Kolom Asaaro Lahagu: PEMBALASAN DENDAM SBY KEPADA PRABOWO

1
766

SBY adalah Demokrat dan Demokrat adalah SBY. Lewat Demokrat, SBY pernah melambung tinggi, menjadi orang nomor satu di Republik ini. Berkat Demokrat pula, SBY mampu menekuk 2 kali Megawati. Tak heran jika dendam Megawati selalu membara kepada SBY. Megawati pun sudah menstempel SBY sebagai pengkhianat nomor satu dalam hidupnya.

Hingga kini, Megawati tak pernah bisa menerima pengkhianatan SBY itu. Dendam Megawati kepada SBY tidak pernah sembuh selagi SBY masih hidup. Megawati, biarpun hancur lebur, sampai kiamat tak pernah mau dekat-dekat dengan SBY. Itulah prinsip Megawati yang kini mulai dirasakan efeknya oleh SBY.




Pasca lengser dari kekuasaan, SBY merasakah sebuah kehilangan yang amat sangat, yakni kekuasaan. Manisnya kekuasaan telah membekas dalam jiwanya. Hiburan dengan mencaplok partainya sendiri dari genggaman Anas Urbaningrum, jelas tak cukup. SBY tetap haus kembali berkuasa. Nafsu berkuasanya ia lampiaskan kepada puteranya, Agus. Aguspun dipaksa pensiun dari militer dan didorong menjadi Cagub DKI, tetapi gagal.

Pasca gagal mengorbitkan puteranya, SBY berbalik mendekati Jokowi. Jokowi yang ikhlas menerima dengan tangan terbuka SBY. Keduanya bertemu dan menyeruput kopi di istana. Cuitan-cuitan SBY di Twitter sesudahnya langsung berkurang dan lebih banyak mendukung Jokowi. Hubungan keduanyapun semakin mesra. Buah kemesraan itu terlihat ketika pihak Jokowi sudah menjanjikan kursi menteri kepada Agus pasca Pilpres 2019.

Akan tetapi, hubungan SBY-Jokowi biarpun semanis madu, hanyalah di kulit luar. Megawati tetap menghantui SBY jika berkoalisi dengan Jokowi. Tak heran jika SBY kemudian mundur. Saat mundur, SBY tanpa malu mengakui bahwa selama setahun, ia telah berusaha melebur dalam koalisi Jokowi. Namun terganjal dengan duri tajam Megawati.

Tak bisa menembus dendam lapis baja Megawati, SBY mencari tautan hati lain. Menjelang pendaftaran Capres di KPU, SBY mencoba membentuk koalisi ke tiga. Dengan segala daya upaya, SBY menarik lebih keras Muhaimin PKB, tetapi Gagal. Pun dengan Golkar Airlangga, dibujuk dengan rayuan maut. Toh tetap gagal. Kepiawaian Jokowi untuk meramu keutuhan koalisinya, mampu mementalkan impian busuk SBY.

Cinta SBY kemudian berlabuh kepada Prabowo. Dengan ikatan batin ‘jenderal militer’, SBY mencoba memanfaatkan celah kelemahan Prabowo yang sedang diayun-ayun PKS-PAN. Gayungpun bersambut. Prabowo riang gembira, melompat tinggi atas tawaran SBY berkoalisi. Pertemuan-pertemuan pun dilakukan.

SBY mendukung Prabowo sebagai Capres. Tetapi dukugan itu berekor. Ia ingin Agus, putera tercintanya, dipilih Prabowo menjadi Cawapres. Lewat ikon Prabowo, Gerindra diharapkan tetap berkibar. Hal yang sama dengan Demokrat. Lewat ikon Agus Harimurti, Demokrat kembali melambung. Kedua partai jenderal itu tetap eksis dan berjaya.

Akan tetapi, nasib berkata lain. Hubungan SBY-Prabowo dirusak dengan serangan kilat oleh Sandiaga. Lewat uang sogokan Rp 500 miliar, Sandiaga berhasil membuat PKS-PAN bertekuk lutut. Dengan dana melimpah dari Sandiaga, Prabowo bermanufer. Ia mengkhianati kesepakatan dengan SBY. Agus pun gagal menjadi Cawapres, menyisakan lubang menganga di hati SBY.

