Kolom Asaaro Lahagu: ERICK THOHIR RESMI KETUM SUKSES JOKOWI (Sandiaga Kecut, Jenderal Gatot Terbuang)

2
1211

Penunjukkan Erick Thohir sebagai ketua tim sukses Jokowi adalah pilihan tepat. Sepak terjang Erick Thohir dalam menyelenggarakan Asian Games, telah membuktikan etos hebat kerjanya. Ia bukan saja mampu menyelenggarakan opening ceremony kelas dunia, tetapi juga mampu mengorbitkan Jokowi menjadi ikon Asian Games.

Nama Erick Thohir memang membuat publik ternganga.

Sepak terjangnya yang membeli klub peraih trophy liga Champion Eropa, Inter Milan, membuat namanya berkibar. Bagaimana tidak, tak ada orang Indonesia yang berani mengambil resiko semacam itu. Saat Erick Thohir kemudian resmi mengakuisisi klub Inter Milan, munculah rasa bangga di hati rakyat Indonesia.




Erick Thohir kelahiran tahun 1970, dikenal luas di dunia usaha. Ia adalah inspirasi bisnis yang mengagumkan. Setelah ia mewarisi restoran Hanamasa dan Pronto dari ayahnya, Erick kemudian mendirikan grup media Mahaka Group. Dari sini Erick membeli harian Republika, sebuah surat kabar bernuansa Islam terbesar di Indonesia.

Setelah Republika, Erick kemudian meluncurkan Jak TV, 98,7 Gen FM, dan 101 Jak FM. Pada tahun 2011, dia bersama Anindya Bakrie menjadi co-owner dari TVOne dan Viva. Sementara itu di tahun 2014, Erick menjadi Presiden Direktur ANTV.

Setahun sebelumnya, tahun 2013, Erick membeli 70% seharga Rp 5,3 triliun saham Inter Milan dari Massimo Moratti dan menjadi Presiden klub sepak bola tersebut. Namun, tidak lama kemudian, Erick menjual sebagian sahamnya di Inter Milan kepada Suning Holding Group Co, asal China dengan untung besar.

Masuknya Erick di koalisi Jokowi memberi keuntungan besar. Erick bisa mengerahkan media yang dimilikinya untuk mempromosikan Jokowi. Bisa jadi, dengan masuknya Erick menjadi Ketumses Jokowi, maka TV One yang sebelumnya pro kampret, akan berubah menjadi cebong. Bukankah Erick adalah co-owner TV One? Bisa dibayangkan bagaimana paniknya Kubu Prabowo ketika Erick sudah resmi menjadi Ketumses Jokowi-Ma’ruf hari ini [Jumat 7/9].

Jelas Erick Thohir adalah lawan yang sepadan bagi sosok Sandiaga Uno. Strategi Prabowo yang menonjolkan sosok Sandiaga Uno, mudah dibaca oleh Kubu Jokowi. Kalau ketua tim sukses Prabowo (Djoko Santoso), sepertinya tak begitu menarik perhatian publik. Kalaupun Djoko Santoso adalah Jenderal, maka ia cukup diladeni oleh Jenderal Muldoko yang posisinya, Waketumses Jokowi.

Jika kemudian Kubu Jokowi mencari sosok yang mampu menandingi Sandiaga Uno, maka sosok Erick Thohir adalah sosok yang tepat. Erick memang belum terlihat kelihaiannya di bidang politik, namun prestasi menterengnya sudah melebihi Sandiaga. Baik Sandiaga maupun Erick, keduanya pengusaha sukses. Keduanya masih muda dan bisa mempengaruhi kaum milenial.




Bedanya, Sandiaga lebih banyak dihantui kegagalan OK OC dan DP hunian nol persennya. Prestasi Sandiaga semasa Wagub DKI nihil sama sekali. Ia hanya sukses mempertotonkan energinya lari ke balai kota atau berkompetisi renang melawan Menteri Susi. Sementara Erick sudah menunjukkan kehebatannya dengan mengelola event skala internasional Asian Games.

