Kolom Nisa Alwis: FASHION STATEMENT

1
478

Yang menghangatkan hati adalah melihat teman-teman bersemangat melakukan gerakan kembali ke jati diri.

Di tengah krisis identitas yang meluas akibat Budaya Nusantara banyak dilucuti oleh nilai-nilai luar. Mereka sepenuh cinta memakai lagi baju tradisional lama. Semisal kebaya atau baju kurung dengan jarit, batik atau kain tenun, jumputan, dan lainnya.

Resmi bisa, santai sehari-hari juga bisa. Tidak harus mahal dan mewah. Dengan sangat sederhana pun sudah berseni penuh warna indah. Apapun agamamu, apapun etnismu, semua mengenali dan tahu.

Perempuan Indonesia nan anggun dan ayu seperti para ibu dan nenek kita dahulu…

1 COMMENT

  1. Tulisan singkat tetapi menggembirakan dan ikut bergairah membesarkan jati diri bangsa kita yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang lain, atau siapapun yang lain. Tentu saja kitapun menghormati dan menghargai semua pakaian, kultur dan budaya bangsa lain, termasuk bangsa Arab. Tetapi tidak perlu berjubah atau berjenggot panjang di negeri kita sendiri untuk menghargai kultur lain itu, sama juga orang Arab tidak perlu pakai ‘uis nipes’ dan tudung Karo di Arab karena bermaksud menghargai tradisi pakaian adat Karo salah satu suku bangsa Binneka Tunggal Ika itu, walaupun bisa terjadi pada hari-hari istimewa tertentu. Jadi berlaku saling menghormati dan saling menghargai kultur dan budaya dengan semua bangsa dan suku bangsa pada tempatnya. Itulah jati diri dan penghargaan terhadap jati diri semua suku dan semua bangsa di dunia.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.