Freeportkah? Apakah Trump akan melengserkan Jokowi terkait Freeport?” tanya teman saya itu. Saya jawab, tidak. Donald Trump paham soal business to business. Dia adalah konglamerat, pebisnis tulen. Sama seperti Jokowi. Dia tahu posisi Jokowi di Freeport.

“Lalu apa masalahnya?” tanyanya lagi tak sabaran.

Begini teman (sambil seruput kopi ala Denny Siregar). Saat kampanye Pilpres AS, kita perlu garis bawahi janji-janji kampanye Donald Trump, terutama di bidang ekonomi. Sekali lagi, kita garis bawahi janji-janji kampanye ekonomi Trump. Kalau nanti Trump benar-benar melakukan janjinya, maka saya rasa akan sangat painful (menyakitkan).

Saya yakin, jika Trump akan merealisasikan janji kampanyenya maka yang terjadi adalah perang dagang antar negara yang akan berdampak bagi perekonomian Indonesia. Itu bisa membuat Pak Jokowi tertekan. Janji Trump yang perlu kita garis bawahi adalah soal janji kebijakan ekonominya terkait pengenaan tarif impor produk asal Cina, Eropa, Meksiko dan negara lain.

Bayangkan. Trump berjanji akan menaikkan 40% tarif impor produk asal China, Meksiko 30%. Jadi, barang China yang murah itu menjadi mahal karena kena pajak 40%. China bisa menjerit. Jika Trump benar-benar melakukan itu, maka China dan Meksiko juga akan membalas. Dan, jika produk dari China dan Meksiko dikenakan tarif impor yang cukup tinggi, maka negara lain juga akan dikenakan. Masalahnya, Amerika adalah pasar ekspor terbesar kita. Jika Trump melaksanakan janjinya itu, maka justru akan membebani dan merugikan Indonesia.

Tentu saja untuk menghindari tarif impor selangit ala Trump, maka negara-negara lain akan kembali membangun pabriknya di Amerika. Jadi, produk dibuat di Amerika karena pasar besarnya di sana. Jika hal itu terjadi maka dollar yang tersebar di penjuru dunia kembali terkumpul atau kembali ke tuannya Amerika. Artinya, investasi dari luar masuk kembali ke Amerika. Konsekuensinya, dollar di negara lain akan kering-kerontang. Akibatnya, harga dollar meroket. Sementara mata uang negara yang bersangkutan, yang selama ini membutuhkan dollar dalam transaksi impornya atau bayar utangnya akan anjilok.

Setelah 2 tahun cerita saya itu kepada teman, ternyata Trump akhir tahun 2017 benar-benar melaksanakan janji kampanyenya. Memasuki tahun 2018, Trump semakin mengganas merealisasikan kampanyenya. Trump benar-benar jengkel atas perilaku orang Eropa di negaranya. Bayangkan, besi AS yang masuk ke Eropa dipajak 25% sehingga harga besi AS di seluruh Eropa mahal dan kurang laku. Sebaliknya, jika besi Eropa masuk ke AS hanya dipajak 5%. Trump yang paham soal bisnis, jengkel luar biasa. Maka ia pun melaksanakan janji kampanyenya.

Trump menaikkan pajak impor besi Eropa sampai 25%. Negara-negara Eropa kaget dan terkencing-kencing di celana. Dengan tarif pajak impor naik 25%, besi mereka yang masuk AS tidak laku. Sementara besi produk AS sendiri lebih laku. Ini hanya salah satu contoh. Ada beberapa produk impor lain yang dinaikkan pajaknya oleh Trump. Contohnya mobil.

Mobil Eropa termasuk Jepang masuk ke AS, pajaknya hanya 5%. Lalu, kemudian, Trump menaikkan pajak mobil Eropa dan Jepang di atas 25%. Menjeritlah Jepang dan Eropa. Demi menghindari kebangkrutan, perusahaan mobil Jepang dan Eropa kembali ramai-ramai membangun, memindahkan pabrik suku cadang atau pabrik mobilnya ke AS. Hasilnya, pengangguran di AS berkurang. Tenaga kerja terserap. Di mana-mana ada pembangunan pabrik baru.

Jadilah perekonomian AS mulai menggeliat. Produk-produk AS menjadi tuan di negeri sendiri. Itu bisa dilihat dari besi tadi. Besi tidak perlu diekspor ke Eropa. Cukup dijual di dalam negeri. Karena perusahaan-perusahaan di AS sendiri mulai giat mengembangkan pabrik, mereka butuh modal. Demi menghimpun modal besar dan agar masyarakat mendepositokan uangnya di bank-bank AS dan bank kemudian bisa meminjamkannya, Trump menaikkan suku bunga acuan. Akibatnya, dollar mengalir ke AS. Orang kaya memindahkan uangnya termasuk dari Indonesia ke AS.

Eropa gigit jari. China melongo. Indonesia tertekan. Trump bangga. Toh dia hanya melaksankanan janji kampanyenya dan melakukan keadilan bisnis. Apanya yang salah? Trump hanya melaksanakan janji kampanyenya. Lalu China? Trump sudah lama muak dengan gaya bisnis China yang pongah seolah-olah sudah hebat dan sudah bisa menandingi Amerika. Padahal sekali batuk, China termehek-mehek.

