Kolom Asaaro Lahagu: YUSRIL IHZRA MAHENDRA BALIK BADAN (Dukung Jokowi?)

1
744

Saya memperhatikan betul gerak-gerik Prof. Yusril Ihzra Mahendra. Agar lebih membumi, saya panggil saja Bang Yusril hehe. Ke mana arah politik Bang Yusril di Pilpres 2019? Apakah Bang Yusril tetap mendukung Prabowo–Sandiaga? Apakah Bang Yusril berbalik mendukung Jokowi? Atau tetap netral, penyeimbang ala Demokrat SBY? Mari kita ulas sinyal-sinyal politik Bang Yusril, sambil seruput kopi ala Denny Siregar.

Entah apa yang kurang sama bang Yusril. Nama, sangat beken. Gelar, setinggi langit. Partai, keren amat, kombinasi bulan dan bintang.

Ketenarannya di bidang hukum tata negara, tersohor membelah bumi. Jabatan di pemerintahan, pernah mengkilap. Bila terjadi polemik hukum, pendapat Bang Yusril selalu ditunggu. Soal hoki, Bang Yusril tak kalah hebat. Di tahun 1999, nyaris menjadi presiden, namun disalip oleh Gusdur dan Megawati. Bahkan di bidang film pernah mendapat piala aktor terbaik saat memerankan Laksamana Cheng Ho. Setelah itu, Bang Yusril tetap menginginkan kursi Nomor 1 RI. Bermimpi menggapai langit: Menjadi presiden atau minimal wakil presiden. Impian itu wajar untuk sekelas Bang Yusril.

Pertanyaan saya kemudian meraung-raung keluar. Mengapa kemudian peluang Bang Yusril menjadi Capres, Cawapres setelah tahun 199, atau sekedar Cagub DKI 2016 saja, selalu kandas? Mengapa pula insting Bang Yusril setumpul insting Ahmad Dhani? Bukankah kapasitas Bang Yusril sudah kapasitas nasional? Saat memilih berada di pihak Prabowo 2014, berarti ada insting Bang Yursil seharusnya menang. Faktanya kalah, bukan? Ternyata insting seorang professor kesohor tidak berbanding lurus dengan instingnya.

Selanjutnya, hari-hari Bang Yusril semakin kalah pamor, kalah simpati, kalah menarik dengan Joko Widodo yang berkapasitas wali kota. Terakhir, kekalahan Bang Yusril di MK soal gugatan pembubaran HTI. Memang beda saat berhadapan dengan SBY. Jejak Bang Yusril moncreng. Nyaris selalu mengalahkan SBY ketika menggugat kebijakannya di MK atau di PTUN.

Lalu, di era ndeso Jokowi, pamor Bang Yusril meredup. Bahkan untuk pertama kalinya, saya merasa haru saat Bang Yusril mengatakan bahwa koalisi keummatan hanya fatamorgana yang tidak pernah di alam nyata. Ini komentar paling jujur yang saya dengar dari Bang Yusril. Dan memang demikian. Terbukti koalisi keummatan tak pernah ada.

Keharuan saya semakin menjadi-jadi ketika Bang Yusril mengaku difitnah oleh Prabowo. Prabowo mengatakan kesulitan menghubungi Yusril karena selalu berada di luar negeri. Tanpa restu Bang Yusril, nama PBB dibawa-bawa tanpa diajak bicara. Lebih sakit lagi, ketika nama Bang Yusril difitnah, tak ada satu pun kader PBB yang membela. Mengapa hal-hal itu terjadi, Bang Yusril?

Mungkin ini penyebabnya. Bang Yusril terlalu percaya diri. Ambisius, memandang remeh orang lain, cenderung membela yang bayar, tak mengambil momentum, menjadi oposisi yang hantam kromo dan selalu mencari celah menyalahkan pihak lain.

Selama 4 tahun pemerintahan Jokowi, tak satu pun pujian yang terlontar dari mulut Bang Yusril. Yang nampak di mata Bang Yusril adalah kelemahan Jokowi. Ah, jangan-jangan Jokowi itu memang tak ada benarnya dalam kacamata Bang Yusril. Apa iya memang demikian?

Ah, jangan-jangan karena Bang Yusril bacaannya ensiklopedia hukum dan filsafat, membaca berita di langit mars, dan nongkrong di luar negeri 24 jam. Sampai-sampai tidak pernah mendengar Jokowi membubarkan Petral, menenggelamkan kapal maling, menyamakan harga BBM di Papua, membangun infrastruktur dan sebagainya.

Herannya, saat HTI dibubarkan, Bang Yusril tiba-tiba muncul. Mirip di era Ahok, Bang Yusril tiba-tiba muncul di daerah akuarium Jakarta Utara. Katanya membela yang tergusur. Bahkan muncul di pasar dengan celana pendek berbaju kaus Micky Mouse dan makan di Warteg. Tetapi, semuanya hanya fatamorgana juga Bang Yusril. Jejak pencitraan itu lenyap dimakan waktu.

Saatnya mungkin merubah diri, Bang Yusril. Untuk kebaikan bangsa dan negara. Membela HTI, yang ingin merubah Pancasila menjadi khilafah, sangat mengerikan. Apa jadinya negeri ini jika dipimpin oleh kaum pemuja khilafah? Bisa hancur negeri ini.

Bang Yusril sudah saatnya mengoreksi diri dengan rendah hati. Kembali membumi, kembali ke habitat menjadi manusia yang sudah selesai dengan dirinya. Saatnya membela yang benar, bukan membela yang bayar. Saatnya membela yang bekerja bukan yang asyik bergagasan. Saatnya membela yang optimis bukan yang pesimis.