Jika Sandiga kemudian mengklaim dekat dengan kaum milenial, maka Erick tak kalah hebat. Bahkan Erick jauh lebih unggul jika yang disasar kaum milenial. Mengapa? Erick adalah penggemar sepak bola. Sebagai penggemar dan pemilik sebuah klub sepak bola elit, Erick jelas menjadi idola kaum penggila bola.

Bayangkan apa yang terjadi jika jutaan penggemar sepak bola di Tanah Air mau mengikuti arahan Erick Thohir yang mempromosikan Jokowi. Suara milenial akan bertambah ke Kubu Jokowi. Hal ini pasti membuat Kubu Prabowo tersenyum kecut.

Jika kemudian Sandiaga memperlihatkan kekhawatirannya dan berkoar-koar di media agar Erick tidak menerima tawaran menjadi Ketua Timses Jokowi, maka hal itu cukup beralasan. Alasannya adalah Erick merupakan ancaman besar bagi Sandiaga.

Berhadapan dengan Erick yang sudah mendunia, nyali Sandiaga langsung kecut. Tadinya ia merasa di atas angin dan memonopoli branding sosok muda yang dekat dengan emak-emak. Namun, ketika mendapat lawan yang sepadan dalam usaha menggaet kaum milenial, nyali Sandiaga langsung kecut.

Sandiga kini tidak bisa lagi mengklaim bahwa ia hanya sendirian sosok muda, pengusaha sukses dan dekat dengan kaum milenial. Erick juga bisa mengklaim hal yang sama. Jika kemudian reaksi kecut nan khawatir yang diperlihatkan Sandiaga, maka hal itu sangat OK OC.

Lalu bagaimana dengan Jenderal Gatot?

Strategi Jenderal Gatot menempatkan dirinya di Kubu Jokowi terbukti gagal total. Keputusannya untuk bermain di dua kaki sejak kasus Ahok menjadi blunder bagi karirnya sendiri. Gatot yang sejak dari awal sudah sangat yakin bahwa ia menjadi kandidat top dalam bursa Capres atau Cawapres, hanyalah mimpi.

Nasib Jenderal Gatot kini tragis. Ia bukan saja gagal dalam bursa Capres, Cawapres, tetapi ia sama sekali tidak dilirik menjadi tim sukses kubu petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin ataupun penantangnya, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jika kita analisis mengapa Gatot gagal mengorbitkan dirinya, ada beberapa kemungkinan. Pertama, Gatot terlalu ambisius saat melakukan lobi-lobi politik. Gatot tidak melihat warna partai politik yang didekatinya. Ia hantam kromo saja. Dalam strategi politik, aksi Gatot ini sulit diterima kawan maupun lawan.

Ke dua, strategi kontroversi yang dijalankan Gatot saat menjadi Panglima TNI tidak mengundang simpati. Sebagai contoh, pernyataannya yang tidak ramah terhadap kaum minoritas dan memaksa pemutaran film G 30 S/ PKI di kamp-kamp militer, mengundang kecurigaan banyak pihak.

Ke tiga, puisi Gatot yang dibaca sebagai kritik langsung yang berlebihan kepada Presiden Jokowi. Sebagai seorang bawahan Presiden Jokowi, tidak selayaknya Gatot mengkritik bosnya di hadapan publik. Apalagi ada kesan Gatot kurang menghargai Presiden Jokowi. Hal itu bisa dilihat ketika ia memutuskan secara sepihak kerja sama militer dengan Australia. Tindakan Gatot itu dianggap telah melampaui wewenangnya karena keputusan kerja sama militer ada di tangan Presiden.

Ke empat, tentu saja soal kecondongan Gatot yang dekat dengan kaum pendemo 212. Ini menimbulkan kesan, bahwa Gatot menusuk Jokowi dari belakang. Akibatnya karir Gatot diakhiri Jokowi sebelum tiba waktunya dan digantikan oleh Hadi Tjahjanto.