Hati SBY teriris-iris. Harga dirinya terinjak-injak. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Ia telah berulang kali menyatakan dukungan kepada Prabowo dan menyerahkan sepenuhnya soal Cawapresnya kepada Prabowo. SBY mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa menandatangani surat dukungan dengan hati hancur lebur.

Saat menandatangai surat dukungan kepada Prabowo, saya melihat muka SBY sedang menahan dendam membara. Matanya tajam ke depan. Ia menggertakkan gigi. Namun, ia berusaha menahannya. Ia kali ini benar-benar disakiti. Jenderal yang pernah dipecatnya, kini telah mengkhianati dirinya.

Ketika kader Demokrat membelot dan menyatakan dukungannya kepada Jokowi, SBY sama sekali tidak bereaksi. Dukungan kadernya kepada Jokowi dari Gubernur Papua (Lukas Enembe) dan kepala daerah lain, tak dikecam SBY. SBY seolah bungkam. Lewat kaki tangannya di Demokrat, SBY mengesahkan sikap menduanya dengan memberikan kelonggaran atau dispensasi kepada kader-kader Demokrat yang memberikan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Lazimnya ketika kader membelot, maka langsung dipecat dari partai. Pembelot dianggap sebagai pengkhianat. Namun, kebijakan SBY berkata lain. Ia tidak kecewa. Bahkan ia memberi angin kepada kader-kader yang membelot. Apa yang sedang terjadi dengan SBY? Mengapa ia menempuh kebijakan yang tidak lazim?

Saat ini SBY sudah paham bahwa nasib tragis Demokrat sudah di depan mata. Membelotnya kader-kadernya dan tak lagi manut kepada dirinya, itu karena kesalahan SBY sendiri. SBY sadar bahwa ia sudah mengambil suatu kebijakan blunder dengan mendukung Prabowo. Padahal kader-kader Demokrat sangat menginginkan SBY mendukung Jokowi.

Bagi SBY, tak ada gunanya menghukum kadernya yang membelot. Dihukum atau tidak dihukum, gelombang pembelotan kader Demokrat tak bisa dihalangi. Para kader Demokrat sudah tidak yakin akan kejayaan Demokrat ke depannya. Maka SBY tidak punya pilihan lain selain membiarkan kadernya mencari selamat sendiri-sendiri.

Hilangnya kesempatan Agus menjadi Cawapres Prabowo, telah memukul jiwa raga SBY. Maka jalan satu-satunya untu mengobati sakit hatinya adalah dengan melakukan pembalasan dendam kepada Prabowo. Demokrat ingin membalas Prabowo atas pengkhianatannya.

Ketidakseriusan Demokrat untuk mendukung koalisi Prabowo nampak sekali pada pernyataan para elit Demokrat. Mereka mendukung Prabowo namun tidak mendukung Sandiaga. Ini jelas ngawur dan tidak diterima akal sehat.

Tidak seriusnya Demokrat mendukung Prabowo, semakin terlihat saat SBY tidak menghadiri rapat para ketua umum partai pendukung Prabowo 7 September 2018 lalu. Bahkan SBY terkesan dengan sengaja mengadakan rapat pada waktu yang sama, demi menghindari undangan rapat dari Prabowo.

Nampaknya SBY sekarang sedang melakukan pembalasan dendam kepada Prabowo. SBY mungkin sudah berhitung soal kehancuran Demokrat. Namun SBY tidak mau hancur sendiri. Ia mau hancur dan tenggelam bersama Prabowo. Itulah pembalasan dendamnya. Begitulah kura-kura.

1 COMMENT

  1. Berbagai dendam dikalangan pemimpin bangsa Indonesia (kolom AL).
    Antara Megawati dan SBY, SBY dan Prabowo, Prabowo dan Jokowi. Nuansa dendam-dendam ini bisa kita ikuti di Indonesia terutama sekali dalam bulan-bulan terakhir menjelang pilpres yang akan datang ini.

