Kolom Eko Kuntadhi: USULAN PEMBODOHAN DEBAT CAPRES

1
388

Ketika Jokowi pidato di World Ecomic Forum ASEAN di Hanoi, dunia terpukau. Analoginya yang sederhana soal Thanos mampu menyodorkan perspektif optimis sekaligus menawarkan basis moral bagaimana ekonomi dunia ini seharusnya dihela. Dunia mengapresiasi. Dunia seperti disadarkan bahaya niat jahat Thanos yang ingin memusnahkan separuh dunia untuk merebut kekayaanya.

Pasti Erdogan yang sekarang jadi korban Thanos juga merasa dibela. Merasa kepentingan Turki disuarakan oleh seorang Jokowi.

Jokowi, seperti Soekarno, tampil membawa Indonesia untuk menyuarakan makna baru bagi kehidupan dunia. Bahkan pidato itu seperti sebuah perlawanan pada keserakahan negara adikuasa yang kebijakannya bisa menghancurkan ekonomi negara lain. Mereka seperti Thanos, yang hendak menghancurkan separuh penduduk dunia.




Bedanya, jika Soekarno selalu tampil berapi-api dan penuh vitalitas, Jokowi tampil dengan santai. Dengan bahasa Inggris beraksen Jawa. Soal aksen, setiap daerah punya aksen sendiri-sendiri. Aksen Inggris Singapur beda dengan aksen orang India yang sama-sama ngomong English. Bahkan aksen British beda dengan aksen Amerika. So what?

Dengan cara itukah Jokowi membawa kisah Marvel Studios sebagai analogi ke panggung ekonomi dunia. Sambil diselingi guyonan. Segar.

Sebuah cara komunikasi yang efektif dan asyik.

Sementara di Indonesia, ada orang yang sibuk menganjurkan debat Capres dengan Bahasa Inggris. Maksudnya mau menunjukan Capresnya jago Bahasa Inggris gitu? Atau cuma mau pamer cas-cis-cu?

Bukan. Mereka tahu, gak mungkin KPU menggelar debat Capres dalam Bahasa Inggris. Itu melanggar UU kita. Sebab debat Capres adalah forum resmi nasional. UU mewajibkan menggunakan bahasa mengantar Bahasa Indonesia.




Terus, kenapa mereka mengusulkan sesuatu yang pasti tertolak? Tujuannya untuk membuat image Jokowi gak mampu berbahasa Inggris. Cuma itu saja tujuan usulan konyol tersebut.

Usukan mereka sama seperti orang yang minta Presiden mundur karena sudah jadi Capres. Padahal UU tidak membuka ruang untuk Presiden mundur. Wong, negara ini bersistem Presidential.

Sebagai orang normal, kita tahu usulan-usulan itu adalah pembodohan. Tapi mau diapain lagi? Sasaran mereka memang untuk menarik perhatian orang-orang bodoh yang mudah dikelabui.

“Mas, orang bodoh juga berguna apabila dimanfaatkan sesuai dengan kebodohannya,” ujar Abu Kumkum.

Saya terperanjat. Pedagang minyak telon oplosan ini, boleh juga. “Maksudnya, apa tuh, Kum?” saya berusaha memancing.

“Mbuh!”












1 COMMENT

  1. “orang bodoh juga berguna apabila dimanfaatkan sesuai dengan kebodohannya,”
    Banyak sekali pemikiran yang menggugah dengan kalimat ini. Memanfaatkan orang bodoh. . . wow.
    Pertama ialah usaha besar-besaran dan mendunia MEMBODOHI MANUSIA. Atau apa yang sekarang terkenal dengan istilah MIND CONTROL dan BRAINWASHING. Usaha ini genap 170 tahun hari ini sejak dibentuknya MANIFESTO PARTAI KOMUNIS MARX. Yang paling utama dikatakan disini ialah terbentuknya pembagian manusia menjadi ‘kiri dan kanan’. Pembagian ini sampai sekarang masih diusahakan untuk dipakai terus karena sudah semakin ditelanjangi, perubahannya ke istilah globalis kontra nasionalis. Kontradiksi Utama dunia sudah berubah dari ‘kiri’ kontra ‘kanan’ menjadi ‘globalisme’ KONTRA ‘nasionalisme’.

    Ini bahkan ditandaskan oleh Dalai Lama ketika berkunjung ke Swedia belakangan. ‘Benua Eropah adalah milik orang Eropah’ katanya. Gerakan refugees yang digerakkan oleh orang-orang neolib/globalis jelas hanya mengacau membebankan beban ekonomi dan finansial bagi banyak negara eropah, dan yang utama ialah usaha melenyapkan arti nasional bagi semua nation-nation eropah. Tetapi sebaliknya juga telah mendorong secara pesar-besaran gerakan nasional dan munculnya partai-partai nasional di Eropah, terlihat semakin besar tambah terus menerus. Perjuangan demi kepentingan nasional tiap bangsa Eropah menentang kepentingan global neolib semakin nyata bagi semua, tetapi tidak diberitakan oleh MSM karena soal mind kontrol tadi, membodohi yang bodoh dan memanfaatkan yang bodoh.

    Salah satu kepentingan nasional yang harus diperjuangkan oleh bangsa-bangsa Eropah ialah MENCERDASKAN RAKYATNYA, bukan membodohinya. Mendorong tiap orang supaya berpikir kritis menilai tiap soal, bukan di mind control atau di brainwashing sehingga gampang dikendalikan.

    Mengejek Jokowi karena logat Jawanya dalam berbahasa Inggris, sama saja dengan mengejek seorang Australia dengan logatnya sendiri berbahasa Indonesia atau berbahasa Jawa. Mestinya kan dipuji bukan di ejek. Kalau orang Inggris bisa pakai bahasa Indonesia dengan logat Indonesia atau Jawa umumnya kalau dia lahir dan dibesarkan di Indonesia atau di Jawa. Itulah pencerminan kultur dan kehidupan. Jokowi tidak lahir di Inggris dan tidak dibesarkan disana, tetapi di Jawa sehingga bahasa Indonesianyapun ngejawa (logat jawa). Itulah KEINDAHANNYA, keindahan Bhinneka Tunggal Ika!
    Dimana kita bisa mendapatkan KEINDAHAN Bhinneka Tunggal Ika kalau bukan di INDONESIA?

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.