Trumppun habisi China. Barang-barang China di AS terlalu murah dan membanjiri pasaran AS. Bagi Trump ini sebuah lelucon. Mengapa pajak barang China yang masuk AS sangat murah. Sementara barang AS di China mahal? Trump kemudian menaikkan pajak barang impor dari China hingga 25%. Hasilnya? Barang-barang China kurang laku di AS karena sudah mahal. Barang-barang China kemudian menumpuk. Pabrik China di negeri China banyak yang berhenti beroperasi. Sampai di sini, apakah Trump salah? Oh, tidak. Ia hanya melaksanakan janji kampanyenya.

Lalu, dengan Indonesia? Sudah lama beberapa produk Indonesia mendapat perlindungan di AS. Barang-barang Indonesia yang masuk di AS, pajaknya hanya 5% bahkan di bawahnya. Sementara produk AS yang masuk ke Indonesia dipajak tinggi-tinggi. Contohnya mobil Amerika itu, lho. Nah, ini tidak fair menurut Trump.

Maka Trump sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk menaikkan tarif impor produk Indonesia atau istilah kerennya mencabut ‘tarif khusus’ produk Indonesia yang diberikan oleh Amerika. Tak tanggung-tanggung. Ada 124 produk Indonesia yang masuk ke AS akan dinaikkan tarif impornya.

Kebayang nggak, jika nantinya Trump menaikkan tarif impor ke-124 produk Indonesia itu? Barang-barang Indonesia tidak laku di AS. Akibatnya, produk Indonesia akan berhenti berproduksi karena menumpuk di gudang. Konsekuensinya, pabrik berhenti dan pengangguran bertambah.

Saya sendiri hanya berharap agar Trump mau mengurungkan niatnya untuk tidak mencabut ‘tarif khusus’ produk Indonesia. Alasannya karena Indonesia masih negara berkembang. Tidak seperti China, Jepang, Eropa, Kanada. Mereka sudah maju.

Lalu, apa hubungannya dengan naiknya dollar dengan Jokowi? Tidak ada. Jokowi tidak salah soal anjiloknya Rupiah. Trump hanya melaksanakan janji kampanyenya doang. Trump jelas tidak salah. Ia benar. Jadi kesimpulannya, ketika Trump melakukan pembalasan atas negara lain agar seimbang, maka dollar naik, Rupiah anjilok.

Yang bisa dilakukan Jokowi hanya mengeluarkan 10 kebijakan yang dicetuskan hari ini 5 September 2018. Silahkan cari sendiri di media 10 kebijakan Jokowi untuk menangkal anjiloknya Rupiah. Yang jelas, tidak ada hubungannya antara naiknya dollar dengan Jokowi. Paham, kan?

1 COMMENT

  1. Artikel ini sangat bagus menjelaskan mengapa dolar naik. Itulah terutama konsekwensi dari politik nasionalis Trump. Tujuannya jelas, menentang politik ekonomi globalis anti-nasionalis neolib/deep state yang selama ratusan tahun sejak kemerekaan AS telah berdominasi. Penguasa The Establishment ini sejak lama sudah mengendalikan ekonomi dan finans AS bahkan diberikan hak mencetak uang dollar yang seharusnya berhak adalah pemerintah AS. Trump mengerti untuk tidak menyinggung soal ini terlalu dini, karena 3 presiden AS yang mencoba cetak duit dolar, ketiganya tewas terbunuh.

    Tetapi Trump pakai cara lain untuk mencapai cita-cita nasionalis patriotisnya itu. Pertama dalam dagang pakai cara BILATERAL.
    Kedua dengan menaikkan secara ‘gila-gilaan’ pajak/tarif import. Cara dan sikap ini telah bikin gusar seluruh dunia yang selama ini keenakan memanfaatkan ‘kelemahan’ politik dagang AS. Saya katakan ‘kelemahan’ karena selama ini the establishment (neolib/NWO) penguasa sesungguhnya dibelakang Gedung Putih, memang berusaha menjatuhkan AS sebagai negara nasional patriotis. Penguasa lama ini dapat getahnya begitu Trump menang pilpres. Trump seorang nasionalis sejati anti-globalis.

    “We see good will with the nations of the world but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their nations first.”

    Begitulah Trump memulai kariernya sebagai presiden AS, pidatonya dalam acara peresmiannya tempo hari.

    TO PUT THEIR NATIONS FIRST! Siapakah yang mungkin menyangkal kebenaran dalam pidatonya itu? Adakah nation dunia yang tidak mengutamakan kepentingan nasionalnya lebih dulu? Tentu gila kalau ada.

    Tetapi ada! Itulah the establishment neolib/NWO yang selama ini menguasai AS dalam bentuk ‘the secret government’ penguasa sebenarnya dibelakang presiden yang terpilih secara ‘demokratis’, presiden boneka dari partai D maupun dari partai R karena kedua partai ini punya boss sama yaitu ‘the party of money’ (Gore Vidal).

    Dan Indonesia beruntung mendapatkan seorang presiden nasionalis sejati yang bisa dijamin termasuk orang TO PUT THEIR NATIONS FIRST, artinya bukan tipe the establishment neolib/NWO dalam usahanya pertama dan terutama ialah TO CRUSH THEIR NATIONS FIRST, seperti mereka bikin terhadap AS dengan menghijrahkan fabrik-fabrik AS ke luar negeri tetapi menjual produksinya di AS pula dengan bikin tarif import kecil atau tidak ada tarif sama sekali. Terang-terangan menghancurkan, tetapi tidak ada yang tahu selama ini sebelum Trump maju ke Gedung Putih!

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.