    “the taste of revenge is wonderful”. . . ha ha . . . demi kepentingan nasional Indonesia? Ah tidaklah . . . karena ini adalah penanganan yang berat sebelah antara kepentingan peroragan kontra kepentingan bangsa atau kepentingan nasional NKRI.

    Tetapi siapakah gerangan yang bisa menangani kontradiksi antara dua kepentingan ini sehingga tidak berat sebelah atau seimbang?
    Wow . . . pertanyaan berat.

    Kelebihan dan kehebatan pak Jokowi dalam soal dendam ini ialah dia bisa mengutamakan atau menyisihkan energinya demi kepentingan bangsa, kepentingan nasional bangsa Indonesia. Diluar itu dia bisa katakan ‘rapopo’, dalam kenyataan dan dalam kehidupannya sehari-hari. Luar biasa memang pemimpin satu ini . . tetapi kita baru mengerti setelah hampir 4 tahun kepemimpinannya. Mari kita ingat pak Jokowi dalam soal dendam ini untuk selama-lamanya. Dikalangan pemimpin kita hanya beliaulah yang bisa ditunjuk sebagai contoh yang luar biasa dalam soal dendam ini.

    Dendam lama orang-orang anti komunis dilampiaskan 1965. Disini juga bukan untuk kepentingan bangsa, tetapi untuk kepentingan orang luar yang sekarang kita namai kum neolib/NWO yang sengaja mengadu domba demi jalan mulus ke SDA yang kaya itu. SDA kita hampir habis dan setelah triliunan dolar mengalir ke kantung orang-orang neolib/NWO itu, dan Soehartopun sudah jadi tua, kemudian mati, tetapi nation Indonesia semakin muda dan tumbuh membesar dan lebih pandai. Dan dalam abad 21 telah berhasil menyimpulkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan masa laliu, terutama dari segi PENGETAHUAN. Soal mana yang selama ini TERTUTUP akibat brainswashing dan mind control yang sudah berumur 170 tahun sejak Manifesto Partai Komunis Marx 1848. Jadi tahun ini genap 170 tahun pembodohan kita itu. Tetapi bukan hanya kita, seluruh rakyat dunia. Pembusukan otak ini (mind control dan brainwashing) setelah tiba era internet, lama-lama tertelanjangi dan publik dunia pun semakin mengerti soal pembusukan otak yang sudah sekian lama itu.

    Dalam soa pembusukan otak ini banyak juga dendam bisa dikemukakan. Dan dendam disini bukan untuk kepentingan nasional satu bangsa tetapi untuk kepentingan kemanusiaan dunia. Ambil contoh dendam Edward Snowden atau Lassange dan banyak lainnya yang mengikuti jejak kedua orang perintis ini. Snowden bilang demi kemanusiaan dia menghianati majikan lamanya, karena dia sudah tahu sungguh apa yang dia lakukan selama ini bertentangan sangat dengan kemansiaan yang dia cita-citakan sendiri juga. Pembalas dendam lainnya ialah John Perkins, yang ikut aktif sebagai anggota EHM (Economic Hit Men), dimana pengakuannya sangat memillukan dan juga memancing dendam. Dendam Nasional Bangsa Bangsa Dunia atas perlakuan yang sangat tidak berperikemanusiaan
    oleh majikan John Perkins. Dan inilah yang sekarang menjadi KONTRADIKSI UTAMA dunia, yaitu perjuangan kepentingan nasional nation-nation dunia KONTRA kepentingan global neolib/NWO yang mau merampok SDA dan menguasai pemerintahannya, yaitu kekuatan Greed and Power yang sudah bercokol teguh sejak dibentuknya Manifesto Komunis Marx itu.

    The taste of revenge is wonderful. Disini untuk kepentingan nasional bangsa-bangsa dunia, tetapi juga untuk KEMANUSIAAN DUNIA.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.