Kini Gatot hanya bisa merenungi nasibnya yang pengangguran. Mimpinya untuk berlaga di Pilpres 2019 hanyalah angan-angan. Sepak terjangnya dengan strategi dua kaki saat menjadi Panglima TNI, telah membunuh karirnya sendiri. Kini Gatot harus menerima fakta sebagai sosok yang terbuang, terlempar dan keluar dari arena pertandingan. Sabar, ya, Pak Gatot.

2 COMMENTS

  1. “Kini Gatot harus menerima fakta sebagai sosok yang terbuang, terlempar dan keluar dari arena pertandingan. Sabar, ya, Pak Gatot.” (AL)
    Wakkha kha . . . Pak Gatot memang harus luar biasa kesabarannya, terutama juga karena Indonesia inflasi jenderal ha ha, banyak saingan. Tetapi pak Gatot masih banyak kesempatannya, terutama dengan baca perubahan dan perkembangan dunia. Gatot sudah banyak baca ketika jadi panglima, banyak pengetahuannya tambah. Tetap masih kurang lengkap kalau mau berhasil dalam perpolitikan dunia sekarang ini.

    Kuncinya politik dunia sekarang ialah pengetahuan tentang KONTRADIKSI UTAMA dunia abad ini, artinya siapa kontra siapa, dalam percaturan dunia sekarang. Kalau ini sudah dipahami, gampang menilai peristiwa politik apa saja, termasuk yang bersifat nasional sekalipun. Karena hampir tidak ada politik penting secara nasional yang terlepas dari politik internasional, artinya tidak bisa dipisahkan dari kontradiksi utama tadi. Kontradiksi utama itu ialah pertarungan antara kepentingan global NWO yang mau menjadi tyrani global, KONTRA kepentingan nasional bangsa-bangsa dunia. INILAH KUNCINYA, untuk mengerti perkembangan dunia.

    Kalau pak Gatot menarik diri dari kerjasama militer Indonesia-Australia, apakah bisa dipisahkan dari kepentingan global neolib/NWO itu? Misalnya dari politik divide and conquernya, disini antara dia sebagai panglima TNI dan Jokowi sebagai prisiden RI? Ini adu-domba yang sangat serius dan bisa sangat mengerikan akibatnya. Juga adu domba antara dua negara, antara Indonesia dan Australia juga tidak lepas dari tujuan divide and conquer itu. Contohnya banyak di Timur Tengah.

    Kalau pak Gatot menganjurkan lagi untuk nonton film pembantaian PKI, apakah bisa dipisahkan dari politik divide and conquer neolib/NWO dalam soal memecah dunia jadi dua kubu dalam pertarungan dua ideologi sosialisme/komuniseme KONTRA kapitalisme/neoliberalisme? Soal ini bisa dilihat di web global research judul artikel:

    “Divide and Conquer: The Globalist Pathway to New World Order Tyranny”

    Dengan menganjurkan nonton film itu, efek divide and conquernya besar memang, atau diharapkan sangat besar. Tetapi yang tidak diduga sama sekali oleh Gatot maupun oleh neolib/NWO ialah kesedaran rakyat Indonesia + presidennya yang sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan kesedaran orang-orang neolib/NWO maupun pak Gatot sendiri. Buktinya kita aman-aman saja dan malah pak Gatot sendiri yang kalang kabut, ‘terbuang dan terlempar’, jualannya tak laku ke Jokowi maupun ke Prabowo. Kalau baca-baca lagi sejarah lama soal McCarthyism di AS tahun 40-50an . . . itulah dia. Barang lama memang, tentu saja tidak laku lagi sekarang.

    Baca lagi Pak, masih bisa terbaca jalan yang menunjukkan perubahan sejarah, artinya jalan yang lebih mendekati kebenaran. Jangan lupa bawa KUNCINYA tadi Pak. Salam.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.