Uniknya Taman Nasional Leuser Seksi Bahorok Tangani Konflik Harimau

0
552

Laporan Wartawan Sora Sirulo SALMEN SEMBIRING dari Bahorok (Langkat)

 

Konflik manusia dan satwa liar terus saja terjadi. Deforestasi dan perluasan perkebunan juga menjadi penyebab utama peningkatan konflik. Sepanjang tahun 2001 – 2016, tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau. Korban tidak hanya kerugian materi manusia melainkan juga menjadi imbas bagi kelangsungan hidup harimau itu sendiri. Data Kementerian Lingkungan Hidup (LHK) dan GEF Tiger memperlihatkan, dari kasus yang tercatat, puluhan manusia meninggal dunia dan terluka. Hal yang sama juga terjadi dengan harimau Sumatera.

Setidaknya 130 individu harimau mati akibat konflik yang terjadi.




Sejauh ini, belum ada solusi tunggal penanganan konflik manusia dan harimau. Hanya saja kementerian LHK memberikan peraturan sebagai panduan penanganan konflik satwa liar dan manusia seperti yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48 Tahun 2008. Sebagian masyarakat memiliki cara tersendiri menghindari terjadinya konflik dengan harimau. Namun, ketika konflik terjadi, maka ancaman terhadap kelangsungan hidup harimau semakin tinggi.

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) khususnya wilayah Stabat atau Langkat merupakan habitat bagi Panthera Tigris Sumatrae. Perluasan perkebunan sawit di Langkat menjadikan habitat harimau Sumatera menjadi cikal bakal permasalahan ditambah dengan perburuan mangsa harimau. Seperti yang terjadi akhir–akhir ini di Bahorok dimana harimau turun memangsa ternak sapi warga [Jumat 7/9].

ternak korban mangsa harimau

Ada hal unik dalam penanganan konflik di Desa Timbang Lawan ini (Kecamatan Bahorok). Biasanya, ketika harimau memangsa korbannya, warga langsung mengambil ternak korban, lalu harimaunya digiring kembali ke hutan. Atau, ketika bernasib buruk, bisa saja warga setempat membalasnya dengan membunuh harimau. Lain halnya dengan yang terjadi kali ini. Dengan pendekatan, petugas dan kesadaran warga masyarakat, ternak korban dibiarkan untuk dimangsa sampai habis.

“Hal ini merupakan hal baru di masyarakat kita. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk konservasi harimau,” ujar Palber Turnip yang merupakan Kepala Seksi Wilayah VI Bahorok.




Setelah mangsa habis dimakan harimau, petugas bersama masyarakat melakukan penggiringan harimau kembali ke kawasan hutan menggunakan bunyi–bunyian. Selanjutnya pemilik ternak yang menjadi korban diberikan bantukan berupa ganti rugi ternak yang dimangsa harimau.

“Pemberian santunan ini dilakukan untuk memberi kesan bagi masyarakat bahwa pihak pemerintah juga memperhatikan masyarakat tidak melulu melindungi satwa saja,” tambah Turnip.

Santunan diterima langsung oleh pemilik ternak (J) yang diserahkan oleh petugas Taman Nasional Gunung Leuser.

Harimau Sumatra

Selama ini yang terjadi di masyarakat ketika terjadi konflik, mereka berusaha membunuh harimau. Mereka tanpa sadar bahwa harimau yang mereka bunuh bisa saja bukan harimau yang memangsa ternak mereka. Ini merupakan hal lumrah bagi masyarakat sebagai bentuk rasa balas dendam atas kerugian mereka. Dengan adanya santunan, diharapkan paradigma masyarakat berubah dari balas dendam menjadi “welcome” dengan kehadiran Si Raja Rimba. Tentunya perlu terus diberi penyuluhan bagi masyarakat untuk meminimalisir korban konflik bagi materi maupun harimau itu sendiri.




Ini tentunya tidak bisa terlepas dari “good will” dari banyak pihak. Pihak Kementerian LHK, mitra–mitra LSM, pemerintahan daerah dan masyarakat harus bersinergi dalam penanggulangan korban konflik yang ada ke depannya. Turnip juga berterimakasih kepada mitra yang turut mendukung dalam penanganan konflik yang terjadi di Bahorok ini, baik YHUA, WCS, Muspika Bahorok dan masyarakat setempat.

“Kerja sama berbagai pihak yang sudah terjalin selama ini diharapkan menjadi salah satu jalan keluar di masa mendatang ketika terjadi konflik lagi,” tambahnya.

Penyerahan santunan kepada pemilik ternak oleh petugas.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.