Membaca sinyal Bang Yusril mulai lurus dan membumi, saya ikut senang. Saat mengomentari pengakuan Andi Arief terkait sogokan Sandiaga kepada PKS dan PAN masing-masing Rp 500 miliar, saya lihat Bang Yusril sudah benar.

Menurut Bang Yusril, dugaan pemberian mahar politik yang dilakukan oleh Sandiaga Uno untuk Parpol pendukung dapat dibawa ke ranah hukum. Hal itu sudah jadi persoalan hukum, bukan sekadar rumor politik. Dana kampanye diberikan ke siapa, jumlahnya berapa, ini sudah jadi masalah hukum.

Lalu, soal meme yang tersebar luas meminta Jokowi harus mundur dari kursi Presiden, komentar Bang Yusril juga sudah benar. Menurut Bang Yusril meme Jokowi harus mundur berbahaya bagi NKRI. Presiden petahana Joko Widodo atau siapapun demi kepentingan bangsa dan negara tidak perlu berhenti atau mengajukan cuti.

Apakah sinyal-sinyal di atas, sudah bisa dikatakan Bang Yusril mendukung Jokowi? Sama sekali tidak. Sinyal yang saya temukan bahwa Bang Yusril lebih condong mendukung Jokowi hanya dari ucapan sekilas Bang Yusril bahwa PBB lebih sreg mendukung yang ada pasangan ulamanya beberapa waktu lalu. Apakah yang dimaksud Sandiaga, santri post Islamisme? Ataukah Ma’ruf Amin, ulama tulen? Terserah Bang Yusril.

Namun, jika Bang Yusril terus meluruskan yang bengkok, mendukung tegaknya NKRI, Pancasila, Pemerintah yang sah, membangun optmis ke depan, ikut memberantas para mafia, membela pemimpin yang benar, maka hal itu sudah bisa dikatakan mendukung Jokowi.

Memberikan dukungan optimis kepada Jokowi untuk membangun bangsa ini ke depan, jauh lebih berguna dan bermanfaat ketimbang nyinyir dan larut terus dalam nawaduka mengerikan ala Sandiaga dan menebar ketakutan ala Prabowo.

Saya sarankan kepada Bang Yusril, ketimbang menjadi partai penyeimbang atau netral yang dianggap banci, lebih baik menyatakan dukungan kepada Jokowi. Itu bisa membuat Kubu Prabowo yang telah memfitnah Bang Yusril semakin terkencing-kencing di celana.

Advertisements

1 COMMENT

  1. Perubahan, perubahan, perubahan . . . betul memang hanya itulah yang tetap tidak berubah he he he . . .
    Kalau kita lihat semua perubahan dalam politik Indonesia belakangan ini sejak Jokowi jadi presiden . . . wow bagaimana nekadnnya grup agamis memanfaatkan ‘kebangkitannya’ dan bagiamana sekarang ‘terkuburnya’ kebangkitan itu. Perubahan tadi, bagaimana bang yusril’ gairahnya dan gagahnya bersama Prabowo dan Rizieq merayakan kebangkitan itu dan bagaimana jatuhnya semua kegairahan ‘lama’ itu sekarang ini, hanya dalam jarak waktu tidak lebih dari 2 tahun. Itulah perubahan . . . dan yang arahnya sudah pasti! Secara nasional maupun internasional ialah kehancuran dan bakal lenyapnya ‘kaum gelap’ internasional (neolib/NWO) yang orang nasionalist Trump namakan ‘pengecut dan tidak bermoral’. Kelompok gelap kaum ‘pengecut dan tidak bermoral ini’ sudah berkuasa dan ‘sudah menang’ selama 170 tahun, artinya sejak penipuan besar Marx 1848. Marx disewa oleh bankir rentenir internasional Rothschild untuk ngarang marxisme untuk menipu kaum intelektual dan kaum proletar, dan dengan koran-korannya (MSM) yang mendominasi dunia selama 170 tahun itu telah berhasil menina bobokkan manusia dunia atau bikin mind control dan brainwashing dan yang pengaruhnya masih mendalam juga sampai sekarang. Cobalah baca-baca soal kebangkrutan dolar belakangan ini, soal mana masih sangat dirahasiakan oleh MSM kaum gelap itu, sehingga rakyat Amerika masih belum juga mengerti kalau dolar sudah berada di ujung tanduk. Dolar sudah tidak dipakai oleh Rusia dan China dalam dagang bilateralnya. Begitu juga dengan Jepang. Tetapi mereka memakai mata uang masing-masing negerinya. Begitu juga sudah banyak negeri minyak tak pakai dolar lagi dalam transaksi minyaknya. ‘Petrolium Dolar’ bakal tinggal nama saja. Semakin banyak perdagangan bilateral tak pakai dolar lagi semakin tidak berati lagi dolar sebagai alat transaksi perdagangan. Tetapi mengapa MSM AS tidak mau memberitakan soal ini? Itulah tradisi mind control dan brainwashing 170 tahun itu.
    Contoh lain lagi cobalah lihat apa yang tidak diberitakan tentang Kadafi Libya selama dia berkuasa dan mengapa dia dsingkirkana dan dibunuh.
    Artikel tentang 10 things that they dont want you to know. Tidak ada pemimpin dunia yang telah berusaha bikin bahagia rakyatnya seperti keberhasilan Libya Kadaffi. Tidak ada yang tahu berita ini. Itulah bagian dari mind control 170 tahun itu.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.