Kolom Eko Kuntadhi: EMAK-EMAK DI SEKITAR KITA

0
489

Dua jenis emak-emak di Indonesia. Emak-emak tangguh yang terus memutar otaknya dan berusaha menyelesaikan masalah tanpa banyak mengeluh. Emak-emak jenis ini mandiri, bisa menjadi sandaran anak-anaknya. Gak bikin lakinya jadi koruptor.

Dia adalah CEO di rumah. Dia juga mengelola keuangan yang handal. Semua persoalan beres di tangannya.

Ketika harga telur sedang tidak bersahabat mereka memilih jenis makanan lain. Tempe atau pecel mungkin diolah jadi makanan enak. Dia yakin, nanti juga harga telur normal lagi. Gak masalah.

Uang belanja dari suaminya bisa diolah dengan tangkas. Jika agak mepet, dia memilih membuat kue atau goreng pisang sebagai pengganti jajan anaknya. Bisa juga ketimus. Lebih hemat dan sehat.

Kalau bayar listrik agak mahal, dia memilih untuk mematikan lampu ketika malam. Kalau duit cekak, ketimbang bela-belain ikut senam zumba yang iurannya lumayan, lebih baik bantuin si mbak ngepel. Sama saja, toh? Kalau dompetnya tebal sih, gak apa-apa. Kan bisa jadi bagus badannya.

Ada juga jenis emak-emak pengeluh. Kerjanya selalu mengeluhkan keadaan. Uang belanja berapapun selalu kurang. Bukan karena harga-harga mahal. Tetapi memang karena kemampuannya mengelola duit yang kacau balau.

Emak-emak model begini bikin kepala lakinya tujuh keliling. Uang belanja berapapun gak pernah cukup. Otaknya tidak terlatih untuk mencari jalan alternatif. Kalau anaknya minta jajan sementara duitnya sudah terpakai buat bayar arisan, ngomelnya lebih panjang dari rel kereta.

Bayar listrik mahal, dia mengeluh. Padahal saban hari tidur dengan TV menyala karena hobinya nonton sinetron, ganteng-ganteng Srimulat. Maunya kulkas 2 pintu, ketika bayar listrik melonjak, yang disalahkan pemerintah.

Kalau belanja ke tukang sayur nawarnya bisa membuat penjual masuk ICU. Beli bawang seribu, minta tambahnya dua raup. Kalau beli baju di ITC, semua model mau dilihat dan dicoba. Ujung-ujungnya gak jadi beli.

Emak-emak tangguh, biasanya lebih santai hidupnya. Harga dolar naik, ok. “Tapi harga di pasar biasa saja. Terus kenapa?”

Emak-emak pengeluh, hidupnya beringasan. Harga dolar naik, dia teriak-teriak kebakaran kutang. Merasa dunia bakal kiamat. “Kalau Presiden kita Islami kayak Erdogan, ekonomi akan stabil. Dolar gak akan naik,” pekiknya.

Jika saja dia teriak seperti itu di alun-alun Istambul, pasti mulutnya sudah dicabein sama Erdogan.

Emak-emak tangguh, mengidolakan Sri Mulyani atau Susi Pujiastuti.

Emak-emak pengeluh mengidolakan Neno Warisman atau Ratna Sarumpaet.

Emak-emak tangguh suka melihat kemesraan Jokowi dan istrinya.

Emak-emak pengeluh membanggakan keakraban Prabowo dengan kudanya.

Emak-emak tangguh suka mendongeng untuk mengantar tidur anaknya.

Emak-emak pengeluh suka mengancam kalau anaknya gak mau tidur. “Cepetan tidur, nanti diculik Kampret, loh”

Emak-emak tangguh menyanyikan nina bobok buat bayinya. Kadang juga menyenandungkan shalawat.

Emak-emak pengeluh memilih lagu Bang Toyib yang gak pulang-pulang.

“Kok, bang Toyib gak pulang-pulang. Emang dia ke mana, mak?” tanya anaknya.

“Umroh!” jawabnya ketus.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.