Kolom M.U. Ginting: GLOBALISME KONTRA NASIONALISME

0
386

“Orang bodoh juga berguna apabila dimanfaatkan sesuai dengan kebodohannya,” demikian sebuah kutipan dari Kolom Eko Kuntadhi: USULAN PEMBODOHAN DEBAT CAPRES.

Lengkapnya lihat di SINI.

Banyak sekali pemikiran yang menggugah dengan kalimat ini. Memanfaatkan orang bodoh. . . wow. Pertama ialah usaha besar-besaran dan mendunia MEMBODOHI MANUSIA. Atau apa yang sekarang terkenal dengan istilah MIND CONTROL dan BRAINWASHING. Usaha ini genap 170 tahun hari ini [Jumat 14/9]. Ini terjadi sejak dibentuknya MANIFESTO PARTAI KOMUNIS MARX. Yang paling utama dikatakan di sini ialah terbentuknya pembagian manusia menjadi ‘kiri dan kanan’. Pembagian ini sampai sekarang masih diusahakan untuk dipakai terus karena sudah semakin ditelanjangi. Perubahannya ke istilah globalis kontra nasionalis.

Kontradiksi utama dunia sudah berubah dari ‘kiri’ kontra ‘kanan’ menjadi ‘globalisme’ KONTRA ‘nasionalisme’.

Ini bahkan ditandaskan oleh Dalai Lama ketika berkunjung ke Swedia beberapa hari lalu. “Benua Eropah adalah milik orang Eropah,” katanya. Gerakan refugees yang digerakkan oleh orang-orang neolib/ globalis jelas hanya mengacau, memberi beban ekonomi dan finansial bagi banyak negara Eropah. Dan, yang utama ialah, usaha melenyapkan arti nasional bagi semua nation-nation Eropah.

Tetapi, sebaliknya juga, telah mendorong secara pesar-besaran gerakan nasional dan munculnya partai-partai nasional di Eropah sehingga semakin besar dan bertambah terus menerus. Perjuangan demi kepentingan nasional tiap bangsa Eropah menentang kepentingan global neolib semakin nyata bagi semua orang, tetapi tidak diberitakan oleh MSM (Main Stream Media) karena soal mind kontrol tadi; membodohi yang bodoh dan memanfaatkan yang bodoh.

Salah satu kepentingan nasional yang harus diperjuangkan oleh bangsa-bangsa Eropah ialah MENCERDASKAN RAKYATNYA, bukan membodohinya. Mendorong tiap orang supaya berpikir kritis menilai tiap soal, bukan di mind control atau di brainwashing sehingga gampang dikendalikan.

Mengejek Jokowi, karena logat Jawanya dalam berbahasa Inggris, sama saja dengan mengejek seorang Australia dengan logatnya sendiri berbahasa Indonesia atau berbahasa Jawa. Mestinya kan dipuji bukan diejek. Kalau orang Inggris bisa pakai bahasa Indonesia dengan logat Indonesia atau Jawa umumnya kalau dia lahir dan dibesarkan di Indonesia atau di Jawa. Itulah pencerminan kultur dan kehidupan.

Jokowi tidak lahir di Inggris dan tidak dibesarkan di sana, tetapi di Jawa sehingga Bahasa Indonesianyapun ngejawa (logat Jawa). Itulah KEINDAHANNYA, keindahan Bhinneka Tunggal Ika!

Dimana kita bisa mendapatkan KEINDAHAN Bhinneka Tunggal Ika kalau bukan di INDONESIA?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.